Dari Bis Kota atau Kereta

Untuk sampai ke kantor, setidaknya saya menggunakan tiga transportasi berbeda, motor, kereta, dan bis. Tiga moda tersebut saya gunakan berurutan. Motor yang saya bawa dari rumah dititipkan di stasiun, sambung kereta, dan ditutup bis atau kadang bajaj.

Ada dua alasan mengapa saya lebih memilih menggunakan transportasi masal. Pertama, ada rasa senasib sepenanggungan. Kedua, saya belajar memaknai keterbatasan yang ada.

Saya belum pernah memang mengendarai motor ke kantor. Membayangkannya saja sudah cukup membuat perut mual dan kepala limbung. Terlebih lagi, hari-hari kerja membuat pengendara motor seperti kumpulan orang-orang bangun telat yang selalu terburu-buru sampai ke tempat kerja. Di jalan, seperti kata Seno, hanya ada kemacetan dan ketakutan-ketakutan terlambat ke kantor. Begitupun saat pulang kerja, jalanan bagai sirkuit dan rumah adalah garis akhir.

Ketimbang mengendarai motor, saya lebih memilih sambung menyambung transportasi. Memang ada harga yang mesti dibayar dari tiap pilihan. Saya pilih membayar kenyamanan pribadi saya dengan berdesak-desakkan di kereta atau bergelantung di pintu bis. Toh, saya tidak sendiri. mereka yang memilih transportasi masal ini sama-sama mengorbankan kenyamanan pribadinya.

Rasa senasib sepenanggungan ini muncul di antara kami, para pengguna jasa transportasi umum. Kekhawatiran terjebak macet, kereta anjlok, dan terlambat tiba di kantor yang membuat kebersamaan kolektif antar penumpang menjadi kuat walau tidak saling mengenal satu sama lain.

Ada kesempatan bagi saya untuk belajar dari transportasi massal perihal perangai manusia. Pengguna jasa transportasi umum sama-sama belajar untuk memaklumi keterbatasan yang ada. Bis yang penuh sesak ditambah hadirnya pengamen, kereta yang sering telat, jalanan yang macet menjadi teror yang meresahkan.

Beberapa mengutuki, beberapa pasrah, tapi yang jelas keduanya tidak bisa melakukan apa-apa selain berserah diri. Saya coba mengambil jalan tengah dengan melihat tingkah laku mereka menghadapi keresahan tersebut. Seperti mendapat kembalian dari kenyamanan pribadi yang dibayarkan.

Dua hari lalu dalam gerbong kereta. di sisi kiri saya, ada sekelompok orang dewasa yang saling berkelakar dan meledek sehingga membuat suasana kereta ramai dan mengundang mata penumpang lain untuk melihatnya. Sedang, di sisi kanan, kelompok yang lebih muda sedang duduk di lantai kereta. Cakupan duduknya mempersempit ruang berdiri penumpang lain.

Siapa saja bisa merasa risih dan protes pada kelompok yang membuat gaduh atau pada kelompok yang sedari tadi duduk, tapi saya tidak menemukannya kemarin. Penumpang lain seperti mendiaminya karena mengerti keadaannya.

Boleh jadi kelompok yang membuat riuh terjadi karena mereka berteman, sedang kelompok yang duduk dimaknai sebagai pekerja yang kelelahan. Kedua hal tersebut bisa dilakukan siapapun. Memang kadang melampaui batas dan menyebalkan. Tapi itulah harga yang harus dibayarkan. Di sisi lain, kita menolak komplain karena dalam kondisi tertentu kita bisa saja menjadi subjek tersebut.

Di kereta atau bis kota, kacamata sama rata sama rasa lebih laku ketimbang benar-salah. Kita menyebut yang lain salah, bisa jadi karena kita tidak sedang dalam satu garis yang sama. Tapi, ketika garis awal diputar pada kesetaraan, mungkin yang hadir bukan salah atau benar, melainkan sebuah pengertian.

Dalam hal ini, bis maupun kereta menjadi ruang belajar saya untuk memaknai keadaan.

 

8 thoughts on “Dari Bis Kota atau Kereta

  1. Sewaktu masih sering naik bus tiap weekend, selalu suka bertemu orang yang berbeda besa. Sering juga jd ngobrol lama, jadi selalu berasa nemu cerita baru tiap perjalanan

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s