Ada satu hal yang saya ingat dari Noel Gallagher, selain lagu-lagu magis yang diciptakannya, yaitu ia masih menggunakan London Tube. London Tube sebagaimana KRL Jabodetabek, tentu dengan sedikit ketimpangan, adalah transportasi hip yang bisa mengantarmu ke satu tempat dalam waktu singkat dengan segala konsekuensinya. Di artikel yang sempat saya baca, terlihat Noel dengan jaket kulit andalannya duduk memegang ponselnya selayaknya pekerja komuter. Mungkin yang membedakannya, setelah turun dari subway, Noel diajak foto oleh penggemarnya. Sementara, pekerja komuter harus berhadapan dengan puluhan ojek yang sedikit memaksa menawarkan jasanya.

Saya takjub dengan Noel dan mereka yang masih setia berkelindan dengan transportasi publik. Menggunakan transportasi publik seperti kemewahan di tengah arus teknologi yang semakin memudahkan orang bergerak—sebetulnya membuat malas—, dalam hal ini penyedia jasa transportasi online. Butuh waktu yang panjang menjadikan KRL menjadi seperti London Tube dengan fasilitas yang mumpuni. Apalagi, di tengah kondisi KRL yang tidak selalu bisa diharapkan bekerja maksimal. Mereka kadang harus berhadapan dengan pencopet, kelompok yang berisik, sampai eksibisionis. Belum kalau mereka harus menerima jadwal kereta yang amburadul atau gangguan teknis. Di luar itu, keberadaan KRL bisa disebut sebagai moda transportasi efektif yang menyambungkan sudut-sudut kota se-Jabodetabek dengan harapan para penggunanya tiba lebih cepat ke tujuan.

Sejauh ini, belum ada yang mengalahkan efektivitas KRL dalam memangkas waktu maupun jarak tempuh bagi para pekerja komuter. Sementara, transportasi publik lainnya masih harus berebutan di jalan ketika KRL berjalan di atas relnya sendiri Berdasarkan data BPS 2014, komuter Bodetabek yang melakukan kegiatan di DKI Jakarta berjumlah 1,38 juta orang. Tentu selang tiga tahun kemudian angka tersebut bertambah. Saya salah satu dari jutaan orang itu. saya bisa sedikit jumawa ketika melihat deretan kendaraan berhenti di jalanan. Di kondisi normal KRL dapat mengantarkan saya ke Cikini dalam waktu 30 menit dari Depok dengan memangkas puluhan kilometer ketimbang saya menggunakan kendaraan pribadi.  Mungkin hal ini juga yang disebut Taufiq Rahman ketika naik Subway di New York adalah sesuatu yang sangat quintessential. Kemewahan menggunakan KRL muncul pada saat kita merasa lebih di atas dari kendaraan yang melintas di jalan, meski bukan tanpa ongkos. Saya mesti berebut masuk dengan bapak-bapak pekerja di sektor informal, berhadapan dengan ibu-ibu yang hendak belanja ke Tanah Abang, juga keluarga yang ingin berlibur ke Kota Tua, sesekali menerima nyinyiran dari penumpang lain karena tidak sengaja menyenggol badannya.

Dalam beberapa tulisan yang pernah saya tulis tentang keseharian menggunakan KRL, bisa dibilang sedikit filosofis. Dalam kondisi sesak maupun lengang, tidak ada interaksi antar penumpang kecuali dengan teman sejalannya. Ini mungkin sedikit klise, tapi saya merasa sedikit janggal. Entah apa yang sebetulnya melatarbelakangi hal tersebut. Lagi-lagi saya bagian dari apa yang saya keluhkan. Di dalam gerbong, jarang saya menggunakan ponsel sepanjang perjalanan. Saya lebih banyak melihat sekitar, sambil tetap berharap saya bisa berbincang dengan orang lain tentang apapun. Rasanya berbincang dengan orang secara insidentil adalah kemewahan lain. Tapi hingga kini harapan itu takkunjung terwujud dan mengamati tingkah penumpang KRL lain menjadi alternatifnya.

Sekumpulan orang yang ada dalam gerbong itu secara kasat mata setara. KRL menyulap penumpang menjadi tanpa identitas. Tidak ada keutamaan pada orang-orang tertentu selain mereka yang diprioritaskan. Boleh jadi salah satu dari penumpang KRL adalah orang yang dihormati di kantornya, dihinakan kelompoknya, atau calon-calon orang besar yang sedang menjalankan rutinitasnya. Tapi, di dalam gerbong semua memiliki kesempatan yang sama untuk disenggol, dicopet, dinyinyiri penumpang lain, dan dibuat mangkel oleh jadwal kereta yang kadang berantakan. Masing-masing penumpang hanya dibatasi oleh ruang-ruang privatnya. Ia yang asik ngobrol dengan rekannya, sibuk dengan ponselnya, dan kegiatan lain yang dilakukannya. Kendati demikian, KRL adalah kehalalan untuk melakukan kegiatan intellectual snobbery Anda. Dalam ruang privat itu, Anda bisa menenteng tas belanjaan bermerk, memandang secara filosofis sambil mendengarkan lagu-lagu pilihan yang sophisticated. Berikut adalah beberapa lagu yang semakin membuat saya untuk terus menggunakan KRL.

  1. Radiohead – Killer Cars

I’m going out for a little drive/
And it could be the last time you see me alive/
There could be an idiot on the road/
The only kick in life is pumping his steel/

Awalnya, lagu ini adalah satu dari beberapa lagu yang sering saya lewati begitu spotify memutarnya karena harus kalah dengan High and Dry, Fake Plastic Tree, dan Nice Dream. Tapi, kondisi kereta yang saat itu sesak membuat tangan saya tidak bisa memindahkan lagu ini. Thom Yorke begitu nyinyir dalam liriknya seolah ia bersumpah untuk tidak menggunakan mobil pribadi kecuali jika terpaksa. Lirik di atas adalah jukstaposisi bagi mereka yang kerap merendahkan pengguna transportasi publik.

  1. Simon & Garfunkel – The Sound of Silence

And the sign said “The words of the prophets/
Are written on the subway walls/
And tenement halls/
And whispered in the sounds of silence”/

Samar-samar lagu ini sering saya dengar di kedai kopi tapi saya tidak mengetahui siapa yang menyanyikannya. Ketika pulang larut malam, lagu ini masuk ke dalam salah satu daftar lagu yang saya setel dan cukup meneduhkan. Terbayang suasana Stasiun Cikini yang sepi menjelang tengah malam; Lampu-lampu yang mulai redup, petugas yang terkantuk, dan penumpang kereta di peron yang semakin sepi.

  1. Crushed Beaks – Breakdown

I don’t wanna/
breakdown/
breakdown/

Nada yang sedikit noise ini seperti meledek fenomena pekerja komuter yang panik begitu tahu kereta berangkat tidak sesuai jadwal. Bayang-bayang tugas yang menumpuk dan amarah bos pun menghantui sepanjang perjalanan di samping alasan yang sudah kita siapkan hanyalah guilty pleasure belaka.

  1. Real Estate – Navigator

Cross the kitchen floor/
Steal out the back door/
ast the monument/
I’ll meet you where the pavement ends

Agak sedikit klise, namun inilah yang terbayang tiap saya setel lagu ini: Mendengar lagu ini seperti membayangkan keluar dari subway berjalan di trotoar dengan parka atau jaket tebal di bawah pendar lampu kota New York menuju restoran untuk berkumpul dengan teman.

  1. U2 – I Still Haven’t Found what I’m Looking For

I have spoken with the tongue of angels/
I have held the hand of a devil/
It was warm in the night/
I was cold as a stone/
But I still haven’t found what I’m looking for/

Setibanya di O2 Arena, London, Noel dengan seksama menonton konser U2. Di dua lagu penutup, Bono memanggil Noel untuk bergabung menyanyikan I Still Haven’t Found what I’m Looking For dan All You Need is Love. Di atas panggung, Noel adalah rockstar. Melihat Noel adalah melihat kita di kantor. setumpuk pekerjaan, kepercayaan yang diberikan, dan masing-masing peran, kita adalah rockstar. walaupun sesaat sebelum kita kembali ke ruang privat di London Tube maupun KRL dan menjadi orang biasa lagi.

3 thoughts on “Naik KRL dan 5 Lagu Hip Lainnya

  1. Saya bersedia berbincang kalau di KRL, mungkin nanti bs ketemu :)) dulu pernah secara insidentil bertemu dengan orang-orang yg cukup unik di KRL, ada mahasiswa yg ternyata pindahan dari luar jawa, ibu-ibu yang baik hati dan anaknya sedang kuliah di luar negeri dan bapak-bapak penjual donat yang biasa jualan di tanah abang. Mereka masing-masing punya cerita yg menarik. Biarpun cuma obrolan ringan, tapi itu benar-benar suatu kemewahan. Sy sendiri biasa mengambil jalur serpong-pasar minggu, dan penumpang borjuis biasa naik di stasiun Rawa Buntu dan Sudimara yg penumpangnya semua kaum borjuis jd lebih sibuk dengan hape masing-masing.. Tapi naik KRL memang pengalaman yg unik, banyak kejadian yg terjadi di dalam, sehingga jd penonton pun, akan jd pengalaman yg menyenangkan:))

    1. Boleh mas kalo satu waktu kita berjumpa 🙂 padahal di bis kota ndak begini, minimal nanya tujuan ke mana dan hal kecil. Tp di KRL seolah bisu semua. Hehehe

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s