“saya mau coba, mbah” pinta saya menunjuk ke arah barang lonjong dari tembaga. Ia mencolek isinya dan mengarahkannya ke saya. Telunjuk saya mengambilnya dan mengoleskannya ke lidah. Belum sepenuhnya saya coba, saya membuangnya. Mbah putri tertawa sambil menunjukkan gusi yang tak bergigi lagi.

Selepas isya, ia sudah dengan posisi biasanya. Duduk di samping tv sambil menyiapkan peralatan nyirih­­ miliknya. Di depannya, duduk saya menonton acara televisi yang diulang dari tahun ke tahun tiap lebaran. “tok.. tok… tok..” suara penumbuk yang beradu dengan tembaga mengganggu saya yang sedang menonton. “mbah, pelan-pelan” tegur saya. Matanya mengarah lurus ke arah televisi, ia tetap melanjutkan numbuknya dengan suka cita. Saya diabaikannya. Entah ia tidak mendengarnya, entah ia sengaja melakukannya. Tidak lama, Saya dibisiki pakde, “mbah, mau nonton tinju itu”. saya mengangguk pasrah.

Hampir tiap saya mudik, saya berebut tv dengannya. Saya memilih tontonan apa saja, umumnya humor. Sedang, mbah hanya mau menonton tinju. Kalau hajatnya belum terpenuhi, ia akan rungsing dan menggerutu saat saya menonton. Ia bukan penonton fanatik tinju yang tiap jap atau uppercut­-nya tepat mengenai lawan lalu berteriak, ia hanya menikmati pertandingan tinju sambil menumbuk sirih dan pengantarnya tidur.

Adegan itu terjadi di lebaran tujuh atau delapan tahun silam saat mbah putri masih bisa beraktivitas ke sana kemari. Pagi ke pasar, siang berjualan di warung, malam mengajak ngobrol siapapun yang ada di sebelahnya. Ketika duduk pun ia memukul lalat di dekatnya. Ia masih enerjik selayaknya prajurit yang sedang latihan walaupun umurnya sudah lebih dari setengah abad. Karena alasan kesehatan, kini mbah tidak lagi aktif seperti dulu.

Melihat perubahan yang terjadi pada mbah dari tahun ke tahun seperti membaca kembali kisah Keluarga Sastrodarsono. Umar Kayam membeberkan keseharian keluarga Sastrodarsono dengan nilai-nilai kejawaannya yang kental. Buku Para Priyayi menunjukkan tumbuhkembangnya anak-anak Sastrodarsono; Noegroho, Harimurti, Eko, juga Lantip hingga dewasa. Hal yang sama yang saya lihat pada mbah putri sampai generasi ibu saya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang ada dalam tiap bab Para Priyayi. Dalam Para Priyayi, Pak Kayam menenakan peran keluarga yang sangat vital dalam membentuk watak turunannya. Kemudian, muncullah generasi saya pada bab-bab akhir dan menjadi penghubung ke buku kedua, Jalan Menikung.

Generasi di Jalan Menikung adalah generasi yang diperbarui dengan kehadiran cucu dan cicit Sastrodarsono maupun mbah putri. Tiap bab dalam buku ini seperti memunguti rekaman perjalanan keluarga besar saya. Generasi saya dikenalkan dengan kisah-kisah generasi terdahulu yang semata-mata menyampaikan pesan nilai tradisional Jawa, yaitu “Mikul Dhuwur Mendem Jero” yang artinya kebaikan orang tua/leluhur hendaknya selalu ditonjolkan dan dilestarikan sebagai panutan. Saya yakin apa yang diberikan ibu pada saya adalah pesan-pesan mbah terdahulu. Melalui pesan tersebut, ia berusaha menjadikan turunannya seperti Lantip. Lantip menggambarkan bagaimana ketulusan dan keikhlasan yang diajarkan oleh Keluarga Sastrodarsono menjadikannya sebagai pribadi yang tegas dan bijaksana.

Perubahan adalah keniscayaan. ia tak bisa ditahan, ditunda, atau dihindari. ia menjadi satu bagian yang mengisi sendi-sendi kehidupan kita kendati perubahan itu membuat kita nyaman atau tidak tenang. Yang tidak wajar justru ketika kita tidak sadar terhadap perubahan yang terjadi. momen mudik menjadi waktu saya merasakan perubahan itu. saya seperti menemui Pak Kayam di rumah mbah. Ia diam-diam sedang menuliskan kisahnya dengan keluarga besar saya sebagai tokohnya. Mbah putri adalah Sastrodarsono yang lain. Ia sedikit banyak merepresentasikan Sastrodarsono yang selalu mengingatkan hal baik pada turunannya. Generasi itu kemudian menumbuhkan yang patah, menggantikan yang hilang yang patah tumbuh, yang hilang berganti.

Dalam mengisi hari-harinya sekarang, mbah putri hanya menghabiskan sebagian besar waktunya dengan makan, berbaring, dan buang air. Kegiatan lain yang dapat ia lakukan sendiri ialah beribadah. Di samping kursi tempat ia biasa berbaring, sudah tidak terlihat lagi peralatan menyirihnya.  Mbah putri adalah satu-satunya generasi tertua keluarga saya yang masih ada. Umurnya sudah semakin tua. Warna putih di rambutnya amat dominan, kerutan di wajahnya semakin kentara, dan ia tidak mencari lagi acara tinju di televisi. Saya memandangnya lama sambil berdoa untuk kesehatannya.

Mudik tahun ini, ramai berdatangan generasi-generasi muda keluarga besar saya. Anak-anak ini jauh lebih muda dari saya. Jika lima-enam tahun lalu saya adalah generasi termuda, kini saya menjadi generasi tengah, generasi yang belum mau disebut tua, juga tak pantas disebut muda. Saya merasakannya secara sederhana, tahun ini saya mulai membagikan sedikit rejeki saya ke saudara-saudara saat lebaran. Di kondisi itu saya melihat Pak Kayam sedang menulis lembar demi lembar dan menyiapkan bab-bab selanjutnya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Bab-bab pada buku lama tidaklah ditinggalkan. Ia tetap hidup dengan pesan-pesannya yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

 

 

Post-scriptum:

Kepada pasang mata yang membaca tulisan saya–karena tak sempat mengucapkan sewaktu lebaran–jika ada tulisan-tulisan saya yang kurang berkenaan, saya izin memohon maaf lahir dan batin. Semoga saya selalu termaafkan.

Advertisements

3 thoughts on “Ada Pak Kayam di Rumah Mbah

  1. Kenapa saya malah jadi kepikiran masa tua nanti ya, soalnya saya juga maniak tinju. Berterima kasih banget pada TV One yang sejak 7-8 tahun silam selalu menyajikan tontonan tinju di akhir pekan.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s