Sambil menaiki tangga stasiun Cikini, saya tersadar kalau mulai jarang mengisi blog. Awalnya saya menjadwalkan paling tidak sekali dalam seminggu bisa mengeluarkan tulisan. Entah mengapa tak satupun yang ada di kepala pantas untuk dibaca orang lain. saya gagal mengurasi bahan saya sendiri.

Dalam menulis, seperti yang disebutkan A.S. Laksana, tidak perlu takut. Apalagi kalau kita menyiapkan tiga kata kunci yang bisa dikembangkan menjadi paragraf. Teruslah menulis, lanjutnya dalam buku Creative Writing. Sulak lantas menyontohkan tiga kata kunci: buku, kucing, dan nasib. Dari tiga kata kunci tersebut, ia menuliskan tiga paragraf berbeda dengan perspektif masing-masing. Sial, kenapa bisa semudah itu dia buat?

Saya percaya, tiap hal yang saya temui di kolong langit ini banyak pelajaran berharga yang sebetulnya saya bisa ambil. Direktur yang naik bis kota, buruh yang berkerumun di kereta, atau pekerja yang mengendarai motornya sepanjang hari. Saya membayangkan, apa yang ada di pikiran mereka dalam kondisi-kondisi itu? bisa jadi buruh yang berangan-angan menjadi direktur, pekerja yang tak ingin lagi menggunakan motornya. Bayang-bayang liar itu sering kali muncul tiap saya melihat wajah-wajah manusia di transportasi umum. Hal-hal itulah yang biasanya jadi bahan tulisan saya.

Dua hari sebelumnya, saya pulang menggunakan sepeda motor teman, sebab sudah tak ada lagi kereta malam itu. di jalan, saya berpikir supaya saya tidak mengantuk selama perjalanan. Melihat kondisi ibukota malam hari seperti melihat mesin yang baru saja mati. ia terlihat lemas, pasrah, dan tidak berdaya. Tapi, dengan lampu temaram, keheningan, dan sedikit klakson-klakson kendaraan yang berbunyi, ia tampak baik-baik saja.

Ketika di batas daerah Pasar Minggu dan Kalibata, saya tetiba membagi ibukota ini bagai dua penulis. siang seperti Seno Gumira, malam seperti Sapardi. Kala hari masih terang, Jakarta adalah apa yang ditulis Sen dalam Affair atau Tiada Ojeg di Paris. Kerumunan-kerumunan manusia dan tabiatnya di Jakarta menjadi materi dasar prosa-prosa Seno. Affair maupun Tiada Ojeg di Paris adalah potret siang hari ibukota. Debu, macet, hasrat, dan nafsu bergumul dalam satu dimensi yang kemudian Seno sebut sebagai Homo Jakartanensis.

Melihat pedagang buah di Pasar Minggu dengan nyala lampu yang terang, saya teringat Sapardi menuliskan “Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang”. Entah apa yang menjadi dasar Sapardi menuliskan paragraf singkat itu. dalam bayangan saya, bisa jadi ia sedang dalam perjalanan pulang pada malam hari. Mungkin definisi Jakarta akan lain, ketika ia berkendara pagi hari melewati Patung Pancoran.

Beberapa kilo menuju rumah saya sadar, melihat Jakarta sama saja mencari sudut pandang dalam menulis. Seno bisa saja menghidupkan senja, sedang Sapardi hujan. Mereka, sebetulnya, adalah peristiwa alam yang lumrah. Tapi, begitu dikemas dengan baik, seperti dilipat, dimasukkan ke amplop atau menjadi simbol ketabahan, mereka seperti mainan lucu nan menggemaskan dengan pernak pernik disekelilingnya yang menarik hati anak-anak untuk dimiliki.

Sederhana saja, baik hujan maupun senja, keduanya muncul akibat proses fisika di langit yang bisa terjadi di mana saja dan gitu-gitu saja. Seindah-indahnya senja ia tak akan mengeluarkan uang, begitupun hujan, seteduh-teduhnya ia tetap membuatmu kebasahan. Tapi, yang membuat menarik ialah senja yang bisa dilipat lantas dimasukkan ke amplop dan hujan yang menjadi metafor ketegaran.

Perihal penciptaan sudut pandang inilah yang mungkin menjadi persoalan. Mungkin saya tidak bisa menuliskan tiga perspektif beda dalam tiga paragraf berbeda seperti halnya A.S Laksana. Tetapi, setidaknya, penutup paragraf ini saya dapat ketika saya menaiki tangga Stasiun Cikini.

Advertisements

5 thoughts on “Melihat Sulak, Sukab, dan Sapardi di Cikini

  1. Menurut saya, karena isi kepala setiap orang beda-beda, maka bahkan ketika menatap satu benda yang sama pun tulisan yang akan ditelurkan pasti tak akan sama. Tapi kadang itu cuma penghiburan gombal lantaran saya pun sering sekali mengalami buntu ide, namun keinginan buat menghasilkan suatu tulisan tinggi banget. Itu membuat kesal sendiri.
    Lho, saya jadi lupa kan, kapan ya terakhir kali saya posting? Mesti belajar buat konsisten juga nih, hehe.

  2. Menulis, cara yang paling mudah melukiskan rasa. Tapi, nyatanya apa yang berkelebat di dalam kepala kita tak semudah itu mengalir melewati tangan untuk diketik ataupun dituliskan. Terkadang, ide-ide cerita dan paragraf yang telah tersusun sempurna di kepala, hilang entah kemana. Mungkin menghilang seiring perjalanannya turun ke lengan dan ujung jemari.

    Saya juga pernah baca, bahkan penulis profesional pun pernah mengalami mental block bahkan jenuh menulis, dan itu juga terjadi ke diri sendiri. Ide-ide tetiba musnah.
    Setuju dengan komentar di atas, menulis juga butuh konsistensi. Dan saya sedang mencoba.

    Dari tulisan kamu, aku dapat inspirasi baru, kita bisa menulis hal-hal yang ada di sekitar kita. Tulisan kamu itu contohnya…

    Makasih.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s