Selepas maghrib, gerobak penjual makanan mulai merapatkan barisan membentuk satu deret seperti membentengi gapura Taman Ismail Marzuki. Penjual makanan itu kemudian membentangkan spanduk bekas untuk alas duduk pengunjung. Pelataran Taman Ismail Marzuki menjadi salah satu sudut teramai di Cikini. Dengan modal ngemper dan beratapkan langit, kita bisa memilih beragam makanan khas pedagang kaki lima. Makin malam, makin ramai pengunjung yang datang. Biasanya, pengunjung yang datang berkelompok. Sekelompok teman kantor, mahasiswa, atau buruh harian lepas. Salah satunya saya saat itu.

Bersama Putri dan seorang temannya, kami menjadi salah satu kelompok di antara kerumunan yang ada. Putri adalah teman KKN saya dulu. Ketertarikan kami pada beberapa topik pembicaraan yang sama, membuat saya dan dia seringkali berinteraksi. Sementara saya pesan makanan, ia dan temannya duduk menjaga tempat kami agar tak diserobot orang.

Baru saja duduk di atas spanduk besar yang dijadikan alas, Putri menyodorkan tangannya ke arah mulut saya seperti jurnalis yang sedang mewawancarai narasumbernya, “bagaimana cara bapak menjaga kewarasan?” tanyanya. Jika bertemu, hampir sering kami membicarakan beragam hal semisal sastra, kegiatan kerja, topik yang sedang hangat di media, sampai hal remeh temeh. Saya memilih menanyakan perkembangan skripsinya ketimbang menjawab. Sambil mengalihkan topik, saya memendam pertanyaannya.

***

Pria itu melangkah pelan dengan sandal jepitnya di jalan yang masih basah karena hujan, ia menuju ke tempat saya makan. Sambil menyisingkan lengan bajunya “sotonya, dua, pak” pesannya. Tak lama, temannya datang, ia melonggarkan ikat pinggangnya sambil mengeluarkan sebagian hemnya dari celana. “sudah di pesan?” tanyanya memastikan. Lalu, dibalas dengan anggukan.

Setiap makan siang, saya seringkali berdampingan dengan pegawai-pegawai dengan pakaian necis dan rambut yang klimis. Biasanya, mereka adalah pegawai pemerintahan atau karyawan swasta. Pada jam istirahat itu, mereka berkerubung di satu sudut jalan yang penuh jajanan. Melonggarkan ikat pinggang, memandangi ponsel sepuasnya, dan memesan makanan, kemudian tertawa sekencang-kencangnya.

Mereka adalah pengisi kubikel-kubikel kantoran. Pria-pria dengan sepatu mengkilap menekan keyboard dengan sedikit tekanan dan wanita berhak tinggi yang menatap layar komputer sambil memijit nomor telepon, sesekali mencuri waktu mengintip ponsel. Aktivitasnya begitu template. Boleh jadi, mereka dengan aktivitas monotonnya hanya dapat melihat matahari ketika jam istirahat atau pulang kerja.

Di jam istirahat, template­ itu tidak ada. mereka berinteraksi dengan lepas, membicarakan hal yang tak sempat dibicarakan di jam kerja. melepaskan riasan artifisial “ada yang bisa saya bantu?”. Di depan semangkuk soto, mereka menjadi apa adanya. Sendal jepit dan hem yang keluar dari celananya menahkikan kejujurannya.

Di lain cerita, saya menegur restoran karena makanan saya tidak juga datang. Katanya, ia lupa, memberikan pesanannya ke bagian pembuat makanan. Kejadian itu dilihat oleh manajernya, ia langsung dipanggil masuk ke dalam ruangan. Entah apa yang dibicarakannya, saya merasa bersalah.

“silakan, mas. Maaf, ya” katanya sambil menaruh piring berisi makanan pesanan saya. Dengan sigap, ia langsung menuju meja lain, senyumnya menyungging lantas menu makan ia berikan ke tamu yang baru saja datang. Sambil makan, saya memerhatikan pelayan itu. Pesanan telah dicatat, ia berjalan ke arah dapur menempelkan pesanannya. Ia menyenderkan badannya ke dinding, mimiknya menjadi datar.

Saya mafhum, senyum depan pengunjung adalah standar pelayanan sebuah restoran. Barangkali langkah mereka pun ada aturan tertulisnya. Jauh dari pengunjung, menuju dapur, saya melihat jeda itu. jeda pelayan mendatarkan mimiknya, melipat senyumnya, atau menekuk kakinya dengan santai. Hal yang tak mungkin dilakukan dihadapan pengunjung.

***

Pelataran Taman Ismail Marzuki semakin ramai. Orang-orang yang duduk berkelompok membentuk lingkaran obrol sendiri. lantas, menertawakan apa yang dibicarakannya. Suara tawa itu beradu dengan tembang yang dinyanyikan pengamen yang tak putus-putus bernyanyi berpindah dari satu lingkaran ke lingkaran kelompok lain. Waktu berbincang saya dibatasi oleh jadwal keberangkatan kereta. Sambil memendam pertanyaannya, saya pamit pulang ke Putri.

Di jalan pulang, saya ingat kembali pria yang makan di samping saya dan pelayan restoran. Boleh jadi, melonggarkan ikat pinggang sembari mengeluarkan hem dari dalam celana atau mengganti sikap kaki ketika bersandar di dinding adalah upaya mereka mempertahankan kewarasan dalam hidup yang penuh tekanan. Keadaan di mana mereka lepas dari aturan-aturan tertulis dan atmosfir yang monoton adalah kewarasan itu sendiri.

Barangkali, menggunakan sandal jepit atau mengubah mimik muka adalah jeda sederhana. Mereka tak mencari jeda panjang supaya bisa leyeh-leyeh. Yang saya temui adalah jeda yang dimunculkan untuk menciptakan batas antara rutinitas keseharian dan kesadaran. Jeda itu kemudian muncul yang mampu membuat kita mengidentifikasi dan mengabstraksi sebuah masalah. Ia yang membuat kita mengingat tentang kesalahan-kesalahan atau tekanan-tekanan yang kita dapat, untuk kemudian ditertawakan.

Kelompok-kelompok kecil di Pelataran Taman Ismail Marzuki bisa jadi adalah kumpulan manusia yang keluar dari “alterego”-nya. Mereka bukanlah manusia yang menghadap kubikel atau pelayan yang menyunggingkan senyum pada pengunjung. Mereka, dalam jeda yang dibuatnya, adalah hem yang dikeluarkan dari celananya, sendal jepit yang dipakainya, tawa yang lepas, atau mimik muka datar yang tak ditunjukkan depan pengunjung.

Pada mereka saya merasa tersentil, saya menyadari ketika memendam pertanyaan Putri saya mencari jawaban konkret bagaimana saya merawat kewarasan. Nyatanya, menjaga kewarasan tak berarti menabrak pakem-pakem yang ada. bisa jadi, ia adalah ruang kecil dari rutinitas keseharian kita, seperti selonjoran, melonggarkan ikat pinggang, atau menertawakan hal-hal yang lalu. Dalam kegiatan itu kita mampu berpikir tenang, logis, sehingga kita bukanlah mesin-mesin yang digerakkan oleh aktivitas-aktivitas monoton itu. hutang saya pada Putri bisa dibilang lunas, namun, kini saya bingung, apakah saya harus menertawai tingkah pegawai dan pelayan itu atau menertawakan diri saya sendiri.

 

Advertisements

One thought on “Yang Tertinggal di Taman Ismail Marzuki

  1. pak keren pak. ternyata sikap saya yang sering memperhatikan orang lain seperti bapak, sudah saya terapkan sejak kecil, dan banyak gumaman panjang seperti yang ditulis seperti ini, yang jika saya sudah mengerti arti menulis saat itu. anda pasti akan melihat tulisan saya tentang “bang Jait, si tukang sayur yang bermain bola”. tulisan anda keren-keren. btw follback bro :’))

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s