Orang-Orang di Rumah Sakit

Minggu lalu saya menjenguk teman saya di salah satu rumah sakit di Jatinangor. Sebetulnya tidak sengaja karena ada teman kuliah yang sakit. Sebetulnya juga, saya kurang begitu suka melakukannya. Bukan saya tidak solider, melainkan saya benci rumah sakit. Di rumah sakit tidak ada kebahagiaan. Di sana hanya ada harapan, yang entah akan terkabulkan atau tidak.

Saya ingat, tahun 2011 saya hendak meminjam mobil sama bapak untuk pergi mengunjungi acara dari komunitas saya. Di waktu bersamaan, pakde saya (tiba-tiba) sakit. Mobil yang saya mau pakai pun harus dipakai mengantar pakde saya ke rumah sakit. Saya pun ikut mengantarnya sambil berharap pakde hanya dicek sebentar, diberi obat, lalu pulang dan saya bisa menggunakan mobil setelahnya. Tapi, sampai di sana dokter menyarankan untuk dirawat. Saya menemaninya masuk ke ruangan IGD. Ia berbaring di ranjang pasien, lengannya disuntik, kemudian dipasang infus. Kami pun bercanda seperti hari-hari biasa. Raut wajah pakde pun tidak seperti orang yang sedang sakit. Saya meledeknya beberapa kali. “ah, perasaan tadi baru beli nasi padang sama kerja bakti, masa tiba-tiba masuk rumah sakit?” ledek saya. Ia hanya tersenyum. Saya tidak tahu apakah ia menahan sakit atau tidak. melihatnya tersenyum sedikit melegakan hati.

Sementara, saya mulai rungsing. Di saat acara komunitas saya sudah mulai, dokter menyarankan pakde untuk rawat inap. Alhasil, kendaraan yang awalnya saya gunakan untuk pergi, harus kembali ke rumah untuk mengantarkan pakaian selama menginap. Saya semakin kesal. Pertama, saya tidak percaya pakde sakit. Kedua, saya batal datang ke acara yang sudah saya jadwalkan sejak lama. Saya dan keluarga berganti shift untuk menemani pakde di rumah sakit. Sore hari, ibu mengabarkan saya pakde sudah tiada. Dengkul saya melemas, pikiran saya melayang, rasanya kepala mau saya benturkan ke dinding. Tangan saya gemetar mengendarai motor kembali ke rumah sakit. Tiba di sana, orang yang tadi pagi bercanda sama saya, kini sudah ditutup kain putih. Di pangkal mata saya sudah menggenang, tak lama ia pun tumpah.

Duka itu membekas hingga sekarang. Saya mulai sebal tiap mengunjungi rumah sakit, kecuali ia memunculkan kebahagiaan seperti lahiran. Sisanya, saya merasa hanya turut sedih tanpa bisa membantu apa-apa, selain doa yang bisa dilakukan di mana saja. Untuk urusan yang tidak begitu mendesak, saya sebisa mungkin untuk tidak berurusan dengan rumah sakit—meski beberapa kali gagal karena saya harus dioperasi dan menemani bapak operasi. Hahaha.

Sebisa mungkin di rumah sakit saya berusaha membuat suasana ceria. Bagi saya, suasana rumah sakit sebegitu mencekam sehingga tak perlu lagi dibuat tidak nyaman atau membuat pasien semakin ketakutan. Doa-doa tetap dipanjatkan, namun hiburan dalam hal kecil pun juga patut dirayakan. Sebab suasana semakin “mencekam” ketika doa-doa yang diucap di rumah sakit jauh berbeda ketika di masjid. Mereka lebih lantang. Mereka lebih berharap. Di saat itu, saya berpikir, selain menakutkan, rumah sakit juga telah mengambil fungsi pranata lain.

Di rumah sakit, kita dipaksa mengenang. Sebagaimana mengenang, ia selalu memberi beban, yaitu harapan. Kita mau tidak mau mengingat keadaan orang ketika sehat, ketika kita berbincang bebas, ketika kita tertawa seperti tidak ada beban di pundak, kita melihat kenang-kenangan itu nyata di rumah sakit tapi kita sadar itu tidak akan membawa kita ke mana-mana. Rumah sakit mengurung orang yang sakit, jiwa maupun pikirannya. Benar apa apa yang dibilang oleh Pram, rumah sakit tak lebih dari rumah tempat orang yang tak bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya sendiri.

Tentu yang saya dan rumah sakit adalah ketakutan sendiri. Entah sampai kapan, pengalaman akan terus membekas, menempel di bagian kecil di kepala saya yang sewaktu-waktu muncul menjadi beban pikiran. Pantas saja Pram berharap dunia ini seperti pasar malam, ketika orang berduyun-duyun datang, berduyun-duyun pergi. Tapi, itu sesuatu hil yang mustahal. Di rumah sakit tidak ada wahana bianglala, halilintar, atau kora-kora. Di rumah sakit, kita hanya menunggu kapan kecemasan dan harapan akan bertemu.

 

Post-scriptum: saya mendapat kabar teman saya kondisinya berangsur membaik. Semoga terus stabil ke depannya. Sementara, untuk semua orang yang sakit: semoga segera diberi kesembuhan dan bisa menjalani kehidupan seperti sedia kala. Al fatihah…..

 

Advertisements

7 thoughts on “Orang-Orang di Rumah Sakit

  1. Sama dengan mas, setiap saya ke rumah sakit impresi selalu muncul, tapi bukan ‘ketakutan’ atau ‘kemuraman’. Perasaan yang saya sendiri sulit identifikasi, tapi selalu sama mas. Seperti, rumah sakitlah gambaran kehidupan itu sendiri.

    Akhirnya setiap saya ninggalin rumah sakit, selalu sama kesimpulannya, ‘bahwa kita terbuat dari daging dan darah, suatu hari kita bakal mati dan dunia akan berjalan baik-baik saja tanpa kita’. Dan kesimpuan itu bikin saya legah, entah kenapa, seperti gak ada beban lagi atas tuntutan dari orang-orang.

    Salam kenal mas 🙂

  2. Terkadang rasa syukur datangnya bisa dari rumah sakit, disaat kita ngersa “kok gini banget” teryta kita masih beruntung dibandingin org lain, tergantung dari sudut mana kita melihatnya 😊

  3. Itu mungkin salah satu alasan dinamakan ‘rumah sakit’ ya?
    Saya termasuk yg selalu keder dengan kata rumah sakit, ngilu duluan tubuhnya. Sebab, orang sehat yg menunggu di rumah sakit, bisa ikutan sakit.

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s