Ada beberapa kawan yang mengirim pesan ke saya lantas mengajak pelesir ke suatu daerah yang jauh dari ibu kota. Biasanya pantai, gunung, atau sesuatu yang berkaitan dengan alam. Alasan-alasannya hampir sama, suntuk dengan pekerjaan atau rutinitas yang membosankan. Saya memahami kawan-kawan saya yang mengeluh dan menginginkan liburan. Tetapi, ada sedikit celah yang membuat saya sedikit risau.

Bahwa eskapisme hampir selalu dianggap seperti berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Kurang lebih gambarannya seperti dua titik yang dibatasi pagar melintang, jika awalnya kita suntuk di titik kiri maka melangkah ke kanan adalah solusi. Padahal, kita harus kembali ke titik awal. Seperti sebuah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain karena tempat awal sudah tidak bisa lagi ditemukan hiburan. Atau kalau saya boleh menyingkatnya, kegagalan kita menemukan relasi dari rutinitas.

Kondisi itu seperti yang sering saya temui ketika ke pameran seni. Karya seni lukis dengan gradasi warna yang apik dan karya seni instalasi yang unik menjadi daya tarik. Di saat yang bersamaan, kita mencoba mencari makna dibalik dari karya seni tersebut. jujur saja, ketika dihadapakan dengan sebuah karya, saya lebih sering disibukkan dengan menanyakan maksud dibalik karya tersebut ketimbang betul-betul mengagumi.

Saya dan kawan-kawan memiliki keinginan yang sama. pelesir ke tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Tapi, kita sendiri direpotkan dengan sesuatu yang mendasari kita melakukan hal tersebut. Eskapisme menjadi serupa kitsch. Ia seperti karya seni yang semata-mata untuk sarana hiburan belaka. Jika demikian, maka pelesir hanya proses yang dilakukan tanpa tujuan apa-apa, kecuali mengakomodir hasrat untuk bertemu hal baru.

Saya hendak menyitir satu tulisan Avianti Armand tentang rumah, ia menuliskan “Sesungguhnya, kita telah lama jadi penghuni ‘waktu’, sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar ‘ruang transit’. Rumah kehilangan batas definitifnya dan menjadi sangat elastis. Kita punya ruang duduk di kafe-kafe berinternet, tidur di jalan-jalan dalam perjalanan pulang dan pergi ke kantor,…..”

Bisa jadi, kritik Avianti Armand tentang arsitektur adalah potret kehidupan masyarakat urban yang cenderung kitsch. Rumah, dalam hal ini, rutinitas keseharian menjadi asing sebab kita terbiasa dengan sesuatu yang template dan pola kehidupan mondial. Lantas, ruang keseharian itu nampak seperti riasan artifisial semata.

***

14727445_905831766215709_5879941963460902912_n
keramaian kereta

Sudah seminggu saya tidak melakukan kegiatan apapun di kereta. Biasanya sambil mendengarkan musik, tapi kali ini saya menanggalkan itu semua dan fokus mengamati pola tingkah laku penumpang kereta.

“aduh, pusing gue. Bini gue minta kerja lagi” pria bertopi dengan kemeja kotak-kotak itu membuka perbincangan. Di depan kakinya, muncul gagang palu dari dalam tas yang tidak tertutup penuh. Begitu juga dengan tiga orang di sampingnya. “kalo kerja, ntar yang jaga rumah siape?” tanyanya memelas.

“udeh, bini elu suruh di rumah aja. Kayak orang susah aja lu ah. Gue aja yang susah gak kerja” timpal teman pria di depannya.

Salah satu kerumunan yang sering saya temui di kereta ialah kerumunan pekerja yang ngobrol dengan suara kencang lengkap dengan candaan khas masyarakat pinggiran. Perbincangan mereka seolah tidak mengenal batas. sejauh yang saya lihat, mereka tidak memikirkan apakah orang lain terganggu atau tidak.

Kali lain, saya terperanjat oleh penumpang kereta yang begitu asik menaikturunkan kepala dengan earphone terpasang di telinga. Musiknya terdengar begitu kencang sampai orang di sampingnya bisa turut mendengarkan. Di sebelahnya, ada orang yang membaca al quran menggunakan ponselnya.

Seminggu setelah saya tidak menggunakan earphone, saya melihat, mendengar, memahami kejadian-kejadian yang terjadi dalam alur rutinitas, saya menyadari bahwa dunia dalam gerbong adalah eskapisme para pekerja komuter. Mereka yang tidur sambil berdesakkan, mendengarkan musik sambil menggoyangkan badan, mengobrol dengan suara lantang adalah eskapisme dari kejemukan kehidupan mereka.

Kereta mempertemukan saya dengan hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya tak jarang takjub dengan penumpang kereta. Kegiatan-kegiatan kecil di kereta adalah ruang mereka untuk menjadi “liyan”. mungkin mereka juga sama seperti kita, berjejal pekerjaan dan suntuk dengan rutinitas. Tapi, eskapisme tidak memerlukan deklarasi.

Eskapisme tak melulu berhubungan dengan pelesiran. ia bukanlah tempat yang harus dituju, melainkan sesuatu yang hendak kita sadari dari rutinitas. Ia bukanlah bentuk pemberontakan dari koridor-koridor rutinitas. Ia adalah fase sederhana memahami keadaan, mengambil jeda dan berkecimpung di dalamnya seperti melepas earphone dan menjadi liyan di kereta.

Advertisements

3 thoughts on “Setelah Seminggu Tanpa Earphone

  1. Lantas apakah seminggu menjadi dua minggu (tanpa earphone)?
    Aah, saya juga butuh.. pelesiran, hehee..
    Realita jaman sekarang.. Dan suka dengan deskripsi ‘rumah’ yang bukan lagi sebuah rumah seperti fungsi yang dulu.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s