Wajah Lama Sudah tak Keruan di Kaca, Sedang Wajah Baru Belum Jua Jelas

Ada dua buku perihal penilaian subjektif terhadap individu yang paling saya ingat. Pertama, Manusia Indonesia yang dikarang oleh Mochtar Lubis. Kedua, affair oleh Seno Gumira Ajidarma. Manusia Indonesia adalah buku yang dibuat berdasarkan pidato kebudayaan Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada 1970an. Ia kurang lebih menceritakan perangai orang-orang Indonesia kala itu.

Sebagai pembuka, Lubis sudah menuliskan “Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas”. Sebuah kalimat yang mungkin membuat kita menelan ludah dan menahan muka jika kita mendengarkan langsung pidato tersebut. Bisa dibilang, tahun 1970-an adalah kondisi negara yang cukup stabil, tetapi tiba-tiba Lubis mengutarakan sentimennya yang amat menohok.

Mochtar Lubis menyebutkan manusia Indonesia adalah manusia munafik, pemalas, berjiwa feodal, senang korupsi, dan kerap mencari kambing hitam. Ia juga menceritakan sisi positif orang Indonesia-walau sebetulnya cenderung negatif-yang kemampuan artistik di atas rata-rata. Sialnya, subjektivitas Mochtar Lubis kita amini sekarang.

Seno Gumira mengerucutkan objeknya menjadi manusia ibukota. Sekitar dua puluhan cerpennya dalam buku Affair menyinggung kebiasaan-kebiasan orang Jakarta mulai dari hal-hal sederhana hingga pada hal yang kompleks. Ia mengatakan bahwa Homo Jakartanensis cenderung ke hal-hal yang artifisial untuk menenangkan diri hingga melupakan suara “Buntiilllll! Buntiiiill!” yang, katanya, bisa menenangkan. orang Jakarta merasa dirinya elit dan kosmopolit yang menganggap orang lain berada satu kasta di bawahnya. Homo Jakartanensis, selanjutnya ia juga menyebut sebagai Konsumen Agung dengan Kepribadian Sendal Jepit yang menciptakan Paranoia sehingga manusia Jakarta menjadikan hiburan bukan lagi selingan, melainkan tujuan.

Kumpulan skeptisme Seno maupun Mochtar Lubis amat menyenangkan jika dibaca ketika sedang dalam perjalanan. Seketika kita memandang sekitar sambil menertawai mereka lalu menghubungkannya dengan yang ditulis mereka berdua. Sial, apa tidak orang-orang ini belajar dari sebuah catatan sederhana? Beberapa kali pun saya merasa Mochtar dan Seno sedang mengarahkan telunjuknya ke arah saya. Sontak, membuat saya merasa “anjing!”.

Setiap membaca sebuah karya, saya pun turut membayangkan perangai sang penulis, sekalipun karya fiksi yang saya baca. Bagi saya, tulisan, apapun bentuknya, setidaknya telah mengambil bagian dari pengalaman-pengalaman yang telah dilewati. Kekecewaan pada orang lain, kemacetan di jalan, kebahagiaan diri sendiri, sampai kisah kesurupan seorang kawan mungkin saja menjadi inspirasi untuk sebuah tulisan yang panjang.

Bayangan saya, Mochtar Lubis dan Seno adalah dua orang yang setidaknya tidak melakukan apa yang ia tuliskan. Keduanya bertanggung jawab terhadap apa yang dituliskannya. Tapi, apakah demikian adanya? Saya idak tahu.

Saya membayangkan Sapardi Djoko Damono. Dalam buku-buku yang sudah ia terbitkan, berikut tutur kata manis, muncul pertanyaan dalam benak saya, apakah ia juga begitu di kehidupannya? Mungkinkah ia ternyata di luar adalah seorang lelaki yang kepalang judes dan mudah marah? lalu menjadikan tulisan dunia yang berhasil menjadi tempat menjadi diri sendiri?

Saya teringat satu fragmen dalam Rumah Kaca, Pram menuliskan bahwa setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian. Seno, Mochtar Lubis, juga Sapardi sedang terapung-apung dalam dunia yang “semau gue”. Mereka berandai-andai bagaimana idealnya sebuah dunia. Tanpa manusia munafik, tanpa manusia yang penuh riasan artifisial.

Mungkin yang saya lakukan sekarang juga demikian, saya mengapung-apung di dunia antara, merasa nyaman, tanpa manusia munafik, pemalas, berjiwa feodal, dan bersifat konsumerisme. Atau barangkali dunia antara sebetulnya adalah wajah lama yang sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas?

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s