Setiap pagi di akhir pekan, saya biasa duduk di teras sambil baca koran dan minum kopi. Bukan sebuah ritus, hanya mencoba membiasakan diri dengan menjauhkan pagi saya dari ponsel. Saya tahu kegiatan itu tidak begitu penting dan banyak orang yang merasa hidupnya sudah cukup tanpa harus mengisi pagi dengan kegiatan-kegiatan tertentu. Tapi, setidaknya ini lebih baik untuk saya ketimbang hanya mengisi pagi dengan ngulet, makan, dan buang air tok.

Di waktu yang sama, biasanya ada tetangga yang sedang mencuci kendaraannya dan bapak-bapak yang sedang momong cucunya. Satu waktu, saya berdiri depan rumah dan lewatlah bapak dengan cucu di gendongannya, Pak Mulyono. Ia bertanya seputar pekerjaan saya, kabar saudara saya yang dikenalnya, dan hal-hal klise lainnya. Pak Mulyono cukup dikenal di komplek saya tinggal. Dengan sarung yang dilipat berkali-kali di pinggang dan mengenakan kaos kutang, ia selalu mengajak ngobrol orang-orang yang ditemuinya saat sedang momong cucu.

“itu burung, bapak yang punya, mas?” telunjuknya mengarah ke arah kandang burung di belakang saya. “saya juga ada Kenari di rumah, kalau pagi lumayan bikin ‘berisik’ rumah” lanjutnya cerita tanpa diminta. Beliau paling senang kalau lawan bicaranya paham soal dunia perburungan. Baru niat saja saya mau menanyakan tentang cucunya, saya terpaksa mendengarkan cerita Pak Mul.

Mau tidak mau kosakata dunia perburungan yang saya punya saya keluarkan semua; kroto, ciblek, gacor, biji fumiyin, filet, dan lain sebagainya. Cara itu cukup berhasil. Meski dalam perbincangan saya lebih sering pasrah menganggukkan kepala. “kandangnya harus lebih besar itu, biar burungnya bisa terbang leluasa” sarannya pada saya. Cucunya tertidur, obrolan pun makin panjang. Setiap jeda obrolan selalu diisi dengan siulannya sambil menjentikkan jari ke arah burung.

Ia juga bercerita tentang burung tekukur miliknya. Sebelum melanjutkan bicaranya, ia mengacungkan jempol “kicauannya mas, top! Kalau bisa sejam, udah joget saya” pujinya berseloroh. ia menembang kembali, “kur…. tekukur……”. Pengalamannya mengikuti perlombaan kicau burung turut diceritakannya. “Murai saya dulu sempat peringkat 10 adu kicau” ceritanya lagi. Tiap ceritanya juga diisi saran dan masukan pada saya mengenai pemeliharaan burung yang benar. Sampai cucunya terbangun, saya baru bisa kembali ke teras.

Berbincang dengan Pak Mul seperti mematahkan kalimat-kalimat yang dilontarkan pembicara saat seminar motivasi. “Anda ingin sukses?” sambil menunjukkan kiat-kiat dan memaparkan indikator-indikator tertentu tentang kesuksesan yang pada kenyataannya menunjuk pada satu gaya hidup tertentu.

Saya pun awalnya mengira bahwa memelihara banyak burung sebagai kegiatan yang remeh dan dilakukan oleh orang yang memiliki banyak waktu luang di rumah. tapi, tidak juga. Saya juga temukan di perumahan-perumahan elit yang rumahnya mungkin lebih sering didiami pekerja rumah tangga ketimbang pemilik rumahnya. Nyatanya, di situlah konstruksi berlaku terbalik. Kehadiran burung di rumah terlihat sebagai representasi sebuah “gaya hidup”, ditambah sehari-hari sang burung lebih sering berinteraksi dengan penjaga rumah daripada empunya. Itupun kalau si penjaga rumah tidak sibuk bergunjing dengan tetangga.

Lain dengan Pak Mul, intensitasnya mungkin lebih sering mengurus burung daripada cucu. Dengan burung, Pak Mul berubah menjadi otonom. Ia merdeka ketika bisa bicara panjang lebar mengenai burung, apalagi ketika dapat lawan bicara yang pas dan cucunya sedang tertidur. Bagi Pak Mul, burung bukan simbol kepemilikan, bukan pula sebuah “pelarian”, melainkan keterwakilan dari identitasnya.

Sementara, kita lebih sering terjebak menjadi konsumen yang andal, menjadi pribadi yang penuh perhitungan, obsesif, berupaya merangkum tiap peristiwa, dan bekerja serba taktis yang sebetulnya menguras waktu dan membuat hidup semakin kering. Kepemilikan terhadap sesuatu dianggap sebagai representasi diri dari kesuksesan. Mendapat petuah-petuah motivasi semu yang menimbulkan kesadaran palsu, tapi merasa menjadi seorang yang arif budiman. Mengutip apa yang ditulis Seno, kalkulasi menunjukkan sukses, tapi kebahagiaan masih menjadi obsesi. Sampai pada satu waktu kita menyadari bahwa kita mendapatkan semua yang kita inginkan, tapi kita tidak mendapat apa-apa.

Mungkin tulisan ini sudah menyentuh bagian terklise, sulit seperti Pak Mul dan saya juga tak berambisi menjadi dirinya, saya hanya berupaya untuk “menemukan” dan mengisi celah dari jarak yang ada, semata-mata agar saya tidak taklid terhadap satu hal tertentu, merasa benar sendiri, dan kehilangan momen berharga. Pak Mul telah menunjukkan celah itu pada saya, tak perlu dengan sesuatu yang kunst, namun dengan kitsch seperti momong cucu sambil mengenakan sarung yang tak dilepasnya sejak subuh dan kutangan. Bisa jadi dengan cara yang remeh itu kita akan menemukan, bukan sebuah pencapaian, melainkan kelapangan.

 

Advertisements

3 thoughts on “Menemukan Burung Pak Mul

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s