Ada satu candaan khas dalam ceramah yang selalu saya ingat, “saya suka nih, awal puasa masjid penuh. Pasti di hari lain akan lebih maju..” buka sang khotib “lebih maju shafnya.” lanjutnya disusul tawa meringis jamaah. Pameo itu hampir sering saya dengar di hari pertama tarawih. Kemarin, saya dengar kembali candaan yang sama.

Tak selang beberapa lama, pameo lainnya muncul, “bu, bulan ramadan jangan lupa juga baca quran, jangan baca whatsapp aja” koor tawa ibu-ibu di barisan belakang pun terdengar. Ceramah-ceramah yang keluar di hari pertama tarawih cenderung sederhana, tapi pesannya begitu kuat. Pembawaannya jenaka, komunikasinya walaupun satu arah tapi tidak membosankan. Melalui pameo itu, khatib berusaha mengingatkan melalui narasi yang sebagian besar bagian dari realita kita.

Ceramah di awal ramadan kemarin dipenuhi dengan candaan. Ringan tapi tidak menghilangkan substansi. Saya amat menikmatinya. Setelah beberapa waktu terakhir ceramah hampir kompak berisi tentang ujaran kebencian tentang pilihan politik, mendengar pameo dalam ceramah seperti menemukan uang di sela kantong celana. Sedikit tapi melegakan. Dua pameo tersebut merujuk pada satu kebiasaan yang terjadi di masyarakat. Semua keluar sesuai porsinya. Tidak bernada menggurui, hanya mengingatkan melalui realita di bulan ramadan.

Sepanjang ceramah tidak ada pembahasan yang menjurus pada topik tertentu. Semua masih dalam koridor dakwah, yaitu mengingatkan. Tidak ada bahasan tentang politik atau satu peristiwa besar lainnya. Dibumbui dengan candaan renyah khas ustadz pinggir kota, tarawih di hari pertama dipenuhi tawa.

***

Belakangan saya resah buka media sosial. Alasannya sederhana, terlalu banyak cuitan-cuitan provokasi dan kecenderungan untuk merendahkan orang lain yang tinggi. Sialnya, salah seorang dari mereka yang melakukannya adalah teman saya. Tidak jarang saya temukan ia menyudutkan kelompok tertentu, sebut saja kelompok konservatif. Saya tahu kelakuan kelompok konservatif ini berbeda dalam menerapkan satu pandangan. Tapi, bagi mereka yang merasa memiliki pandangan yang lebih mumpuni (progresif) kebanyakan hanya melakukan intimidasi. dan cara mereka memperlakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang—mungkin—dibencinya.

Beberapa kali ia menyebarkan konten-konten provokatif kadang dibawakan dengan penuh amarah, tak lama akan disusul dengan pendapat pribadi yang seolah kebenaran ada di pihaknya. Tentu saya tidak menegurnya. Saya membayangkan dirinya sedang di atas panggung, berteriak, tiba-tiba dari sudut lain saya berteriak ke arahnya. Saya rasa tidak elok. Saya memilih diam. Ini bukan perkara menjadi bijak. saya menghindari potensi konflik yang terjadi.

Kita boleh saja tidak suka dengan satu pemikiran, tapi memperlakukan mereka dengan ujaran kebencian tidak membuat kita lebih tinggi darinya. Perbedaan pendapat memang sebuah keniscayaan, maka penting untuk menciptakan ruang perdebatan di pikiran sebelum diutarakan.

Pernah satu waktu saya tidak tahan, saya mencuitkan sesuatu yang sebetulnya ditujukan untuk teman saya tapi tak saya tuliskan namanya. Ia merespon saya. Sontak saya kaget. Saya takut akan ada konflik di antara kami berdua karena ia merasa tersindir. tapi, responnya saat itu adalah sebuah ajakan pertemuan. Saya masih was-was dalam hati takut dirinya mengerti pesan saya. Tanpa pikir panjang, saya amini ajakannya sambil mengajak teman sekolah saya lainnya. hingga pada satu hari kita bertemu.

Di pertemuan itu obrolan kami sangat hangat. kami mengingat masa SMP sebagai masa penjajakan awal dunia remaja, pulang sekolah sebelum waktunya, meledek guru yang bawel, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Bahasan kami lebih banyak tema-tema yang mengingatkan kami pada tingkah laku pongah masa lalu. Tidak ada debat politik maupun agama. Obrolan kami mengalir begitu saja dipenuhi tawa. Saya senang sekaligus heran. Teman saya yang di media sosial hampir sering mencuitkan ujaran kebencian, hilang begitu kami berada dalam satu pertemuan.

**

menjelang maghrib

Saya baru saja selesai menonton film Jakarta Maghrib karya Salman Aristo. Dokumenter sederhana yang mengisahkan masyarakat urban menjelang maghrib. Salman Aristo menggambarkan sketsa manusia Jakarta secara apik. Ia membagi film tersebut dengan lima tautan cerita berbeda kemudian menyambungkannya di akhir. Saya banyak mesem-mesem menontonnya.

Ada satu scene yang saya sukai, yaitu momen “Menunggu Aki”. Latarnya di perumahan. Aki, penjaja makanan keliling, ditunggu kedatangannya oleh Lukman Sardi, Ringgo Agus, Desta, Fanny Fabriana, dan Lilis yang berperan sebagai warga komplek dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda.

Petang adalah waktu Aki sudah sampai di komplek tersebut. Tapi, saat itu, menjelang maghrib ia tak kunjung datang. Satu per satu warga pun keluar rumah menunggu Aki. Momen saling tunggu itu membuat para penghuni “terpaksa” berkenalan satu sama lain. Berbincang selayaknya anak yang baru masuk sekolah, kaku, monoton, dan penuh basa-basi. Mereka mengenali diri masing-masing. Sampai adzan Maghrib Aki tidak juga lewat, mereka kembali ke rumah, dan kembali menjadi individualis sejati.

Saya mengingat kembali teman saya. Di media sosial, interaksinya menjadi tak terbatas seolah semua topik yang hadir patut menjadi bahasan. Pertemuan kami seperti momen “menunggu Aki”. Berbincang, penuh basa basi, tapi tak saling singgung sesuatu yang bisa menyakiti hati. Di pertemuan itu, hanya pesanan tiba yang bisa membuat obrolan kami berhenti. Selebihnya, obrolan dipenuhi dengan cerita remeh temeh dan tawa membuncah. Mungkin ruang “menunggu Aki” itu harus kami perbanyak. Ketika ujaran-ujaran tidak lagi monolog, namun dialog lengkap dengan nada-nada yang dapat kita ketahui tingkatannya. Kuncinya bisa jadi percakapan.

Beberapa hari setelah pertemuan, saya masih melihat cuitannya yang senada dengan yang saya lihat dulu. Ia tetap pada jalurnya, saya pun masih dalam posisi tidak mengambil sikap apa-apa. Saya boleh jadi salah ketika mendiamkan, tapi bisa jadi benar ketika tahu ternyata ia tak membutuhkan. Mungkin yang dibutuhkan olehnya adalah “menunggu Aki”. Bukan momen ia tidak menjadi individualis, melainkan momen yang mengingatkan bahwa ia tidak sendiri. “Menunggu Aki” itu jadi pengingat bahwa percakapan menghasilkan pemahaman, bukan kemarahan. Seperti halnya pameo ceramah yang saya dengar. Khatib berupaya mengingatkan jamaah dengan menggunakan pameo. Ia bercakap dengan realita untuk menyampaikan pesan dengan candaan ringan.

Rasanya, saya maupun teman saya akan lebih mudah belajar dari realita masing-masing. Walaupun dalam koridor lain kadang berbeda pendapat, namun tak saling berdebat. Mungkin kami harus sering bertemu dalam satu momen “menunggu aki” ketika kita akan lebih sering berbincang hal-hal kecil atau menertawai kebodohan masa lalu daripada mengomentari isu-isu terkini. Dari situ, barangkali kita bisa menjadi nol kembali.

Post-scriptum:

Saya jadi ingat, satu pameo penutup ceramah kemarin, “kalau minta maaf, pake whatsapp juga bisa” sela khatib, “yang kudu dilakuin juga adalah memberi maaf. Nah itu nyang berat biar kate pake whatsapp juga” selorohnya dalam logat betawi yang khas. Semoga saya selalu termaafkan.

Advertisements

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s