Ada banyak hal yang hendak kusampaikan ketika kita sudah tidak bisa kembali berbincang, bahkan bersitatap. Tapi, apa boleh bikin? Aku seperti seledri di semangkuk bakso yang selalu kamu sisihkan sebelum makan. Melalui tulisan ini kuharap bisa sedikit membuka pandanganmu. Tidak, aku tidak berharap banyak. Terlintas di matamu saja itu sudah cukup.

Barangkali aku perlu jelaskan sedikit tentang bagaimana aku mencintai seseorang. Kau boleh saja menerjemahkannya sebagai ambisi sesuatu yang sulit diterima nalar. Ini akan terlihat seperti apologi tak berguna. kau mungkin saja melihat tapi malas membacanya, atau membacanya lantas kau lupakan seperti iklan di televisi, itu terserahmu.

Aku akan mulai dari kisah kolektor buku. Kamu tentu mafhum ketika seorang kolektor merelakan uangnya untuk memiliki buku-buku yang ia inginkan, tapi pernah kau terbayang ketika sang kolektor harus berpikir dua kali untuk menjajarkan buku berdasarkan pengarangnya? Brauer, seorang kolektor buku, merasa resah ketika menaruh buku-buku Shakespeare bersebelahan dengaa buku karya Marlowe, mengingat kedua penulis saling tuding-menuding perihal penjiplakan. Sama halnya dengan buku karya Vargas Llosa bersebelahan dengan Garcia Marques setelah mereka saling bermusuhan.

Sepele memang. Disejajarkan pun tidak akan timbul masalah. Tapi, aku ingin katakan bahwa imajinasi telah melampaui kenyataan, ia berpilin. Masing-masing buku dengan karakter penulis yang berbeda-beda dianggap tak akan pernah akur walaupun dalam bentuk jajaran buku-buku. Seolah mereka akan saling mengadu seperti deretan ikan cupang dalam botol yang tak kau beri sekat. Seperti halnya Brauer, kau mungkin beranggapan bahwa aku tak pantas untuk disejejarkan denganmu.

Kau bisa jadi benar, untuk apa mempertahankan lelaki yang tingkat kepekaannya di bawah rata-rata. Perlu satu dua kali amukan baru ia sadar. Mungkin kau jengah, lelah, merasa hubungan itu kau jalankan sendiri. tapi, semestinya kau tidak secepat itu mengambil keputusan. Ada sekian ribu watak manusia di kolong langit yang mesti kau selami. Kau tak bisa menggeneralisir satu dengan yang lain. apalagi, dengan waktu yang singkat.

Kedua, “mencintai itu harus sederhana” kata seorang teman. “Supaya ada batas yang kita ciptakan untuk ruang berpikir”, tambahnya lagi. Tapi, bagiku, soal kesederhanaan dalam mencintai hanya bisa dipraktikan dalam semboyan atau bait puisi. Ia seperti mustahil dijalankan. Aku tidak ingin mencintaimu sederhana seperti yang dikatakan teman atau yang dituliskan Sapardi. Sebab, apa yang mesti disederhanakan? Bagaimana bisa rasa diatur oleh tulisan? Tidak ada logika dalam rasa. Ia hanya berisi nafsu dan hasrat yang membuncah, itupun sering lepas kontrol.

Aku sempat terbayang, satu waktu, mungkin kau akan memanggilku ke dapur untuk sekadar menunjukkan kepiawaianmu menabur garam dengan mata tertutup dengan keyakinan penuh bahwa sudah sesuai takaran. Lantas, kita saling meledek. Hmm mungkin ada sesekali cium colongan.

Hari itu tidak ada kegiatan lain yang kau lakukan selain memasak. Mengolah bumbu dapur, merajang sayur, mengiris kunyit hingga warna dan bau tanganmu sudah tak keruan. Kau bahagia saat itu. Akupun lahap memakan satu per satu makanan yang kau buat. Lantas kita sama-sama begah. Menyenderkan badan dengan penuh kemalasan. “masaknya lama, habisnya sekejapan mata.” Katamu terlihat puas.

Tapi, itu dulu. Sebelum aku berdamai dengan andai-andai.  Barangkali ini yang kau anggap sebagai kedegilan. Aku membayangkan hal-hal yang membuat kau pun malas mendengarnya apalagi sempat terlintas dalam pikiranmu. “Gombal, klise, basi” begitu katamu, bahkan sesekali marah. Amarahmu seperti membangunkan istirahat Tuhan.

Hampir aku lupa, Brauer akhirnya membawa buku-buku itu ke tengah laut dan menjadikannya sebagai fondasi rumahnya. ia tahu bukunya amat berharga, berdampingan dengan buku-bukunya adalah ketenangan baginya. Mungkin kita mesti belajar dari Brauer, ia menepi ke tengah laut, menyatu dengan alam. Tidak seperti warga ke kota yang pergi ke bukit untuk memandangi kerlap kerlip lampu rumah seolah mereka tak paham keindahan malam.

Entah akan berakhir di mana setelah kau baca tulisan ini. boleh jadi sebagai bahan humor bersama teman-temanmu. Tidak apa, mungkin bagimu, menjadikan satu hal sebagai komedi adalah caramu menghindari tragedi. Terakhir, Seandainya kita dapat bercakap-cakap demi rasa “ingin tahu”, ketimbang “ingin benar”, maka kau tak perlu merasa ketakutan.

 

2 thoughts on “Hal-Hal yang Tak Sempat Kita Bicarakan

  1. padahal buku tetaplah buku. benda mati. dia tak akan lantas saling gigit kalaupun disandingkan. beda halnya dengan manusia. punya ego. mau sebaik apapun mulanya, akan ada saat untuk tidak menemukan sepakat.

    tapi, by the way…
    ini ceritanya masih ngarep balikan kah? atau gimana?

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s