Panggilan Singkat

Ada dua cara yang bisa dilakukan seseorang untuk berdamai dengan memori, memangkas jarak atau membiarkan jarak itu tetap ada. saya cenderung memilih yang pertama. alasannya sederhana, saya tak mau terlarut dalam glorifikasi masa lalu. mungkin sedikit prinsipil, tapi nyatanya saya seringkali kalah. Beberapa kali ketika saya memikirkan kejadian di masa lampau, saya lebih sering tenggelam daripada menjadikannya pelajaran.

Belakangan, saya mengundang momen-momen masa silam ke kehidupan sekarang. Kebiasaan-kebiasaan di masa kuliah saya sengaja hadirkan, menyetel musik dengan volume yang besar, buku yang ditaruh berserakan, jaket dan celana jeans yang asal digantungkan, dan beberapa ketidakteraturan lainnya. saya tak menghindar bahwa saya sedang “kalah”. saya meyakini hal-hal yang terjadi di masa lampau kemungkinan besar tak akan hadir—minimal kehadirannya tak begitu bernilai—ketika kita sedang menikmati keadaan sekarang. Memori itu muncul. Saya tidak menghindarinya. Saya mencoba memangkas jaraknya.

Setahun setelah saya resmi meninggalkan Jatinangor dan kehidupannya, masih saja menempel sisa-sisa kebiasaan yang saya lakukan di kamar kos ke rumah. Awalnya saya memaklumi sebagai masa peralihan, tapi lama kelamaan kebiasaan ini malah membuat saya tertekan. Tepat ketika saya mengingat tentang masa kuliah, besoknya saya kumpul dengan teman kos saya dulu. Kami pun berbincang selayaknya masyarakat urban, mengeluhkan kondisi sekarang dan merindukan masa perkuliahan. Barangkali, hal-hal seperti ini yang menjadi justifikasi pekerja ibukota untuk menghibur dirinya sendiri.

Saya, Harry, dan Azmi berbincang tentang kebiasaan kami dulu. Memesan makanan tengah malam dengan mudah, berangkat ke kampus menjelang jam perkuliahan dimulai, sampai kegiatan yang membuat penjaga kos naik darah. kami saling melempar fakta bahwa Jakarta jauh lebih tengik dibanding Jatinangor. Kami tak berkilah bahwa ini sebuah keniscayaan. Ingatan begitu mengerikan sampai kami pasrah pada satu kesimpulan “perasaan, baru kemarin”. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain bergeming, menerima keadaan sekarang sebagaimana kami mengingatnya. Mungkin ini konsekuensi “memanggilnya” datang. Ingatan menghukum, kenangan memaafkan.

Selepas obrolan itu, saya pulang lebih dulu. Saya tahu waktu saya untuk mengenang sudah habis. Jakarta seperti menyisakan sesuatu yang tidak tuntas dari ingatan. Sepanjang perjalanan malah membuat saya semakin memikirkannya. Saya dan beberapa orang teman mungkin menyadari bahwa Jatinangor tak semestinya dimaknai berlebihan. Ia, meminjam kata Iwan Simatupang, adalah hal-hal luar biasa yang sejatinya biasa saja sampai kita menyerah pada “panggilan singkat” untuk ziarah padanya. Sampai saya tiba di rumah, ziarah itu selesai.

Di saat yang bersamaan, saya baru saja menyelesaikan Jalan Menikung karya Umar kayam. Ada satu fragmen yang saya ingat ketika Eko dan Claire tiba di Jepang. Claire, istri Eko, wanita kelahiran Amerika, mengagumi keindahan Gunung Fuji dari jendela Shinkansen. Suaminya, Eko, mengatakan “karena kita melihat gunung itu dari sini. Srigunung, asrinya gunung. Keindahan yang nampak dari kejauhan”. Ketika saya mengingatnya, saya berada di Jakarta, sekian ratus kilometer dari Jatinangor. Ia menjadi batas dari keinginan untuk kembali ke sana. Ibukota memunculkan segala bentuk kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan untuk kembali atau kemungkinan untuk menikmati keindahannya dari jauh. Boleh jadi memori personal saya tidak ingin menemui harapan, ia hanya ingin bermain pada kemungkinan. Pada kenyataan itulah saya benar-benar kalah. Semestinya saya sadar bahwa kemungkinan tak bisa dipaksakan.

Jika boleh saya menyatakan pembenaran, mengingat Jatinangor lengkap dengan menciptakan momen-momen masa silam adalah upaya saya menjawab kegelisahan. Bukan sebuah pelarian dari kondisi sekarang, tapi panggilan singkat. Saya menyadari bahwa kecil kemungkinan untuk kembali hanya bermodalkan memori. Mungkin yang saya butuhkan hanya sekedar menengoknya, tanpa terlibat lebih jauh di dalamnya.  Dari situ saya sadar, yang saya lakukan ke depan adalah bukan memangkas jarak lagi, tapi membiarkan jarak itu tetap ada. Jarak yang membuat Jatinangor menjadi “srigunung”. Mungkin tidak hanya indah dari kejauhan, tapi menciptakan kemungkinan itu selalu ada, sampai ingatan mengajak saya pulang.

 

Advertisements

3 thoughts on “Panggilan Singkat

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s