Sekali Lagi, Pak Zein

Sudah cukup lama saya tidak mendengar ceramah atau tausyiah dari Pak Zein. Kemarin, pada tarawih pertama beliau mengisi ceramah. Suaranya masih khas seperti dulu, berat yang mungkin disebabkan rokok kreteknya. Alisnya masih tebal sedikit menukik dari arah pelipis dahi. Bedanya, ketika ia ceramah di depan orang banyak tidak membawa antena radio sebagaimana ia mengajari anak-anak mengaji.

“saya heran sebetulnya…” mulainya “yang menganggap bulan ramadan, bulan penuh berkah bukan umat muslim. Tapi nonmuslim” seketika jemaah hening ikut heran. Ia kemudian memberi contoh “ada orang Budha ngomong sama saya, ‘ustadz, bisa gak bulan ramadan ini setahun empat kali?’” jamaah mulai sedikit tenang.

Ia lantas membuat lakon kecil memerankan dua orang yang sedang mengobrol.

“lah, kenapa emangnya bu? Kata saya” kepalanya menyerong ke kanan

Arah kepalanya ia ubah ke sebaliknya “’tiap bulan ramadan ya, stadz, dagangan saya lakunya tiga kali lipat. Tapi kalau bulan biasa, itu malah kadang gak laku’”

“tuh, ibu-ibu, bapak-bapak” ucapannya ia arahkan ke jamaah “tapi, kalo umat muslim, seringnya ngeluuh terus, harga daging naik, harga cabe naik.. betul gak, bu?” tanyanya meledek ke arah ibu-ibu. “ya kalau mahal gak perlu dibeli, bu….. bu…. Kasian bapak” disambut tawa para jamaah.

Gaya ceramah Pak Zein berbeda ketika ia berhadapan anak-anak dan orang tua. Sewaktu menjadi muridnya, beliau setidaknya dua tiga kali memarahi teman saya karena main-main saat ngaji. Jarang ada lelucon yang dikeluarkannya. Kalau ceramah, selalu diselingi dengan hafalan doa. Semisal, ia berceramah tentang perjalanan nabi. Di tengah-tengah, bisa saja ia mengajarkan doa memulai perjalanan.

“bismillahi….”

“bismillahi….” Sahut anak-anak mengikuti

Doa itu ia bagi per kalimat yang kemudian diikuti oleh anak-anak pengajian. Biasanya per kalimat ia ulang tiga kali. Kalau ada satu kalimat yang salah ucap, ia mengulangnya lebih dari tiga kali atau sampai ia merasa kalau pengucapannya sudah benar

“supaya mudah mengingatnya makanya tiga kali, ganjil. Allah senang dengan yang ganjil” jawabnya ketika seorang teman bertanya. Sebetulnya, tanpa ia mengucap “Allah senang dengan yang ganjil”, kita mengerti bahwa apa yang dilakukan berulang-ulang akan mudah diingat. Tapi, memang begitulah cara beliau mengajar. Dengan memasukkan poin-poin kecil pada tiap pertanyaan yang dilontarkan anak muridnya.

Kalau berhadapan dengan orang tua, ia sedikit berbeda. Menaikturunkan emosi jamaah, lalu menutupnya dengan lelucon singkat ala kadarnya namun mengena ke pendengarnya. Seperti cuplikan ceramah yang saya tulis di awal tulisan. Sederhananya, ceramah berhumor tersebut menyiratkan seruan untuk tidak memaksakan sesuatu dan mensyukuri apa yang ada.

“kalau kita lagi dipenuhi nafsu berbuka, ingat saja dulu rasul hanya berbuka dengan tiga buah kurma” ia mengambil jeda nafas “tapi, kalau sekarang, cuma ‘tiga’nya diambil, ‘kurma’nya diganti dengan makanan yang beda, lontong, kolak, gorengan” tawa kembali menggema di dalam masjid.

Ada satu ceramahnya yang saya ingat, saya mendengar ini sewaktu masih anak-anak.  “kita, manusia, harus berbuat baik terhadap sesama tanpa pandang bulu” antena radionya ia arahkan ke semua murid di depannya. Beliau menambahkan “jangan pernah melakukannya karena keterpaksaan atau mengharapkan balasan”.

Sambil menghitung uang di kotak amal, ia melanjutkan “kita memang pasti mati, tapi jangan melakukan kebaikan karena kita kepikiran hal itu. Bukan mengingat tentang kematian baru berbuat baik, tapi seberapa jauh kita bisa melakukan kebaikan” tutupnya sambil berdeham sedikit keras.

Sekilas mungkin terlihat normatif. Saya pun menganggapnya demikian saat anak-anak. Di ramadan hari pertama ini saya mengingat kembali ceramah itu. Pak Zein ingin mengajak anak-anak muridnya memaknai ketulusan. Bahwasanya mengajarkan kebaikan tidak mesti mengingat kematian yang cenderung membuat kita selalu was-was. Ia tak hendak menakuti pikiran anak-anak dengan kematian. Dengan hati-hati, ia mengingatkan kepada kami bahwa kematian adalah keniscayaan. Sedang, berbuat baik adalah kewajiban.

Poin yang coba diberi Pak Zein, bukan “berbuat baiklah seolah kamu akan mati esok”, melainkan “berbuat baiklah karena memang itu kewajiban”. kurang lebih, ia coba menekankan tulus dan ikhlas adalah satu-satunya alasan berbuat baik, tidak ada yang lain, sekalipun kematian.

“kebaikan diciptakan dengan baik-baik, bukan dengan takut-takut” tutupnya kala itu. Lebih penting lagi, ia pintar memainkan kartunya. Jika berhadapan dengan anak-anak, ia mengatur pola ceramahnya dengan ajakan-ajakan sederhana. Beda, dengan orang tua, ia mengisi ceramahnya diselingi humor supaya tidak bosan tapi pesannya tetap tersampaikan.

Mengingat ceramah Pak Zein sama saja membangun kembali kenangan yang pernah ia lakukan ke saya. Pernah sekali waktu, saya dan teman-teman ketahuan terlibat perang sarung. Kebetulan terjadi tak jauh dari kediaman beliau. Tak dinyana, beliau keluar rumah dan memandangi kami. Kami berpikir ia akan membela kami karena lawan kami besar-besar dan cukup beralasan untuk disalahkan.

Ia panggil nama satu per satu nama kami pelan-pelan. Dengan hati yang sedikit tenang, kami mendatangi Pak Zein. Kami diminta berbaris. Diambilnya satu per satu sarung kami, dipecutinya kami dengan sarung yang kami lilit sendiri.

“asem” ingat saya.

3 thoughts on “Sekali Lagi, Pak Zein

  1. Iya nih, berusaha supaya ramadhan ini gak tinggi hasrat belanja dan hasrat ingin makan enak. Jd menunya sama aja kaya hari hari biasa

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s