Kesejahteraan Sosial 2.0

Terima kasih atas atensi teman-teman yang telah membaca tulisan pengantar saya mengenai Ilmu Kesejahteraan Sosial. Respon teman-teman melalui kolom komentar dan beberapa email saya coba teruskan dengan menuliskannya secara garis besar di blog ini. dari pertanyaan-pertanyaan kalian, saya merangkumnya ke beberapa bagian, di antaranya, prospek kerja, mata kuliah yang dipelajari, dan pengalaman yang saya dapat selama kuliah.

Prospek Kerja

Saya harus memulainya bagian ini dengan kata “abstrak”. Pasalnya, kuliah di Kesejahteraan Sosial berbeda dengan Kedokteran. Jika Kedokteran sudah memiliki garis linear menjadi dokter, tidak demikian dengan kuliah di jurusan sosial. Sekarang, saya bekerja di salah satu NGO berbasis hak asasi manusia di Jakarta sebagai peneliti. Teman sejawat saya di Bank BNI di bagian HRD. Ada pula yang membuat organisasi, baik berbentuk wirausaha, maupun sosial.

Akan bekerja seperti apa akan terlihat dari keseriusan kalian di perkuliahan. Maksudnya, minat-minat kalian terhadap suatu pekerjaan akan terbayang dari apa yang kalian lakukan semasa kuliah. Jika kalian senang berdiskusi, membaca, atau menemukan hal baru, mungkin peneliti salah satu jalannya. Tapi, jika kalian senang untuk bekerja di dalam ruangan satu hari penuh, menjadi pekerja kantoran adalah jawabannya.

Dunia perkuliahan jauh berbeda dibanding dengan dunia sekolah. Jika di dunia sekolah, kalian lebih banyak “disuapi” oleh guru untuk mendapatkan pelajaran, di dunia perkuliahan, kalian harus menyuapi diri kalian sendiri, sebab dosen hanya stimulus saja. Selebihnya, kalian lah yang menentukan mau menemukan lebih jauh tentang mata kuliah tersebut atau tidak. Dari sana, akan terlihat kegigihan kalian mempelajari mata kuliah dan minat kalian juga bisa terlihat dari situ. Saya hanya ingin bilang, mencari pekerjaan tak ubahnya ungkapan “posisi menentukan prestasi”, namun “posisi” di sini sebagai keseharian kalian di perkuliahan dan mencerna materi. “prestasi” itu nanti akan dengan sendirinya tercapai.

Kembali ke terma “abstrak”, kalian bisa m

Kerja keras adalah keharusan. Sementara, hasil adalah bonus.

Mata Kuliah

Di zaman saya, semester satu dan dua diawali dengan mata kuliah dasar. Materi-materi yang sudah kalian dapat sewaktu sekolah, seperti Bahasa Indonesia, Sosiologi, dan Kewarganegaraan. Mulai semester tiga dan selanjutnya, akan menjurus ke mata kuliah yang lebih spesifik ada filsafat, pekerjaan sosial mikro dan makro, pembangunan sosial, sampai ke tingkat penelitian akhir atau skripsi.

Menjadi mahasiswa sejatinya membuka cakrawala kita tentang bagaimana melihat dunia, terlebih lagi kuliah di jurusan sosial. lantas, kalian akan menyadari bahwa kalian hanyalah sekrup kecil di dunia ini. sekrup itu semakin kecil ketika kalian hanya melihat dan menyimpulkan satu masalah hanya dari satu sudut pandang. Maka dari itu, diskusilah yang menghidupkan ruang kuliah. Ada dialektika yang muncul ketika kalian banyak melihat, mengenali, membaca, dan memahami sesuatu. Itu yang membedakan ruang kuliah dengan ruang ibadah.

Di ruang kuliah, kalian akan menemukan beragam persepsi dari kawan bahkan dosen yang mungkin berseberangan ataupun sejalan. Berilah jarak pada persepsi-persepsi tersebut, ciptakan ruang berpikir, olah nalar untuk menemukan persepsi baru.

If you can’t stand for something, you will fall for anything

Pengalaman kuliah

Ilmu Kesejahteraan Sosial sejatinya porsi kuliahnya condong ke arah praktik. Teori di kelas hanyalah stimulus dan sebagai syarat ujian. Saya rasa memang begitu semestinya. Terlepas dari apa dan dari mana latar belakang kita, terjun langsung menerapkan teori adalah keniscayaan. Tidak berarti populis, sebab pertemuan dan percakapan dengan orang yang membuat kita menjadi manusia. Dari sana, akan muncul kepekaan bahwa ada yang kurang dan ada yang harus ditingkatkan. Mahasiswa bukanlah kotak kosong yang menunggu bola, ia harus menjemput bola itu untuk mengisi dasar-dasar kotak.

Sambil saya menuliskan bagian ini, saya ingat ada kegiatan-kegiatan yang dulu saya ikuti di luar perkuliahan, seperti berorganisasi, berolahraga, dan mengunjungi perpustakaan. Tiga hal itu yang menjadi rutinitas saya selama masa kuliah. Berorganisasi menurut saya penting. Tidak harus terlibat dalam tiap tingkatan (jurusan, fakultas, universitas). Salah satu saja cukup sebagai pengalaman bekerja bersama teman yang ke depan akan banyak kita alami pasca kuliah. Kemudian, olahraga. Paling tidak seminggu dua kali saya lari atau bulutangkis. Masa-masa kuliah membuat jam tidur saya tidak karuan, jam makan yang tak sesuai waktunya, dan hal-hal lain yang jauh berbeda ketika saya sekolah. Sebagai penyeimbang, saya berolahraga. Tidak rutin. Asal berkeringat saja.

Terakhir, perpustakaan. Sebetulnya tak terkunci pada perpustakan. Saya hanya mencari tempat yang nyaman ketika membaca buku. Pernah di perpustakaan, pernah pula di pinggir danau yang ada di kampus. Nekat saja. Bosan di kosan, sambil liat orang mancing dan semilir angin saya baca di pinggiran sambil membawa bekal. Iya, sendiri. saya punya kegiatan rutin setelah sekolah, dalam satu waktu (entah rentang sebulan atau seminggu sekali) saya menepi, berkontemplasi. Tujuannya untuk memberi jarak saja dengan apa yang telah dilakukan, supaya saya selalu waras dan tak memutuskan sesuatu secara terburu-buru.

Pengalaman kuliah saya selama 3,5 tahun tentu banyak. Saya hanya menuliskan garis besarnya saja. Tulisan ini saya peruntukkan untuk kalian, teman-teman SMA, yang mungkin sedang cari-cari info tentang Kesejahteraan Sosial. gaya bahasanya saya permudah supaya tidak terlihat mengajari. Ini penutup dari saya. terakhir, saya terbuka untuk segala macam pertanyaan, tentunya yang terkait dengan perkuliahan, kalian bisa tanyakan di kolom komentar atau kontak saya via email.

Terima kasih.

9 thoughts on “Kesejahteraan Sosial 2.0

  1. Sebagai orang yang di pendidikan dasar dan menengahnya terlalu eksakta tapi di kuliahnya sekarang harus berpindah haluan ke ilmu sosial, saya mendapat pengetahuan banyak dari tulisan ini. Saya pikir dapat pula diterapkan ke perkuliahan jurusan ilmu sosial secara umum. Pendekatannya agak sedikit berbeda karena ilmu sosial ini sifatnya sangat elastis ya.
    Dan saya malah baru tahu ada jurusan Kesejahteraan Sosial. Boleh dong dishare lebih jauh soal mata kuliah yang unik di jurusan ini, hehe.

  2. Kakak kenapa pilih ilmu kesejahteraan sosial?sarjana kesejahteraan sosial bisa bekerja di Kementrian Luar Negeri?

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s