Mengalun di Alun-Alun

Sewaktu kuliah di Purwokerto, saya hampir sering menghabiskan waktu akhir pekan di alun-alun. Alasannya sederhana, saya senang mengunjungi ruang publik dan melihat ragam tingkah laku pengunjung di sana. Anak-anak bermain, orang tua memantau, sekelompok anak muda mengobrol, polisi mengatur lalu lintas, dan kegiatan lain yang terjadi di seputaran alun-alun memunculkan nuansa kesahajaan masyarakat yang tak ditawarkan ibukota.

Lain hal ketika berada di pusat perbelanjaan modern yang tergambar kita mesti pilah-pilah sesuatu yang membuat kita bahagia. Salah-salah, berujung pada penyesalan. Belum lagi, soal pakaian yang dikenakan kadang terkesan harus necis dan menawan. Kebahagiaan seolah hal yang didapat dari hitam di atas putih.

Ada makna kesederhanaan yang muncul di alun-alun. Tidak ada batasan bagi seseorang untuk singgah. Baik mereka yang memang ingin mengunjungi, maupun mereka yang tidak sengaja melewati alun-alun. Kesederhanaan yang hadir akibat tak ada pilihan yang mesti kita pilih untuk mendapat ketenangan. Apa yang ada, itulah yang bisa kita nikmati. Alun-alun seperti memeluk pengunjung yang letih bekerja seharian. Setelah menjadi pekerja di ibukota, saya sulit menemukan hal tersebut.

Ibukota mengubah makna ruang publik bukan sebagai titik, melainkan sebuah spasi. Daerah kosong yang hanya digunakan sebagai pemberi jarak antara waktu senggang dan sibuk. Sebuah spasi hanyalah jeda untuk melanjutkan rangkaian kalimat panjang ke depan. bahkan di sebuah taman saja, meminjam ungkapan Seno Gumira, Homo Jakartanensis tidak bisa tenang seutuhnya, ada waktu yang dibatasi, ada pekerjaan yang mesti dipikirkan. Taman, sebagai sebuah spasi, hanya tempat selingan untuk berpikir. Itu pun soal kompetisi.

Kehadiran taman di ibukota bukan tidak dibutuhkan. Ruang terbuka harus ada di sebuah kota padat penduduk. Hanya saja, taman di ibukota tidak pernah menjadi tempat tujuan, bahkan tidak terlalu disadari keberadaannya. Saya ingat Seno pernah menuliskan satu hal tentang taman, “pergi ke taman ‘untuk duduk-duduk’ rasanya bukanlah suatu kebiasaan di kota seperti Jakarta, selain karena nasib yang belum pasti, juga karena keluar dari ruang ber-AC ke taman mana pun justru mengubah yang sejuk menjadi gerah”.

Ibukota menyingkat fungsi taman atau ruang publik yang hanya efektif ketika petang. Sialnya, bersamaan dengan kelas pekerja selesai mengantor. Setiba di taman hanya sisa beberapa menit sebelum matahari benar-benar tenggelam. Ketika malam, taman hanya diisi pasangan mesum dan penjaja starling (starbucks keliling). Sekalinya ada taman bagus, sekelas Taman Suropati, itu pun bertempat di dekat pusat lokasi politik dengan penjagaan aparat berseragam dan senjata lengkap. Semakin menggenapkan bahwa untuk mendapat kebahagiaan itu sendiri ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

“di Jakarta, yang ada hanya keburu-buruan” ujar kawan saya saat kuliah. “kebahagiaan hanya didapat di kedai makan, atau tempat yang mengeluarkan uang” lanjutnya.

Keburu-buruan untuk mencapai kantor, menelan makanan yang menumpuk di mulut, atas pekerjaan yang menumpuk dan takkunjung selesai, atas pertemuan dengan seorang terkasih, yang pada akhirnya keburu-buruan itu terangkum atas nasib yang tak pasti.

Saya jadi tak heran ketika orang berbondong-bondong melakukan mudik ke kampung halaman, sekaligus menghadapi kemacetan sebagai kewajaran. Mereka, barangkali, mencari keramaian yang tidak mereka dapat di Jakarta. Dalam hal ini, keramaian yang dihadirkan di alun-alun. Boleh jadi ia bising, keberadaan genset, suara motor dua tak, dan petasan yang tiap menit dinyalakan, tapi alun-alun juga menawarkan kedamaian dari kebisingan yang timbul.

Alun-alun, dengan segala penjaja mainan dan kudapan, adalah antitesis dari taman/ruang publik ibukota. Ia menyadarkan bahwa kebahagiaan tak mesti muncul dari bawah atap dengan cahaya yang redup dan di depan semburan AC. Tapi, juga bisa muncul dari nggelesor di depan gerobak ronde atau kupat tahu, di bawah pohon besar yang rimbun, sesekali sambil melihat ragam tingkah laku pengunjung alun-alun. 

Tidak ada prasyarat berlebih di alun-alun, seperti pakaian yang necis plus dengan rambut klimis. Pengunjung dengan muka kucal bangun tidur pun bukan soal. Alun-alun seolah menjadi potret masyarakat yang jujur. Alun-alun seperti menyulap bahwa kebahagiaan bukan lagi didapat karena manusia berhasil memenuhi kebutuhannya, melainkan kebahagiaan adalah berada di alun-alun itu sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Mengalun di Alun-Alun

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s