Kau boleh saja mencari segala bentuk dalih yang menyatakan dirimu baik-baik saja, tidak ada satupun hal yang mengganggumu, atau menganggap keadaanmu nyaman saja. Tapi, kau tidak bisa mengelak dari rasa. Ia yang bisa mengubah tingkah lakumu seketika, mengubah persepsimu melihat sebuah keadaan bahwa kau bisa saja hanyut dalam apa yang kau benci pada awalnya. Kau, secara tidak langsung, akan tenggelam dalam suasana melankolis nan dramatis itu.

Kau mulai berpura-pura bahwa kau tidak mengetahui apa-apa. Padahal, tak ada satu jengkal pun yang kau lewati darinya. Jadwal keberangkatan kerja, model pakaiannya, wangi parfumnya, bahkan hal-hal sederhana lainnya, seperti selera humor atau kebiasaan buruknya. Lagi-lagi, kau tidak bisa berdalih dari apa yang sebetulnya kau perhatikan tapi kau menutupinya. Sampai pada satu waktu kau bertanya dalam hati, “mengapa saya melakukannya?”

Pertanyaan yang kemudian akan membawamu pada pertanyaan-pertanyaan lain. hal-hal lebih dalam yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya; 1. Mengapa kita tidak bisa menjadi manusia yang bebas nilai?, 2. Mengapa kita merasa tertekan ketika beda dengan yang lain?, 3. Mengapa persoalan sederhana harus dipikirkan?, 4. Mengapa kau harus saya pikirkan?, 5. Mengapa saya harus menuliskan senarai pertanyaan?

Aku ingat ketika kau bercerita bagaimana jarak menyadarkanmu akan beberapa hal. Bahwa kita sebagai manusia sejatinya bertanggung jawab atas diri kita sendiri, bahwa tak ada tempat untuk bergantung atau menaruh harap pada siapapun, bahwa sudah semestinya kita menciptakan ruang sendiri. ruang yang kemudian akan menjadi tampah bagi masalah-masalah yang lewat di pikiran. Sebab kau tahu, kau tak perlu menjawab setiap masalah yang ada.

Kau memahami bahwa ketika bertanggung jawab pada satu hal, sedianya ada sisi lain yang lepas dari tanggung jawab kita. kita harus membatasi apa yang menjadi tanggung jawab kita. bertanggung jawab pada satu batasan tertentu. begitu bukan yang dibilang Derrida? Iya. Filsuf yang baru kau kenal ketika kau mengikuti satu kelas tentang manusia dan pertanggungjawaban. Sekilas perbincangan kita waktu itu terlihat berbobot, padahal tidak juga. Kita lebih banyak menertawai kebodohan kita menghadapi masalah. Kita kerap detil dan mendalam ketika kita merefleksikan sesuatu tapi pongah mendadak saat masalah itu muncul.

Tentang esensi menciptakan diorama air terjun dalam rumah beserta kicauan burung dalam bentuk rekaman menjadi perdebatan panjang. Mengapa manusia menciptakan hal itu? untuk apa? Dalih-dalih untuk menciptakan ketenangan pun tidak cukup. kau menimpali “iya, betul. Memang apa bedanya tenang karena melihat geliat cacing tanah dengan diorama air terjun dalam rumah?” kemudian kita sama-sama mengamini. sementara, kita lupa bahwa beberapa hal telah kita lakukan secara artifisial.

Aku ingin kita bertemu dan kembali meracaukan tentang bermacam hal seperti sore itu tiga tahun lalu. Tanpa kita dituntut untuk menghasilkan sesuatu dari perbincangan kita. sebebas apa yang hendak kau utarakan saja. Kau boleh tertawa, mengeluh, atau menanyakan kembali hal-hal yang tak selesai sepanjang perbincangan. Kita akan berbincang tanpa pretensi. Sebab, kita telah mafhum bahwa ada baiknya kita menjadi banal. Kita tak mesti menjadi pahlawan super yang dapat menyelesaikan satu masalah. Kita memilih untuk menjadi biasa saja. Kita tidak menjadi individu yang narsis, tapi kita menjadi individu yang belajar bertanggung jawab pada diri sendiri.

Kita kemudian menyadari bahwa kita tidak bisa menjadi super yang dtunggu dan diminati banyak orang. mungkin kita akan hanya akan menjadi sekrup kecil dalam sebuah kerangka besar. Namun, kita menjadi lebih puas ketika kita menyelesaikan hal-hal sederhana tanpa tuntutan dan harapan macam-macam.

Kau tak perlu menebalkan alis, menggoreskan gincu, juga merekam pertemuan kita lantas dinikmati banyak orang. Kau hanya perlu menjadi apa yang kau inginkan saja. Momen itu akan menjadi intim walaupun kita akan berbincang di kedai makanan dengan banyak pengunjung. Kita akan pulang dan menghasilkan pertanyaan yang sama, “apa yang sejak tadi kita perbincangkan?” lantas senyum tersungging dan membiarkan hal itu berlalu.

 

Advertisements

One thought on “Sore Itu Tiga Tahun Lalu

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s