Hal Yang Kita Bicarakan Sebelum Gelap Tiba

Bak penyair yang sedang membaca puisinya, kau menengadahkan tangan ke atas “tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni…….” sambil menarik nafas ke bait berikutnya, kau menengok ke arahku.

dengan sigap kujawab “ada”

“diam. Aku belum selesai” keluhmu

“kamu melihat ke arahku tadi”

“itu gimmick, bodoh”

Tanganmu menyelinap dari atas ke bawah “..dirahasiakannya rintik rindunya….” setiap tarikan nafas terlihat kau berpikir gaya apa yang turut mewakili syair itu “kepada pohon berbunga itu.” jarimu mekar menutup bait pertama.

Kita kerap kali berkelindan pada tataran mengantisipasi dampak dari akibat. Kita memilih untuk membeli dua lapis jas hujan berikut sepatu antiair, ketimbang menahan diri menunggu hujan reda atau memilih waktu berangkat lebih awal sebelum zeus memukul palunya. “mungkin Sapardi menulis puisi-puisinya ketika kondisi tersebut” tambahku

“Sialnya, kita tak sadar, kita sering dikalahkan.” Jawabmu sambil menyusun perabotan lantas membuat selayaknya panggung. Kusiapkan segelas air, kutaruh di samping buku tumpukan buku puisi dekat dengan panggung buatan.

“Barangkali memang begitu. kita menyusun skenario atas skenario yang tidak kita tahu alur dan tokohnya” timpalku

“Di sisi lain, kita luput akan sebab yang nyatanya memiliki andil paling besar dari hadirnya sebuah prahara” Kau bersiap membaca bait kedua. Panggung sudah kau naiki. Sambil memastikan bahwa perabot yang kau injak tidak goyah, kau memulai dengan nada sedikit tinggi “tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni/ dihap…” tenggorokanmu tersedak.

“kalau kau ditonton banyak orang, lebih baik pakai helm” ujarku sambil menunjuk ke arah gelas.

Tersenyum ke arahku “nadaku terlalu tinggi. Sialan. Sambil menarik nafas kutelan juga liur dalam mulutku”

kau mulai mengulang  “…dihapusnya jejak-jejak kakinya…” sementara aku hanya diam sambil melemparkan pandangan ke seluruh sudut rumahmu. “orang tuamu memang pergi ke mana?” tanyaku polos. Jelas kau tak gubris. “yang ragu-ragu di jalan itu” bait kedua ditutup dengan memicingkan mata ke arahku.

“menjenguk pamanku yang sudah seminggu sakit” jawabmu tiba-tiba

“kekasihmu tak akan marah?” lanjutku

“tidak. Biar saja”

Keberadaanku seolah mendapat penguatan. Aku mulai sedikit leluasa bergerak. Kaki kuselonjorkan tangan kutekuk untuk menopang kepalaku. “teruskan puisimu” pintaku sumringah

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni….” Kau buka dengan senyum mengarah kepadaku. Gerakanmu lebih luwes dari sebelumnya.

“sudah kubilang, ada. kau ngeyel” celetekku

“apa memang?”

“selesaikan dulu puisimu” kukunyah makanan ringan yang kubawa tadi seraya memikirkan penjelasan apa yang hendak kuberikan.

“..dibiarkannya yang tak terucapkan/ diserap akar pohon itu” kau mengarahkan tangan kananmu ke arah jantung, tangan kirimu ke pinggul belakang, lantas menunduk sambil berpura-pura berterima kasih ke penonton.

Aku bertepuk tangan menyambut puisimu selesai dibacakan. “kapan-kapan kau harus membacakannya dihadapan orang banyak” kataku seiring mengembalikan perabotan ke tempat semula “tapi tanpa tersedak” susulku meledek.

Kau menjiwit dan membela “tadi kusengaja. Biar kau tak percuma mengambilkan minum”

“menurutmu, apa yang waktu itu Sapardi pikirkan ketika menulis puisi Hujan Bulan Juni?” sedang apa dia?”

“putus cinta. Mungkin?”

“atau mendapati nilai ujiannya jelek. Sebagai penenang, ia membuat puisi?”

“itu kau. Bukan Sapardi”

“aku memilih tidur”

“kalaupun Sapardi nilai ujiannya jelek, ia tak membuat puisi. Ia mengajak temannya untuk pergi.”

“kurang ajar. Kau menyindirku?”

Tawa membuncah meramaikan isi ruangan. “aku baru ingat masih ada setangkup brownies. Sebentar kuambilkan”

“apa?” tanyaku meyakinkan

“kue brownies” katamu tegas “sama seperti yang waktu itu kau habiskan punyaku.” Aku mesem-mesem mendengarnya.

Sambil berjalan ke arahku menawarkan brownies “lalu, apa memang yang lebih tabah, bijak, arif, dari Hujan Bulan Juni” tanyamu menantang.

“Kemarau Bulan Oktober” jawabku sambil terkekeh

“tidak lucu” timpalmu ketus “yang benar, apa?” tapi tetap tersenyum.

“mereka yang mencintai seseorang tapi tidak lebih dari sekadar mengagumi”

“maksudmu?”

Aku menarik nafas “ya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain diam-diam mengagumi” jawabku sedikit mengulang.

“memang kenapa?” Matamu memelas, kakimu meringkuk lantas memeluk bantal bulu berbentuk jerapah.

“karena hanya itu yang ia bisa”

Hening tiba. ruang tamumu serasa berubah menjadi panggung teater. Perabotan seperti penonton yang menunggu klimaks lakon ini. Awan menggelap. Terdengar seseorang menyalakan lampu jalan.

“aku tak enak. Aku harus pulang” pintaku sambil beres-beres

“hah? Santai saja”

Sambil berjalan ke arah pintu keluar “bukan begitu. aku tidak enak. Ini sudah gelap” kukenakan jaket dan merogoh-rogoh kantung celana.

“ceritamu menggantung. belum tuntas.”

“lain kali saja” jawabku

“selalu seperti itu.”

Aku mengenakan helm, menyalakan motor, melaju ke utara

“setidaknya, sudah kucoba beritahu” tutupku dalam hati.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s