“nih, ye, bang” Bang Sanip, ojek saya membuka obrolan “ntu para calon gubernur, kalo balik kampanye sore-sore lewat perempatan Pasar Minggu, sampe rumah pasti langsung ngerenung buat jadi gubernur”

Saya sambut dengan sedikit tawa, “kenapa, bang?”

beh, njelimet, bang. Perempatan itu ye dari jaman aye belon ngojek, udeh macet” lanjutnya.

Pengendara motor di kiri kanan kami memandang ke arah kami, setelah tawa kami membuncah. Bang Sanip biasa mangkal di Stasiun Pasar Minggu. Tinggal dan besar di lingkungan Betawi membuat logatnya terdengar kental kedaerahan. Sebelumnya, ia adalah pedagang buah di pasar. Pada tahun 2000-an mulai mencoba berbagai jenis pekerjaan dan terhenti pada profesinya sekarang, tukang ojek pangkalan. Tahun ini, sudah menginjak tahun ke enam ia berprofesi sebagai ojek.

“yang namanye pelanggan, mas” ia kembali mengajak saya ngobrol. Namun, suaranya tidak begitu jelas karena kami diperjalanan, “kalau nawar kadang suka kebangetan. Waktu saya jual buah di sana tuh” ia menunjuk payung-payung besar yang berada di depan pusat perbelanjaan. “buah saya jual 20.000 ditawar jadi 5.000. dalem hati saya, ‘muke gile nih orang’” tiap Bang Sanip cerita, saya banyak balas dengan tertawa.

“eh, kemarin nih bang, ada pelanggan saya udah mau naik, ojek online-nya dateng. Gedeg bener saya”

Bang Sanip ternyata cukup mengikuti arus berita tentang Pilkada. Ia belum menentukan pilihannya sejauh ini. “belum ada yang sreg di hati, bang” katanya singkat. Dari sekian berita yang memberitakan tentang tingkah laku calon gubernur dan kampanye dari tim suksesnya, ia mengaku tidak kaget. “saya dulu pernah disuruh ikut kampanye biar keliatan ramai aja, bang. Jadi, mau kampanye kayak apa juga buat saya mah kaga ngaruh” tegasnya.

“depan belok kiri, bang” pinta saya.

“kemaren saya liat di tipi, calon-calon sekarang aneh-aneh. Adalah yang lompat, ngomongnye kasar, ada nyang sampe kudu nimba sumur. Kalo kayak gitu mending kita yak, ngelakuin sesuatu apa adanya” lanjutnya sambil menaikkan kaca helm yang turun.

Obrolan di motor bersama Bang Sanip membuat saya seperti menjadi tokoh-tokoh yang yang tergambar di buku Lagak Jakarta. Dalam buku tersebut, Benny dan Mice menggambarkan manusia-manusia yang meramaikan ibukota. Mahasiswa, pedagang, dan profesi yang terlihat “ada-ada saja” demi mendapat rupiah beserta tabiatnya.

Di lain cerita, Ada satu pengamen yang sering saya temui ketika makan siang di dekat kantor. Model rambutnya seperti pelajar baru masuk akademi militer, pakaiannya robek, dan mengenakan celana pendek. Dengan bermodal botol minum berukuran kecil yang sudah diisi beras, ia bernyanyi sambil menepukkan alat musik buatan ke pinggang. Hebatnya, ketika saya coba mendengarkan dengan seksama, tidak satupun lirik yang dapat saya dengar. Suaranya seperti dengkuran khas pekerja yang kelelahan. Tapi, tetap ada saja yang memberinya uang.

Pada hari berikutnya, seorang pria dengan rambut kecoklatan, kemeja kotak dengan kancing terbuka, tanpa mengenakan alas kaki masuk ke warung tempat saya makan. Ia mengadahkan tangan, “pak, boleh minta seribu peraknya nggak? Buat beli es batu” tanpa pikir panjang, saya rogoh kocek lantas mengasih lembaran seribu rupiah. Besoknya, saya temui kembali dan ia meminta dengan alasan yang sama. “ah, setan, kena kibul gue” pikir saya

Barangkali menganggap Jakarta sebagai tempat mencari uang tak bisa kita pungkiri. Pengamen yang tidak terdengar liriknya, pengemis yang meminta dengan alasan yang sama sedikit tanda bahwa dengan cara apapun, mereka bisa hidup di ibukota.

Ada serangkaian kisah aneh yang bisa saya temui di Jakarta, termasuk mereka yang menginginkan menjadi nomor satu di ibukota. Manusia yang melompat ke kerumunan, sikap kasar yang dipoles seolah bentuk ketegasan, sampai menjadi bangau di jembatan pun bisa saya temukan. Padahal, memilih menjadi pemimpin di Jakarta sama dengan memahami satu buku penuh tentang Lagak Jakarta. Ada beragam persoalan sosial yang tergambar secara humoris namun tetap menyiratkan bahwa ada persoalan sistemik di balik itu.

Boleh jadi, Jakarta menghapus tapal batas antara pekerja kasar dengan mereka yang berebut kekuasaan. Saya, Bang Sanip dan kisah-kisah yang diceritakannya, kelakuan pengemis dan pengamen yang saya temui, cagub-cagub yang sedang berlomba, adalah tokoh-tokoh nyata dalam Lagak Jakarta. Kami semua berlagak, entah normal, entah gila, meramaikan Jakarta.

“kalau saya sih ya pengennya ada yang perhatiin budaya Betawi gitu. Kalau serangan fajar sih, bonus aja” jelasnya sambil cengengesan “lumayan kan buat beli rokok ame bensin”. Saya tak sempat balas ucapannya sambil berulangkali melihat map di ponsel untuk memastikan saya tak salah jalan.

Bang Sanip menurunkan kecepatannya, ia menunjukkan belokan di depan dan mengatakan bahwa saya segera sampai di tujuan. “Bang, di Jakarta kalau gak jadi kaya, ya jadi gila” katanya sembari menerima uang dari saya.

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s