Sore itu saya terjebak macet di daerah Manggarai. Tepatnya di pertigaan ke arah Saharjo dan Salemba. Volume kendaraan makin bertambah, klakson yang terus bersahutan, dan lampu hijau seperti aba-aba balapan dimulai. Jalanan kala itu seperti sirkuit. Mereka berlomba walau dengan kecepatan rendah. Tentu tidak semua bernafsu untuk cepat tiba di rumah, tetapi ada juga mereka yang mencari berkah dalam kemacetan, seperti tukang tahu bulat.

Tidak ada raut gelisah dalam wajahnya. Penjualnya duduk menghadap arah berlawanan dengan kursi supir yang entah didapat dari mana. Sambil mengolah adonan, ia menawarkan kepada pengendara yang sedari tadi lewat di sampingnya. Kemacetan semakin menjadi seraya suara azan dan suara rekaman tahu bulat beradu. “cessssss” satu per satu adonan yang telah bulat itu masuk ke dalam wajan berisi minyak panas. “tahu bulat digoreng..” “hayya ala sholaah” “lima ratusan anget-anget” “laa ila ha ilallah”. Sementara, klakson terus berbalasan.

Secara posisi mobil, jelas, penjaja tahu bulat ini turut membuat jalanan macet walau setengah badan mobilnya naik ke trotoar. Saya melambatkan laju kendaraan dan pindah ke jalur kiri. saya berhenti di belakang mobil tahu bulat. “tahu dulu, mas, daripada macet-macetan” tawarnya pada saya sambil meledek. “biji kuda ni’ orang” dalam hati saya. “enggak, mas” jawab saya kemudian. Saya mengganti lagu yang sudah habis dari ponsel saya. lampu sen kanan saya nyalakan, masih dengan kecepatan rendah saya kembali ke sirkuit.

Belum berapa jauh dari tempat saya berhenti, pengendara motor depan saya terlihat tak ada beban menghadapi kemacetan. Saya mendekat ke arahnya. Ia mengunyah tahu bulat. Plastiknya ia gantungkan di spion sebelah kiri, tangan kanan mengatur gas, sementara tangan kiri memegang kendali atas tahu bulat. “allahu akbar” sebut saya dalam hati.

Sudah beberapa bulan belakangan saya menyelangi keberangkatan ke kantor dengan menggunakan motor. Awalnya saya mengutuk mengendarai motor ke kantor, sebab jarak tempuh cukup jauh, potensi macet dan kehujanan yang tinggi, atau hal menjengkelkan lain yang akan saya temui di jalan. Supaya tidak bosan naik kereta, dua hari dalam seminggu jarak 28 km saya tempuh dengan berkendara di jalan raya.

Situasi jalan raya jauh berbeda ketimbang di dalam kereta. Ditambah, watak pengendara motor maupun mobil berbeda jauh dengan watak pengguna transportasi publik. Mereka yang di jalan seperti manusia-manusia yang lepas kendali. Dirundung waktu masuk kerja, janji dengan kolega, atau mungkin kebelet buang air bergumul dalam satu koridor di Ibukota. Marco Kusumawijaya menuliskan bahwa mereka semua tunggang langgang di Ibukota, tanpa arah berjalan, hanya hasrat dan nafsu yang mereka penuhi. Hal-hal yang dapat direncanakan, begitu di jalanan semua berubah menjadi keburu-buruan. Yang tak masuk di akal, masuk akal di jalanan.

Persona ibukota bukan lagi menampilkan jarak jukstaposisi antara kaya dan miskin, melainkan mereka yang berusaha tetap tenang di tengah kondisi yang dikutukinya. Sesekali, saya berdampingan dengan mobil di lampu merah, kacanya dibuka sedikit sehingga obrolan di dalamnya terdengar ke telinga saya. singkat cerita, ia mengecam kemacetan, mengeluhkan tata ruang kota yang semrawut, beberapa detik menuju lampu hijau, bersama temannya melakukan swafoto dengan senyum menyungging. Kali lain, saya menjadi beradab dengan berhenti sebelum zebra cross dan membiarkan orang menyebrang lebih dulu. Keberadaban saya ternyata tak penting baginya, langkah kakinya pelan, dengan tatapan percaya diri, ia berjalan seperti tidak ada kendaraan lain yang menunggu. Jakarta, seperti kata Marco, selalu menawarkan kesempatan kosmopolitan, walau sebagian warganya hidup tunggang langgang.

Sebagian dari kita mungkin mencari cara menikmati keadaan di tempat yang kita kecam, saya dengan musik sepanjang perjalanan, pengendara yang makan tahu bulat, atau mereka yang swafoto dalam kemacetan mencari cara bagaimana berdamai dengan keadaan. Tak ada yang salah dari kegiatan itu. sayangnya, ia menjadi rutinitas. Pada kondisi itu, hiburan bukan lagi menjadi selingan, melainkan tujuan. Sementara, jiwa kita kosong.

Kita mungkin takjub dengan derasnya arus ekonomi maupun teknologi yang melintasi Jakarta. Gawai selalu ada yang baru tiap bulannya, semua nampak beradu mana yang lebih dulu tiba, sama halnya yang terjadi di jalan. Pada posisi itu saya banyak bertanya pada diri sendiri, apa yang saya cari? Apa yang hendak saya kejar sebetulnya? Jalanan, setidaknya, membuat saya berkaca diri. Kita dengan rutinitas-rutinitas itu adalah liyan.

Di jalan, proses mencari “aku” dalam wacana liyan makin kontras. Kita tidak sadar, kita adalah anonim-anonim yang ajek berkumpul dalam satu koridor besar, jalan raya. ruang-ruang personal itu muncul dalam klakson yang beradu, dalam mereka yang melambatkan laju, dan bahkan mereka yang menepikan kendaraannya. Sementara kita mengutukinya, besok atau lusa melakukannya kembali.

Penjaja tahu bulat adalah oposisi biner dari keliyanan jalanan. ia bukanlah klise yang bisa dicetak berulang-ulang dan mengaburkan makna. Ia adalah kamera itu sendiri yang merekam “keliyanan” kita setiap harinya. ia adalah tamparan keras bagi rutinitas kita yang sebetulnya masih banyak tanya, tentang apa yang kita cari, tentang apa yang hendak kita kejar, bahkan tentang kita yang kerap bertanya apa yang sebetulnya kita kerjakan.

Jalanan kemudian melahirkan celah jukstaposisi baru, bukan si kaya dan si miskin, melainkan pengendara motor dan penjaja tahu bulat sebagai dua objek dalam tataran ruang kolektif yang sama. Celah itu kemudian muncul dari kita yang dibingungkan dengan kegamangan identitas. Pada posisi itu, saya hendak menyadari tahu bulat dan saya hampir tidak ada beda, repetitif, monoton, dadakan, bahkan tanpa isi.

Advertisements

One thought on “Tahu Bulat dan Keliyanan Kita

  1. Kegelisahan, dipertemukan dengan objek pemantik imajinasi. Habis sudah.
    Saya belum pernah merasakan macetnya Jakarta karena memang bukan orang yang tinggal di Jakarta. Tapi soal pencarian identitas dan tanya-tanya semacam itu memang kerap muncul di benak saya. Dan masih penasaran bagaimana harus menjawabnya. Terlepas dari itu, tulisan ini keren. Bangats!

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s