Air Hangat di Belakang

Seminggu terakhir, saya pulang telat ke rumah. Alasannya, ada kegiatan tambahan, menghindari jalan yang ramai saat jam pulang kerja, atau saya tidak ingin desak-desakkan di kereta. “suwe temen (lama banget)” kata Ibu ke saya yang baru membuka pintu. Setelah membuka pintu, ia kembali ke posisi semula. Di atas jam 10 malam, ibu pasti sudah membaringkan badan di kasur dengan keadaan televisi menontonnya tertidur.

Suara grasak-grusuk saya menaruh tas, menggantungkan jaket, kembali membangunkannya. “banyu panas’e ning mburi (air hangatnya di belakang)” kata ibu mengingatkan dengan matanya terpejam. air hangat yang disiapkan ini jadi ciri-ciri kalau ada anggota keluarga yang pulang larut. Kebiasaan ini berlangsung sejak saya SD ketika bapak sering pulang malam saya sering diminta ibu untuk memanaskan air. Supaya bapak tidak perlu lagi mengisi ceret dan menjerang air. Atau, kalau airnya sudah tidak terlalu hangat, setidaknya hanya butuh beberapa menit saja dipanaskan.

Selepas mandi, saya rebahan di kasur. Tetiba, menyadari kalau bulan ini bertepatan dengan satu tahun saya menetap di rumah. Sebelumnya selama kurang lebih empat tahun, saya banyak menghabiskan waktu di kos. Kehidupan di rumah berbanding terbalik dengan kehidupan semasa kuliah. Mandi sekali, pulang larut, bangun siang, dan segala kemalasan lainnya hampir menjadi kebiasaan yang membudaya selama kuliah.

Kebiasaan di kos terpatri di diri saya. kebiasaan yang tidak teratur kadung membuat nyaman. Saya kaget beritu kembali ke rumah. Tidak ada yang tidak teratur di rumah. Jadwal yang ajeg, sudut yang rapi, dan keteraturan-keteraturan lainnya membuat saya merasa asing. Padahal, saya tahu, saya hanya kembali.

Dalam bukunya, Pulang, Toha Mohtar menggambarkan kepulangan Tamin, bekas kombatan Heiho, kembali ke desanya. Mohtar menceritakan kepulangan dan kegelisahan Tamin dengan apik. Tamin begitu sentimental mengingat kembali masa kecil di desa. Ia merayakan tiap langkah kakinya menuju kampung halamannya. Tanah diambilnya segenggam, lantas dilemparkannya ke air hingga menimbulkan suara yang perlahan menghilang. Ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Pulang, bagi Toha Mohtar, bisa jadi sebuah perayaan.

Ada satu fragmen yang saya ingat, “pulang. apakah yang dapat lebih menggelorakan hati daripada mengalami pertemuan dengan keluarga kembali?”. Pulang bukan lagi transit, melainkan sebuah tujuan. Tamin merindukan suasana desa yang guyub, kesejukan Gunung Wilis, dan tentu kehangatan keluarganya setelah bertahun-tahun ditinggalnya.

Ada satu kawan saya yang hanya mau makan rendang bikinan ibunya. “Van, bukannya gue gak suka, tapi kalo rendang, cuma buatan ibu gue aja yang masuk akal” katanya meyakini saya. mendengar pernyataan itu baru pertama kali saya teringat satu hal yang saya yakini hingga sekarang, “lebih baik menahan buang air lalu mengeluarkannya di rumah, daripada harus di toilet umum”. Mungkin bagi saya remeh, tapi bagi kawan saya boleh jadi rendang buatan ibunya semacam panggilan kecil untuknya. Mau tak mau, untuk menikmati rendang, ia harus lebih dulu bertemu ibunya.

Pulang tak lain adalah kembali. Ia mensyaratkan satu hal, yaitu perjalanan. Ada langkah yang kita ambil dan lewati, untuk kemudian berhenti, menghela nafas yang panjang. lalu, kembali melangkah di jalan yang sebetulnya tak ada ujung.

Tanah yang digenggam Tamin, dan rendang adalah panggilan “kepulangan” itu. kepulangan bukan berarti selesai. Ia adalah helaan nafas yang panjang pada satu titik dari sebuah perjalanan. Tiap orang memiliki panggilan kecil masing-masing yang membuat dirinya pulang.

Air hangat di belakang adalah irisan dari himpunan rumah dan perjalanan saya. Panggilan kecil itu yang ternyata membuat saya kembali. Ia adalah ingatan yang memanggil saya untuk menjadi tidak asing. mengenal kembali rumah dengan segala keajegan, kerapihan, dan keteraturan lainnya.

Keesokan harinya, saya berusaha untuk tiba di rumah lebih awal. Bukan karena saya merasa bersalah, melainkan saya sadar bahwa masih ada air hangat di belakang.

 

 

 

Advertisements

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s