Tentang Hal-Hal yang Mungkin Kita Lakukan Sambil Bermalas-malasan

Kelak, kau tak perlu mencari dalih untuk menonton drama korea dengan tenang. Kau bisa lakukan itu satu hari satu malam disertai tangis dan rasa gemas membayangkan dirimu dalam skenario. Aku tidak akan ikut menonton. aku hanya bersandar di sofa sambil membaca koran yang paling dekat dengan tempatku, merespon berita yang kubaca meskipun koran sebulan lalu. lantas menyadarkanmu yang tertidur saat filmnya berlangsung. Kita akan menghabiskan satu hari itu dalam bermalas-malasan dan melakukan segala hal yang kita suka.

Kelak, aku akan menjadi alasan mengapa pukul 11 malam kau juga belum memejamkan mata. Mungkin melelahkan. Malah seringkali kau akan lebih dulu tertidur lalu terkaget-kaget ketika pintu pagar berbunyi. Kau dapati seonggok tubuh dengan kemeja lusuh, muka kucal, dan rambut berantakan dengan kepala sedikit limbung akibat pekerjaan pun kemacetan. Tapi kamu tahu, aku yang akan menyulitkanmu bangun pagi. Aku yang melingkarkan lengan sehingga membuatmu sulit gerak. Lantas kau memilih kembali tidur ketimbang membangunkanku.

Kita akan terperanjat menyadari waktu sudah melewati jadwal berangkat kerja.

“aku dulu”

“kau selalu lama”

“kali ini tidak”

“kalau kau mandi seperti memandikan dua ekor sapi”

Mendadak, kita berdebat siapa yang lebih dulu mengisi kamar mandi. Aku mengalah. kusiapkan nasi goreng dengan sedikit kecap lengkap dengan telur mata sapi setengah matang kesukaanmu. sambil mengalungkan handuk, kurapikan kasur, menjerang teh, disusul memanaskan kendaraan. Pagi kita selayaknya gelandang tengah dan penyerang yang melakukan taktik satu-dua. Begitu kita berhadapan di meja makan, kita baru menyadari bahwa hari itu adalah akhir pekan.

Kita lantas berpelukan, membiarkan teko yang sedari tadi masak, sambil mengutuki satu sama lain. menjiwit perutmu, berperan sebagai ibu yang memarahi anaknya “mengapa kau membangunkan tidurku?” keluhku. Kau menyambut umpan. Berlakonlah kita di depan meja makan seperti dua pelawak yang sedang ditonton banyak orang. Saling menertawai menjadi akhir kebodohan kita.

Kau dan aku akan menjalani hari penuh kemalasan itu dengan segala bentuk. Membersihkan aquarium, membunyikan tangan di depan burung, menyapu rumah, atau merapikan perabotan yang tak tertata. Ketika lelah, kita akan menggelepar di depan tv dan membiarkannya menyala tanpa kita tonton. Kau dan aku akan membahas satu per satu kejadian-kejadian di kantor. Tentang bosmu yang menginginkan hasil sempurna tapi dengan waktu singkat, tentang teman-teman barumu yang nyatanya tak beda jauh dengan teman sekolahmu dulu; bergunjing, membeli hal-hal yang tak penting, pergi ke mal, hingga pergi ke kedai makanan untuk menenangkan diri.

Kamu tentu kadang emosi menceritakannya. Memeragakan satu demi satu tokoh yang menempel di kepalamu. Mengulang apa yang sering dibicarakannya. Lantas, menutupnya dengan semacam pembenaran yang seolah meyakinkan bahwa ia salah dan kamu benar. Tak masalah. Aku pun akan demikian. Menceritakan cukup detil potret-potret kehidupan yang terekam. Kadang menyenangkan kadang menyakitkan. Tapi, aku selalu yakin, baik menyenangkan maupun menyakitkan, kedua hal itu akan kita tertawakan nantinya. Begitu bukan?

Kita akan berebut memainkan piringan hitam di gramofon. Kamu memilih lagu-lagu dengan sedikit beat dan nada-nada yang bisa membuatmu loncat atau menggelengkan kepala. sedang aku memilih bernuansa blues dengan harapan bisa memberikan ketenangan dibantu dengan visualisasi semu ala remaja. Kadang kita juga mesti belajar pada remaja yang dirundung cinta, ia lebih pandai menghidupkan visualnya ketika mendengarkan lagu. Semisal, beberapa lagu ternyata lebih mudah diingat ketika kita sedang terjebak pada suasana tertentu, berteduh atau panas-panasan di jalan. Padahal, kita sadar betul, tak ada seperangkat lirik pun yang menyeritakan atau mewakili perisitiwa itu.

Kau menjadi lebih bawel. Mengomentari segala hal yang tak pernah kamu perhatikan sebelumnya. Tentang motor yang kotor, meja yang masih membekas noda kopi, sampai cadangan kebutuhan mandi yang lupa kubeli. Kau seolah seperti presiden yang suka sekonyong-konyong melakukan sidak ke kantor kementerian sambil melihat kinerja pegawai negeri lalu keluar dengan beragam pandangan dan ocehan yang akan didengar banyak oran.  Di hari itu, kamu akan menyadari bahwa aku tak lebih dari seekor kuda nil yang suka bermalas-malasan dalam kolam. Mengerjakan sedikit hal, menunggu waktu makan tiba dan tidur dalam waktu yang lama.

Kita akan bahagia di hari itu.  Semestinya.

Terima kasih pernah ada.

Advertisements

One thought on “Tentang Hal-Hal yang Mungkin Kita Lakukan Sambil Bermalas-malasan

  1. Hmm…. Maafkan saya karena sepertinya ‘Kau’ itu saya banget, hehe…
    Drama Korea dan dimasakin telor goreng itu kok saya banget. Trus nyetel tv dan malah asyik ngobrol sendiri itu juga saya banget… Aah, jadi saat baca ini saya malah kege-eran ga jelas 😁

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s