Jeda Untuk Ibu

“mas, pesan…” saya membolak-balik menu “teh poci?” belum sempat saya memesan, pelayan memotong menyebutkan menu yang ia duga. Saya tersenyum mengiyakan.

Ada kebiasaan baru yang saya lakukan sepulang kerja, mendatangi salah satu kedai makanan di Cikini tiap menjelang akhir pekan. Suasana kedai yang tanpa musik bagi saya cukup meneduhkan. Sehingga nyaman sekali untuk sekadar membaca buku atau membuat draft tulisan. Kebiasaan ini saya ambil sebagai bentuk jeda dari rutinitas pekerjaan. Singkatnya, saya ingin merayakan diri sendiri.

Biasanya, setelah setengah buku atau draft tulisan terbuat saya baru pulang. kalau dua hal itu belum tercapai rasanya ada yang mengganjal, dan baru tenang ketika tunai. Sempat sewaktu-waktu saya belum tiba di rumah pukul 10 malam. Ponsel saya berdering, ibu menanyakan keberadaan saya, “pulang tidak?” pertanyaan itu kadang saya anggap sebagai bentuk kasih sayang, kadang saya membayangkan pedang yang sedang diasah. tanpa ditanya, ibu sebetulnya sudah tahu saya akan pulang.

“jangan malem-malem” tutupnya singkat. Saya mesam-mesam.

Saat saya kuliah dulu, jarang ibu menanyakan keberadaan saya. Padahal pulang pagi pernah saya lewati. Ibu adalah antitesis dari Eka, teman dekat saya yang paling berisik saat kami berjauhan, tapi ketika jarak itu terlipat, tiap pulang telat, pesan dari ibu yang lebih sering masuk ponsel saya.

Ibu seorang pekerja. Ia berangkat jauh lebih pagi ketimbang saya. Tapi, berbalik saat pulang kerja. Ia tiba di rumah sebelum maghrib, saya bisa pulang menjelang pindah hari. Saya jarang terlibat obrolan serius dengan ibu. Bahkan untuk masalah kuliah hingga pekerjaan. Obrolan kami hanya selewat tentang topik yang sedang ia pegang saja.

Semisal, ia sedang menonton berita di televisi. Lalu ia mengomentari berita tersebut. Baru saya turut menimpalinya. Setelah itu, sudah. Tiap beliau menanyakan keberadaan saya jika pulang larut malam, saya kerap cengar-cengir sendiri bacanya, seraya dalam hati mengungkap “ciee nyariin”.

Kadang saya suka menebak apa yang sebetulnya apa yang ada dibenak beliau. Dibalik kesehariannya sebagai pekerja, mengurus anak, tidakkah beliau menginginkan sebuah jeda? Momen di mana beliau menyisakan waktunya untuk merayakan diri sendiri. atau ia anggap itu sebagai hal klise? saya tidak pernah secara personal menanyakannya. Beberapa hal yang pernah saya tanyakan kepada ibu, beliau kerap menanggapinya dengan enteng.

Pernah satu waktu saya mengajaknya makan ramen, beliau menjawab “halah, mending makan mie nganggo (pakai) rawit.” Dengkul saya melemas. sejak itu, saya mesti berpikir dua kali mengajaknya pergi.

Adakalanya saya berharap bisa menceritakan hal-hal yang tak pernah saya utarakan kepadanya. mungkin menanyakan hal-hal tak penting semasa mudanya, seperti kesehariannya waktu SMA, cita-citanya sejak kecil, kisah cintanya sebelum bertemu ayah, dan basa basi lainnya selayaknya ada relasi yang setara antara kami berdua. Sederhananya, jeda untuk ibu.

Saya tidak punya memori penting di Cikini, tapi saya memiliki ketertarikan tersendiri tiap melintasi daerah tersebut. Deretan bangunan-bangunan tua, lampu kedai dengan pendar kuningnya menarik hati saya. ini yang membuat saya ingin mengajak seseorang untuk menikmatinya, termasuk ibu.

Perihal apa yang akan beliau utarakan nantinya, soal belakangan. Mungkin ia akan meresponnya dengan sesuatu yang buat kepala saya limbung. tidak masalah. Saya rasa ibu butuh sebuah jeda dari rutinitas kesehariannya.

Saya meyakini sesenang-senangnya seseorang dengan rutinitas, pasti ia butuh jeda. Juga ibu. Kadang saya melihatnya sebagai sebuah robot yang sudah tersistem tanpa memikirkan hal lain di luar tersebut. Jeda untuk ibu adalah Jeda yang bisa membuatnya menjadi apa yang ia pikirkan. Mungkin ia akan meracau, memesan apapun yang ia mau, atau apapun yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Sedang saya hanya melihatnya. Saya cukup bahagia tanpa harus menyelesaikan beberapa bab buku atau menyusun draft tulisan.

Post-scriptum:

Saya sedang mengikuti sebuah pelatihan selama kurang lebih seminggu. Entah kebetulan apa tidak ketika saya menulis ini, ibu mengirim pesan dan menanyakan saya sedang apa dan di mana. saya jawab seadanya sambil menggumam “kangen kan?” 😛

Advertisements

2 thoughts on “Jeda Untuk Ibu

  1. Kasih sayang ibu memang gk ada yg bisa ngalahin. Saya sering gitu walaupun sempat beberapa kali kesal sama ibu.
    Semenyebalkan apapun seorang ibu, ia pasti berbuat demikian demi anaknya hehe

    Salam kenal

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s