Air Terjun Versi Ibu

Ada pemandangan unik tiap saya tiba di rumah. Kini ibu sibuk dengan ponselnya. Sudah beberapa kali saya tiba di rumah, ia sedang memandangi ponsel dengan kacamatanya yang mudah melorot dan meninggalkan lap pelnya di lantai begitu saja. Setelah saya ketahui, ibu hanya membuka aplikasi pesan singkat dan berbincang dengan teman-temannya di grup Whatsapp. Saya kadang meledek dan beliau menyambutnya dengan menaruh ponsel lalu melanjutkan mengepel.

Dulu setiap pulang ke rumah, ibu lebih dekat dengan sapu dan lap pelnya. Belum saya memasuki rumah, dari dalam ibu sudah teriak, “lewat pintu samping, lagi di pel”. Ibu dan alat bersih-bersihnya sebagai bagian yang tak bisa dipisahkan. Tidak bisa ia melihat anaknya duduk manis di kursi sambil cekikikan memandang ponselnya. Jika ketahuan, pasti ia meminta untuk membersihkan piring kotor atau melakukan kegiatan yang menjauhkan anaknya dari ponsel. “emang ada apasih di hapenya?” katanya suatu saat. Pertanyaan itu kini berbalik. Saya malah yang beberapa kali menegur dengan kalimat yang sama ketika beliau menegur saya dulu. Saya tidak kaget dengan perubahan yang terjadi pada ibu. Saya melihatnya sebagai kebiasaan yang wajar.

Dengan ponselnya, kini ia dengan mudah mendapatkan informasi yang bertebaran. Kadang ia menanyakan ke saya untuk memastikan kebenaran informasi yang diterimanya. Kadang ia bisa asik sendiri sampai ketiduran. Kedekatan dengan ponselnya pun juga tak mematikan komunikasi dengan anak-anaknya.  Di momen itu, saya melihat ibu dan ponselnya seperti ruang kecil dalam rutinitasnya. Ruang tersebut adalah bagian dari kehidupan ibu yang tak terpisahkan. Dan, setiap orang memiliki ruang tersebut.

Kawan saya, Dodi, sempat mencuitkan sesuatu, ia menanyakan kenapa orang-orang Jakarta mengeluhkan tentang kemacetan, polusi, dan kesemrawutan tapi masih betah tinggal di Jakarta? Saya jawab singkat, mungkin karena kekacauan yang terorganisir. Memang agak ironis, kita mengeluhkan sesuatu di tempat kita biasa mengerjakan sesuatu. Kita memilih “betah” dalam posisi tersebut. Dan kebetahan itu sengaja kita jaga.

Hal yang ditanyakan Dodi sejalan dengan yang Seno tuliskan tentang air terjun. Saya tidak begitu ingat persisnya, tapi kurang lebih menceritakan tentang penciptaan diorama air terjun di dalam rumah. “manusia” kata Seno “entah untuk maksud apa membawa air terjun ke dalam gua garbanya”. Tentu yang disebut air terjun adalah miniatur sederhana yang letaknya biasanya di dalam rumah sehingga penghuni rumah sewaktu-waktu dapat mendengarkan gemericik air ketika bangun tidur atau buang air. “Apakah manusia Jakarta mencoba memecahkan masalah ruang?” sindir Seno

Sebagai pekerja suburban, saya seringkali mengeluhkan tentang ibukota seperti yang disebutkan Dodi. Di sisi lain, saya juga mengakali hal tersebut dengan menciptakan “air terjun” versi saya sendiri sebagai upaya saya untuk mengorganisir kekacauan. Iya, saya mencoba memecahkan “masalah ruang” itu. saya menganggap kerumitan hanya dapat dibayar dengan kerumitan lainnya. Saya mengambil ruang yang berada di luar rutinitas saya. Setidaknya begitu yang saya lakukan untuk berdamai dengan keadaan.

Pikiran-pikiran itu mendadak hilang setibanya di rumah. Ruang-ruang dalam rutinitas ibu seolah mematahkan pertanyaan Dodi dan sindiran Seno. Ia dengan ponselnya, sekali lagi adalah bagian dari rutinitasnya, dan tak mengubah atau menjadikan dirinya sosok yang baru. Beliau tetaplah orang yang bangun pagi buta, masak untuk bekal anaknya, berangkat kerja, kemudian pulang masih disibukkan dengan beberes rumah.  Rutinitas itu ibu jalani dengan biasa saja dan tak bisa saya bayangkan jika menjadi dirinya.

Ibu tak pernah terpikir untuk meninggalkan ibukota setelah ia merasakan kemacetan berjam-jam di jalan, berdesak-desakkan di kereta, atau memboyong air terjun ke dalam rumah untuk menenangkan pikiran. Ibu hanya menjalani apa yang menjadi kewajibannya. Pada titik itu, saya menyadari ibu tak pernah berupaya untuk berdamai dengan keadaan, boleh jadi ia memandang keadaan yang terjadi sebagai hal yang lumrah sehingga tak perlu didamaikan. Ibu dan ponselnya adalah ruang sederhananya untuk mengorganisir kekacauan. Ia tak direpotkan menanggap ruang lain di luar rutinitasnya.

Di saat saya menuliskan ini, ibu memanggil saya, ia meminta diajarkan caranya mengirimkan dokumen ke temannya. Saya tahu permintaannya tak berhenti di situ. ponselnya sedikit dijauhkan dari matanya, kacamatanya dinaikkan ke atas kepala, lalu memijit layar sentuh dengan satu jari. Saya mesem-mesem melihatnya.

Mengamati keseharian yang dilakukan oleh ibu adalah pengalaman yang saya sukai di rumah. Saya seperti kembali ke garis awal. Menyetel ulang tentang imajinasi sebuah ruang. Bahwa ia bukanlah sesuatu yang terdapat di luar rutinitas, ia adalah bagian dari molekul-molekul keseharian kita yang mungkin belum kita sadari. Saat ini, mustahil bagi saya menjalani rutinitas seperti ibu, tapi setidaknya saya bisa memulainya dengan melihat sesuatu dengan biasa saja.

2 thoughts on “Air Terjun Versi Ibu

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s