Membincang Munir di Warung

sumber: tempo.co
sumber: tempo.co

Warung itu berdiri tepat di atas selokan. Dengan beberapa bilah papan yang menghubungkan tepian jalan dan tembok rumah, warung itu berdiri seperti jembatan. Bisa dikatakan, keberadaan warung tersebut sebagai simbol Kampung Duku. Pasalnya, pendatang yang ingin datang ke Kampung Duku, warga otomatis menjawab “setelah portal ada warung, nah itu Kampung Duku”.

Bang Anto, penjaga warung, merangkap sebagai penunjuk arah bagi pendatang yang mencari salah satu rumah warga. “kalau ke rumah pak RW lurus aja, cat rumahnya biru, banyak burung dah” katanya sambil menunjuk ke utara. Pelanggan utama warung Bang Anto adalah ojek-ojek konvensional yang mangkal. Kopi dan rokok sudah menjadi menu pasti bagi para ojek.

Pelanggan lainnya dari orang-orang yang sedang menunggu angkot lewat dan beberapa warga yang enggan pergi ke minimarket. “Biar gak banyak, yang penting dapet pemasukan” yakinnya dalam hati.

“kopi item berapa nih?” tanyanya menembak ketika Jiung baru saja tiba.

“buset dah. Baru juga sampe bang. nanti dulu kenapa” balasnya kilat

Jiung adalah warga Kampung Duku. Pagi ke Sore menjadi tukang ojek, malam beralih menjadi penjaga portal perumahan. Perawakannya tegap, rambutnya selalu diolesi minyak rambut walaupun ia tahu sehari-hari harus mengenakan helm. Ia beda dengan yang tukang ojek lainnya. Dari tujuh tukang ojek yang biasa mangkal di warung Bang Anto, cuma Jiung yang tiap datang bawa koran. Karena koran itu, ia memilih seharian menunggu penumpang datang daripada mencarinya.

Hari ini, ia tidak membawa koran. Buletin yang tak cukup tebal sebagai gantinya. Wajahnya serius membolak-balikkan kertas seolah ada pikiran yang menumpuk dalam benaknya.

“udeh jangan lama-lama dimari, ‘ung. Muter sono, cari penumpang sekali-kali” ujar Bang Anto meledek “lu udah kayak pejabat aja, tiap pagi baca koran ‘ung, bedanye hidup lu gitu-gitu aje” lanjutnya disusul tawa pelanggan warung yang sedang membeli cemilan.

Jiung cengar-cengir “yang penting ini nih bang.. ini” sambil menunjuk-nunjuk dahinya. “kopi deh, bang” pesannya.

Bang Anto dengan sigap memotong rentengan kemasan kopi hitam. “Si Godek ke mane, ‘ung? Tumben amat hari gini belum nongol”

Godek, pengojek lain yang sering mangkal di warung Bang Anto. Kalau bicara, kepalanya suka menggeleng ke atas. Humoris dan paling sering menjadi bahan ledekan teman-temannya. Jiung tidak menggubris pertanyaan Bang Anto. Ia serius membaca buletin yang dibawanya.

“Munir… Munir…” Jiung menggumam.

“‘Ung, si Godek ke mane? Hasan?”

“Subuh tadi nganter sewa dia. Hasan paling bentar lagi dateng” jawabnya tanpa menatap mata Bang Anto. Kepalanya masih menggeleng.

“kenape, ‘Ung?” Bang Anto menanggapi

“ini si Munir. kasian gue, bang. Mati dibunuh dia”

“iya, tau gue. Apaan nih?” Bang Anto mengambil buletin yang di tangan Jiung. Dengan wajah penasaran ia turut melihat gambar-gambar yang ada di dalamnya.

Jiung menarik lagi buletinnya. “ini dari penumpang kemaren, bang. Dia ngasih ke gue buat dibaca”

Suara motor 2-tak terdengar mendekat “Bang, kopi biasa” Hasan datang tiba-tiba memesan.

“Serius amat kayaknya nih warung” Hasan menyalami Jiung 

Satu per satu pengojek lain yang baru datang mengerubungi Jiung yang sedang memegang buletin “Menolak Lupa”. Seolah profesi mereka sudah beralih menjadi pengamat negeri. Satu sama lain mulai membicarakan Munir. ada yang baru tahu, ada yang sudah tahu, dan ada yang pura-pura tahu.

“ada gitu yak orang kayak Munir?” tanya Hasan polos.

Hasan paling muda di antara pengojek yang lain. tak tamat SMK membuatnya mengenal Bang Anto, Jiung, Godek, dan beberapa pengojek lain.

“yaelah, San. Orang kayak elu aja ada.” timpal Godek yang baru saja meletakkan helm di spion. “ada apaan sih, Ung?” tanyanya disusul kepala yang menggeleng

“ini bang, buletin tentang Munir, orang yang diracun di pesawat”

“ooh.. tau-tau gue. Aktivis HAM kalo kata orang-orang, kan?” Godek langsung bercerita tentang Munir sepengetahuannya. “beh, hebat itu dia. Punya niat mulia malah diracun, dianggap musuh negara”

 “betul, bang. Padahal orang baek ye bang. Ngeri amat dah” sahut Jiung.

Jiung lantas membacakan satu paragraf di buletin tersebut, “Aku harus tenang walaupun takut. Untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang anggak takut, cuma yang coba aku temukan merasionalisasi rasa takut.”

“apaan, ‘ung? Merasiosalisasi? Ha?” Hasan memastikan

“set dah. Merasionalisasi. Munir rasa takut aje dirasionalisasi, si Godek aje gemeter kalo bini udah marah-marah” seloroh Jiung

Bang Anto yang sedari tadi diam pun lantas bertanya, “jadi Munir itu tanda hukum dan keadilan harus ditegakkan atau tanda kita kudu hati-hati dalam melangkah, ‘ung?’

Jiung tak lantas menjawab. Ia kebingungan sambil membayangkan dirinya menjadi “Munir lain” dan takut jika terjadi hal yang sama. “waduh, bingung juga gue bang. Tapi, yang jelas sih udah kewajiban kite buat menegakkan hukum dengan adil. kalau hati-hati kan semuanya emang kudu hati-hati”

Godek menyambut “pokoknye kite kagak boleh takut, sebab takut dapat menghilangkan akal pikiran sehat kita. gitu kata Munir”. jawaban Godek pun disambut ledekan khas masyarakat pinggiran.

“abis makan ape lu, ‘dek?” ledek Hasan

“liat tuh, idungnye mekar-mekar kayak kue cucur baru mateng” susul Jiung menimpali.

Bang Anto menyabet buletin di tangan Jiung. Ia membaca sendiri beragam cerita mulai dari biografi Munir sampai kronologis kematiannya. “eh, dengerin nih pada” mulainya “Cinta itu hebat, bahkan lebih hebat dari dunia perkawinan itu. Doa adalah bagian penuturan cinta pada sebuah cita-cita yang belum kita capai.”

Hasan menyalakan rokok, Godek mendengarkan sambil mengaduk kopi, Jiung memerhatikan detil Bang Anto bicara

“…Dia bukan urusan Tuhan, melainkan urusan manusia. Dan Tuhan ada pada seberapa besar rasa cinta kita akan kebenaran itu. Nah, berdoalah dengan cinta, tapi jangan berdoa untuk cinta… Cinta itu dalam dirinya mengandung sebagian kecil rasionalitas, tapi penuh dengan benih rasa yang tidak perlu dihitung secara matematik mengapa dia ada.”

“gue pikir, Munir kagak bicara apa-apa selain negara. Ternyata, cinta juga. Gile bener nih orang. kalo kata orang, mah ‘palugada’ apa lu mau, gue ada” tutup Bang Anto membaca kumpulan kutipan Munir.

“tuh, ‘dek. Dengerin tuh. Lu same Wati aja nolak. Kalo mukelu kayak Raffi Ahmad sih kagak ape-ape, dah.” Sambut Hasan meledek sembari izin mencari penumpang.

“ah, same aje lu ‘san.”

Perbincangan serius itu pun selesai sendirinya ketika masing-masing pengojek sudah mendapat penumpang. Bang Anto membereskan gelas dan kemasan makanan yang berserakan. Sembari merapikan, ia selingi dengan baca buletin milik Jiung yang sengaja ditinggal. Ia membaca kutipan yang ada di halaman belakang, “Munir tidak mati, kami ada dan berlipat ganda” bacanya dengan suara kecil.

Post-scriptum:

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengingat kematian Munir 12 tahun. Satu dekade lebih, kasus kematian Munir berujung tanpa hasil.

(7 Sept 2004 – 7 Sept 2016)

 

4 thoughts on “Membincang Munir di Warung

  1. Petunjuk arah, ah saya juga sering ditanya orang yang lewat tentang tujuan mereka
    Saya sangat suka ini, sebab saya berharap peroleh pahala dari kerja yang tak seberapa, sekedear menunjuk arah
    persis seperti penjaga watung

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s