“memang apa yang kau dapat dari memandangi gerlap lampu-lampu kota dari atas bukit?” tanyaku heran setelah membaca ajakanmu.

“ketenangan” balasmu singkat.

“memang apa bedanya dengan melihat lampu pos ronda dari teras rumahmu?”

“itu sudah biasa. Intinya, kau mau tidak?” tak ingin kugubris pertanyaannya. Ada hal yang harus diterima akal sehat sebelum melakukan sesuatu.

“kurasa, tidak ada yang spesial dari memandangi gerlip lampu-lampu kota dari atas bukit. Melelahkan saja”

“mengapa kau selalu menganggap ideku tolol, sih?”

“aku tidak mengatakan seperti itu. sepertinya kita harus mulai belajar melihat sesuatu”

“ah. Terlalu banyak cakap”

“kau egois”

“kenapa kau marah?”

“kau hanya menganggap apa yang kau lakukan benar, sedang aku salah” kau mengirimkan pesan suara dengan amarah yang menjadi-jadi. Percakapan kita beralih perlahan ke arah telepon seolah ini menjadi hal penting yang tidak bisa diselesaikan melalui pesan singkat “kemarin, kau bilang, senja adalah hal tak penting. ‘ia hanya peristiwa alam yang sehari-hari terjadi’ begitu kan katamu?” aku menduga ini akan panjang “begitupun nasib hujan, bau tanah, juga embun di daun talas. Semua kau anggap biasa….”

“ya memang” balasku singkat

“…mereka adalah hal yang sia-sia, tidak berhak dinikmati, dan kau mencoba menjauhi itu semua”

“Aku tidak bilang seperti itu”

dan kamu pun murka “sikapmu yang membuatmu seperti itu! kau terlalu egois. Kawini saja pikiranmu itu” nadamu meninggi “memang apa yang salah dengan menikmati sajian alam? Memang kau pikir aku atau mereka yang takjub dengan hal-hal tersebut adalah makhluk-makhluk yang tertinggal? Mengapa kau tak jawab?”

“oh, iya, egoisme tak mampu mendengar pendapat orang lain.” sindirmu

“kau sudah menjawab apa yang kau tanyakan”

“apa? Kau ini selalu menjawab dengan hal-hal yang membuatku berpikir dua kali. Tidak bisa kau sedikit tegas?”

“kau dan mereka”

“apa yang hendak kau tentang? Mayoritarianisme? Ada yang salah?”

“ya, bagiku” terdengar nafasmu menghela panjang seperti seorang guru yang sedang menghadapi murid yang terus melawan.

“mayoritarianisme hanya kumpulan sudut pandang. Ia tak memiliki substansi. ke mana kelok lilin, ke sana kelok loyang” kamu tak membalas “Aku tidak membenci apa yang diberikan alam, senja, malam, sore, pagi, siang, embun, sampai hujan yang membuat daerahku kebanjiran pun aku masih senang”

“lalu, kenapa kau selalu menolak? Bahkan terlihat membencinya”

“tidak.”

“lantas, apa?”

“tidak tahu” akupun turut kesal

“mengapa hal seperti ini selalu membuat kita bertengkarmulut, sih? Kau terlalu filosofis!”

“aku hanya ingin, kita, ada ruang untuk berdiri sendiri. ruang tempat kita berpikir dan menihilkan ruang-ruang lain di luar sana” sebelum kau membalas, “di ruang itulah kita bisa lebih waras, baik berpikir ataupun bertindak”

“terus, apa hubungannya dengan ajakanku?” kamu menyelak “aku juga waras menikmatinya. Tidak ada paksaan”

“memandangi lampu-lampu, aku rasa, membuat kita tak menghargai keindahan malam. sebab, yang kau pandangi tak lebih dari sekadar polusi cahaya. Ia justru mencemari malam….”

suaramu melemah, “tapi, tidak bisakah kita sesekali keluar dari ruang itu lalu melakukan apa yang kita tentang?” pintamu pasrah

“…burung-burung kesulitan bermigrasi, penyu enggan ke pantai.” Tutupku “sekarang, apa yang kamu inginkan?”

***

Matahari semakin menunduk, puncak gunung tinggal sepenggalah saja tampaknya. Angin petang berhembus dari arah timur. Segumpal awan gelap ikut dalam arusnya, separuh langit menggelap, para petani menaruh pacul dan aritnya ke keranjang berisi rumput, dari arah barat anak-anak mengikat tali pancingnya, senyumnya sumringah melihat tentengan ikan di embernya.

Kita duduk bersandar di bawah pohon pinus yang berdiri berjarakan di samping tanah lapang basah sisa hujan kemarin sore. rambutmu yang hitam lebat bergerakan oleh angin. Sesekali kulihat kau mencuri senyum mendengar bunyi tonggeret.

“kau bisa merebus ketela?” tanyaku “alat-alatnya ada di tasku”

“kau meminta atau meremehkanku?” balasmu curiga

Tenda selesai dipasang. Sementara angin semakin kencang. Api untuk menyulut kayu bakar takkunjung menyambar. Burung-burung yang pulang ke sarang semakin malas berkicau. Cahaya langit memulai pendarnya yang monoton. Satu per satu menunjukkan mukanya. Kadang-kadang, gerlipnya sesuai dengan suara jangkrik.

“Berapa kali kita bertengkar selama seminggu belakangan? Hmm dua.. tiga…” kau mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya “lima!”

“kok, banyak?”

“iya. Karena kau menyebalkan” ketusmu

Matamu yang kering lalu basah, tetesan airnya mengikuti kontur pipimu, lajunya melambat menuju hidung. Untuk pertama kalinya, kau merasakan betapa sejuk angin petang menelisik ke dalam tenda. Langit sudah gelap. Titik-titik cahaya itu menyerupai suatu bentuk yang familiar.

“lihat itu. rasi Taurus yang menutupi pola di sampingnya. Tanda memang ia egois” ujarmu puas

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s