Kopi Perjuangan dari Minang

Ada dua hal yang selalu saya lakukan setiap saya naik motor. Pertama, mendengarkan musik dengan memasang headset jika sedang sendirian, dan yang kedua berbicara dengan orang yang saya bonceng. Hal kedua juga sering saya lakukan jika saya yang dibonceng. Saya percaya bahwa interaksi yang dibangun di jalanan hampir sering jujur dan cenderung apa adanya.

Kali ini, saya dibonceng rekan kerja saya, Farhan. Orang asli Minang yang cukup jenaka dan memutuskan mengais rejeki di Jakarta. “Saya bekerja untuk kemanusiaan, bang,” katanya sebagai alasan mengapa ia kerja di Jakarta. Sore ini karena arah yang saya tuju searah dengannya, ia mengajak saya pulang bersama dengan motornya.

Saban sore hari, Jakarta selalu mengadakan festival kendaraan. Sudut-sudut jalan hampir penuh dengan mobil dan motor, termasuk trotoar. Klakson berbunyi seperti anak-anak sedang melakukan yel-yel. Sialnya, kami ada di antara antrian kendaraan tersebut. Demi mengurangi penat menghadapi macet saya mulai mengajak Farhan berbincang di atas motor. Obrolan pertama saya buka dengan kecintaan saya pada Kopi Solok dari Sumatera Barat.

“Kapan-kapan kalau ke sini bawa Kopi Solok lah bang,” pinta saya ke Farhan. Ia balas dengan anggukan.

“Oh iya bang. Ada yang lebih mantap dari Kopi Solok bang. Kopi Kawa namanya bang,” suaranya tiba-tiba mengeras.

Pengendara dari kiri dan kanan tetiba menengok karena mendengar suaranya. “Kopi Kawa itu minuman khasnya orang-orang Minang, bang.”

Sepanjang jalan ia mulai bercerita lebih jauh tentang Kopi Kawa. Semakin tak jarang pengendara di samping kami menengok karena kerasnya suara Farhan bercerita, apalagi kami berbicara dalam keadaan macet.

“Kopi Kawa ini tanda orang Minang itu pandai memanfaatkan sesuatu bang” tuturnya tegas.

Sebelumnya ia bercerita, kalau kopi Kawa berawal dari masa penjajahan Belanda ketika orang-orang Minang dilarang menikmati biji kopi. Padahal mereka dipaksa menanamnya. Karena penasaran rasa kopi tapi tak bisa minum kopi, mereka cari akal. Maka daun kopi diseduh. “Kayak buat teh aja bang,” kata Farhan.

Tak terasa, kami sudah setengah perjalanan. Tiba-tiba, Farhan mengajak saya ke kedai kopi. “Ayo bang. Kita ke kedai kopi Kawa. Kopi yang kuceritakan tadi. Pasti abang gak nyesel,” ujarnya meyakinkan saya. Sebagai penumpang, saya pasrah menerima ajakannya walau waktu sudah hampir malam. Terlebih, jalanan masih seperti antrian masuk mal.

Saya mengangguk.

* * *

Kami berhenti di sebuah kedai sederhana di Jalan Dr. Saharjo. Bangunannya tidak terlalu besar. Dihiasi warna dominan kuning keputihan. Di depan terpasang kaca berukuran besar, ada bulatan kuning besar diisi wajah empat lelaki dan bertuliskan “Kedai Kawa Wahidin”. Sisi sampingnya ada yang tersusun dari bambu yang dirapatkan menyerupai bangunan khas betawi. Tak ada gorden, dari luar saya bisa lihat langsung kondisi di dalam kedai. Terlihat ada orang berkumpul sambil lesehan dan sepasang kekasih yang duduk saling berhadapan.

“Eh Da, apo kabar?” sahut Farhan mencoba akrab ke pegawai kedai. Pegawai itu membalas dengan senyumnya. Kami lantas duduk dan memesan menu. Jarinya menunjuk-nunjuk ke menu. Ini, Kopi kawa; Kopinya orang Minang. Kopi awak, ucap Farhan sembari tertawa.

Saya memesan Kopi Kawa original, sedang Farhan memesan Kopi Kawa susu. Perut kami terasa lapar, saya pun memesan Indomie. Farhan memesan ketan susu pisang kapik.

Kedai itu cukup ramai. Pengunjung yang lesehan lebih ramai daripada yang duduk. Karena tempat yang tidak begitu luas, duduk saya pun bersinggungan dekat dengan orang di belakang saya.

“Bisa dibilang, kopi Kawa ini kopi perjuangan bang. Coba kalo dia gak minum kopi bang, tidur mulu bang. Bangun-bangun tau-tau mati. Gimana bang?” selorohnya.

Gundulmu! umpat saya dalam hati.

1
Kopi Kawa Original © Rivanlee Anandar
2
Kopi Kawa selalu disajikan dengan gelas dari batok kelapa © Rivanlee Anandar

Proses pembuatannya kopi Kawa berawal dari daun kopi yang dipetik kemudian diletakkan di atas susunan bambu. Di bawah susunan ini diletakkan tungku. Diasapi. Setelah daun kering, barulah bisa direbus. Air rebusan inilah yang dinamakan kopi Kawa.

Di kedai kopi ini juga saya baru pertama kali melihat kopi dinikmati sambil lesehan. Setelah saya tanya Farhan, ia menjelaskan kalau kopi Kawa memang biasa dinikmati dengan cara lesehan.

“Biasanya orang Minang minum kopi ini di Dangau (gubuk), bang. Apalagi kalau cuaca dingin. Udin Ngewe, bang.”

Saya bingung.

“Udara Dingin Pengen Kopi Kawa.” Semprul ini orang, dalam hati saya mengumpat sembari tertawa di depannya.

* * *

Pesanan kami tiba. Saya terbelalak melihat cara menyajikan kopi kawa ini. Kopi tidak disajikan dengan gelas, melainkan di batok kelapa yang dibagi dua dan ditumpu pada potongan bambu. Jika tak hati-hati mudah sekali tumpah.

“Ini cara minumnya gimana, Han?”

Saya berpikir cara minumnya diseruput sedikit-sedikit menggunakan sendok kecil.

“Biasa saja, bang,” lantas ia menyeruput kopinya langsung dari batok. Saya menyeruput perlahan mengikutinya. Sisi demi sisi batok kelapa saya seruputi. Sedikit demi sedikit kopi masuk menyentuh bibir saya. Bau daun kopi direbus terasa wangi. Warnanya tidak sepekat kopi yang dibuat dari biji kopi. body-nya pun ringan. Mungkin karena kopi ini berasal dari daun kopi. Saya juga merasa ada sedikit rasa teh yang muncul di kopi ini.

3
Sajian Ketan Susu Pisang Kapik dan Kopi Kawa Original © Rivanlee Anandar

Batok kelapa mulai terlihat pangkalnya. Kopi saya hampir habis. Mata saya melirik ke arah ketan susu dan pisang yang ditaburi kelapa, gula, juga susu.

“Coba ya, Da. Ini pisang atau telur dadar?” tanya saya.

“Ini pisang bang. Cara buatnya dikepit. Makanya jadi pipih kayak gini,” jawabnya sambil melahap pisang kapik. Kata Farhan kalau di Padang, pisang kapik ini dilumuri gula merah lawang. “Pasti pengen bilang tambo, ciek.”

Tak terasa jarum jam sudah membentuk sudut 90 derajat. Pukul sembilan malam kami pulang dari kedai.

“Saya jadi rindu kampung halaman nih bang,” kata Farhan sambil mengenakan helm.

Jalanan sudah lebih lengang dari sore tadi. Saya diam sesaat begitu menaiki motor. Sedari Farhan menjelaskan Kopi Kawa dan Pisang Kapik, saya membayangkan suatu saat bisa menikmatinya sore-sore di depan Jam Gadang sambil mengobrol dengan penjual dan juga warga yang kenal dadakan di sana. Atau menikmatinya di dangau sambil memandangi jajaran bukit barisan yang membentang.

Sembari motor melesat kembali ke jalan, ia berujar. “untuk saat ini ngawa dulu bang, yang pake e nanti”

semprul.

post-scriptum:
tulisan ini pertama kali diunggah di situs minumkopi.com
kalian bisa temukan banyak hal menarik di sana.

Advertisements

5 thoughts on “Kopi Perjuangan dari Minang

  1. Saya jadi senyum2 semprul juga membacanya dan jadi pengen nyeruput ‘kopi kawa dan nyolek pisang kapik’nya. Farhan berhasil memasarkan selera ngawa ke Rivan 😀

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s