Sekitar dua minggu lalu, saya berencana menemui Galih di kedai makanan di bawah Omuniuum. Pertemuan itu sebetulnya tidak sengaja. Secara kebetulan, kami berada di satu kota yang sama, Bandung. Alasan lain, saya hendak mengintip proses pembuatan album barunya.

Dari arah Dago, saya dan Eka melaju ke Cieumbeuleuit dengan motor sewaan yang suara mesinnya terdengar tak siap dikendarakan jarak jauh. Kami melaju dengan kecepatan rendah sembari khawatir hujan akan turun atau motor yang tiba-tiba tak bernafas. Dengan penuh kehati-hatian, tiba juga kami di emperan toko depan Universitas Parahyangan itu.

Dari kejauhan, samar-samar, saya melihat seorang pria dengan celana jeans belel, sendal gunung, dan kaos kutang dengan tulang pundaknya yang kentara seperti kebingungan mencari seperti mencari sesuatu. Setelannya seolah menantang alam yang sedang tak waras kala itu. ia menghampiri saya, “eh, Van, gimana kabar? aing nyari tukang cd euy. Di mana nyak?” sambut Galih dengan logat sundanya. Tentu tak saya jawab di mana lokasi tukang CD.

Ia menyuruh kami duduk. Beberapa botol bir menganggur di atas meja. Perbincangan dimulai basa-basi, tentang tujuan kami selanjutnya, di mana kami menginap, dan remeh temeh lainnya. Galih kemudian bercerita tentang keperluannya di Bandung dan proses penggarapan album barunya. Tak lama ia bercerita, seorang wanita memberhentikan perbincangan kami.

“A, minumannya dibayar heula” sela seorang pramusaji yang memotong pembicaraan kami. Galih langsung mengubah posisinya, grasak grusuk, menuju meja kasir. “sabaraha, teh?”. Menjelang maghrib, kedai tempat kami berbincang itu hendak tutup. Pengunjung yang sedari tadi ngobrol ngalor ngidul terpaksa dipotong untuk kemudian ditagih biaya pesanannya.

sebenernya yang spesial dari album ini adalah gue nge-take sekali doang” katanya kembali memulai, “genjreng-genjreng depan mic, rekam, udah gitu aja”. Saya kemudian diberi kesempatan melirik bocoran album barunya bertajuk, Tanahku Tidak Dijual. Saya mengamati seksama lirik-lirik lagu dan desain albumnya. Sambil mengangguk-anggukan kepala, “liriknya singkat, kayak puisi ya” ujar saya. Kalau ada Bens Leo atau alm. Denny Sakrie samping saya, mungkin ia akan menjiwit lantas biilang “jangan sok tau”.

Kali ini, Galih kembali bermain sendiri setelah sebelumnya ia bersama enam orang lainnya membentuk “Deugalih and Folks”. Kesendirian Galih di Album ini tak bisa saya lepaskan dari Album Anak Sungai ketika masih berformat band. sepuluh lagu yang mayoritas bertemakan lingkungan dalam album tersebut cukup menyenangkan.

Tapi, berangkat sendiri pun tak membuat Galih lupa menyisipkan pesan pada tiap lagu yang digubahnya. “di album ini kental dengan isu agraria. Dari jaman kolonial, sampai sekarang. tentang kepemilikan tanahlah” bukanya kembali. 14 lagu yang ada di Album Tanahku Tidak Dijual terangkum sederhana dengan lirik-lirik singkat tiap lagunya khas kuatrain atawa bait balada. Ditambah, desain album ini yang penuh warna ditaksir menarik mata orang yang melihatnya.

fasdf

Seperti halnya lagu beraliran Ballad, liriknya singkat dan sarat repetisi. Namun, ekspresif. Pesan-pesan yang terkandung dalam lagu-lagu Galih mengingatkan saya pada Iwan Fals saat muda, dan Ebiet G. Ade yang kerap melantunkan kepulangan. Liriknya satiris, jenaka, dan berkisah tentang kehidupan sosial juga kritik otokritik perihal suka duka kehidupan.

Sepertinya bukan masalah bagi Galih menyusun materi album bertemakan isu-isu tertentu, baginya lagu-lagu yang ada di album barunya ini sederhana. Terlebih, ia diam-diam tengah menyiapkan materi untuk album berikutnya. “Gue pengen semua denger, gue pengen semua main, gak terkotak-kotakkan” harapnya sambil menyalakan rokok. Saya memahami pesannya. Mungkin terlihat berat, tapi lagu-lagu yang di album ini pun ditujukan untuk meledek situasi negara belakangan, “tanah di jogja dirampas, pabrik semen yang dipaksakan, intinya menyuarakan fenomena tersebut” tungkasnya.

Jika ditengok kembali desain dalam album ini, memang nampak sederhana. Dengan latar warna pastel, dibubuhi sebuah foto yang digores dengan crayon. Bagi saya, itu adalah upaya Galih dan tim mendorong semua orang turut mendengar, memainkan, dan memainkan lagu-lagunya. Tanpa terbatas pada argumen, “ah ini bukan selera gue” karena mengusung tema tertentu.

Kombinasi antara desain dan lirik di album ini mencoba memutus jarak bahwa lagunya bukan untuk kalangan tertentu. Ia mencoba untuk merapatkan kesenjangan antara mereka yang mencari arti pada sebuah karya seni dan yang menikmati karya seni semata-semata. Singkatnya, upaya Galih untuk menutup celah yang hadir karena lagu-lagu yang bertemakan agraria—yang kerap disebut “serius—dengan desain unik dan lirik yang tidak diribetkan dengan akrobatik kata.

Selang sehari kemudian, saya diberi kesempatan lebih untuk mendengarkan lagu-lagu dari album tersebut. Sejauh pendengaran saya, nuansa Deugalih and Folks masih menempel di telinga, hanya minus tin whistle. Mungkin karena pada format Deugalih and Folks itu, Galih juga memainkan beberapa lagunya sendiri. jika saya mau bilang, Deugalih ketika masih format band dan solo, tidak jauh berbeda. Apalagi, Galih tak bisa jauh-jauh dari gitar akustiknya.

Tapi, yang menjadikannya lain adalah Galih mengajak ingatan kita untuk berangkat ke masa kolonial. Masa di mana perebutan tanah menjadi keseharian dan sialnya, praktiknya berlangsung hingga sekarang.

Pada tanah-tanah yang diambilalih paksa dengan senjata hingga mengorbankan darah manusia, Galih membuka tema agraria pada album ini dengan lagu “War, Oil, Food, and Land of Promise”. Kemudian semakin dikuatkan dengan lagu lainnya, seperti “Jalur Tebu”, “Prebendal”, “Papua o Noukai” dan “Tanahku Tidak Dijual”

Di ufuk timur, priyayi kuasa atas pertiwi,

Dan tivi milikmu pula, melumat sadar yang kaususun sendiri.

Di segala penjuru-penjuru,

Dihilangkan, dibunuh.

 Tanahku tidak dijual.

Ancaman penguasa kepada kelompok rentan tersuarakan dengan dominasi bass. Ia seperti tekanan dari seorang petugas yang datang ke rumah warga lalu mengetuk-ngetukkan pintu kemudian memaksa tanahnya untuk dijual. “untuk keperluan negara” katanya. Warga pun pasrah. Melawan ditindas, tak melawan merugi.

Di album ini, Galih menghadirkan “orang dulu” masuk ke dalam albumnya. Ia menyinggung tentang “Kalathida” karya Ranggawarsita, pujangga keraton Surakarta. Di lagu ini, saya kesulitan mencari inti pesannya. Sebab, menggunakan bahasa lokal dan saya belum pernah membaca Serat Kalathida aslinya. tidak begitu juga dengan “Kalabendu”, Galih menggubah wejangan Kalathida untuk menceritakan sebuah zaman di mana keadaan sudah kacau balau dan tak ada orang yang mesti dipercaya. Pada lagu “migrant worker”, Galih nampak nakal dengan lirik menyentil kehidupan pekerja migran yang kerap diperlakukan keras oleh majikan, sementara ia tak bisa lepas, terkungkung, pada satu harap demi memenuhi kebutuhan anaknya. di lain sisi, negara bersangkutan seolah mewajarkan hal itu terjadi.

Upaya Galih menginkarnasikan album ini muncul pada lagu bertemakan manusia urban. Melalui lagu “Di Kampungku” sebagai single, Galih menyinggung tentang kepulangan. ia menggambarkan keruwetan masyarakat urban di kereta. Para pekerja komuter yang ditulisnya dalam lagu “Duit Nyangkut di Kota” sebagai akibat “dipaksa pergi, nyangkut di kota” tengah menjalani rutinitasnya menggunakan kereta, mengumpulkan pundi-pundi rupiah di ibukota, duduk seharian depan kubikel, dan merindukan ketenangan kampung halaman, “wajar saja kalau aku ingin pulang”.

Suara Galih seperti ledekan pada “robot-robot” itu. Kalau bahasa sundanya, “ek sakumaha wae beuratna pagawean, bakalan hampang lamun henteu dipigawean“. “Di Kampungku” menjadi sentilan bagi pekerja urban. Mereka yang sehari-hari menjadi pion ibukota dengan segala tuntutan ala masyarakat kota sebetulnya merindukan hal yang sederhana, keramahan orang tua, sapaan tetangga, dan lainnya. Tapi, apa hendak dikata, kota kadung menenggelamkan mereka pada hasrat, nafsu, dan ambisi, sehingga Kampung hanya mampu dihadirkannya dalam perilaku klise atau diciptakan dalam bayang-bayang semu.

“Kurang Piknik” melengkapi kebiasaan masyarakat urban. Marah, membual, seperti menjadi syarat untuk jadi warga kota. kurangnya piknik atawa liburan membuat mereka hidup seperti manusia beringas yang kehilangan habitatnya. Dengan gaji pas-pasan, manusia-manusia kurang piknik ini dipenuhi ketakutan, takut telat, takut macet, takut lain-lainnya, dan harus menutupinya dengan sifat konsumtif mereka dengan membeli segala barang untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Tak lupa dengan kisah cinta tiga babak yang disindir Galih pada lagu “Siti di City”. Ia mulai dengan dehaman di intro seperti mengatakan “ada ada saja” pada generasi milenial. Jika boleh saya hiperbolkan, chord-chord yang cepat berganti ini menandakan kelabilan dari “Siti”. Cinta dan Piknik, dua hal yang dikejar manusia urban di sela waktunya yang—sok—sibuk. Kedua lagu tersebut menjadi menarik sebab membuat album ini tak terhenti pada tema agraria yang kaku dan monoton. pada bagian ini saya menyadari, Galih coba menarik garis lurus dari jaman kolonial hingga milenial dengan permasalahannya masing-masing.

“Pramoedya” menjadi penutup album Tanahku Tidak Dijual. Lagu yang menurut Galih kala itu sebagai “lagu paling serius” di album ini. saya kira demikian, maksud “serius” ini memang terlihat paling beda di antara 13 lagu lain. “Pramoedya”, tokoh yang tak lekang oleh zaman ini, seperti mengingatkan bawah apa yang dituliskannya akan terus terjadi, dan Galih menegaskannya kembali sebagai lagu penutup di album ini.

Pada akhirnya, album yang mengusung tema tertentu tidaklah rumit untuk dimengerti. Apalagi dibawakan dengan menyenangkan dan tidak membebani pikiran. Saya rasa, Galih dan Tim telah berusaha melakukannya. Komposisi dan urutan lagu di album ini tidak rumit. Pendengar seperti dibisiki untuk peka terhadap perjuangan kelompok rentan meraih keadilan. Sebab, “bila kau diam maka kau akan ditinggalkan sejarah”.

Post-scriptum:

Galih mengirim pesan ke saya sewaktu saya meninggalkan Bandung,
"gue butuh dokumentasi lo selama di kereta dong buat video klip". 
Tanpa pikir panjang, saya iyakan permintaannya. 
Saya kirim semua foto dan video yang saya punya selama menggunakan kereta.

Terus terang, saya masih bingung apa yang ia inginkan dari dokumentasi saya 
selama ini. Masalahnya, beberapa foto dan video tak fokus, bergetar, blur, 
tidak simetris, dan kecacatan lainnya. Tapi kalau tidak salah ia bilang, 
ingin memotret kehidupan kelompok urban untuk menjadi latar 
belakang lagunya yang pada saat itu saya pun belum setel lagu 
yang bersangkutan. Saya pun membiarkan Galih dan tim untuk olah 
sebebas mereka. Karena saya bingung mau diapakan file-file itu.

Foto dan video ini diambil jelas tanpa niat untuk dijadikan 
videoklip atau kepentingan tertentu. Kebetulan, sehari-hari saya
menggunakan kereta dan bagi saya menyenangkan mendokumentasikan perjalanan. 
Entah mengapa melihat manusia-manusia lain dalam gerbong itu seperti berkaca.
Mereka bagai robot yang disetel berangkat pada waktu tertentu dan pulang
pada jam tertentu. Mungkin karena saya bagian dari perjalanan dan apa
yang saya dokumentasikan sendiri. Beruntung, kualitas video itu tertutup 
dengan suara dan lirik Galih yang seperti mengingatkan akan kepulangan.
---
 Video dan lagunya bisa kamu akses di sini
 Video: https://m.youtube.com/watch?v=G3Ui1oSYwow
 Lagu: https://soundcloud.com/omuniuum/di-kampungku
Advertisements

4 thoughts on “Deugalih di Antara Kolonial dan Milenial

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s