Kepada Puan: Meledek Nasib

Puan, aku hendak mengeluh tentang kemalasanku belakangan ini. Hampir sebagian besar kebiasaanku dulu, kini enggan kulakukan. Entah apa yang melatarbelakanginya, entah bagaimana aku menanggulanginya. Buku-buku yang kubeli butuh waktu sebulan untuk kuselesaikan. Minat baca seperti berkurang, begitupun minat menulis. Musik-musik yang kudengar hanya sebagai hiburan sesaat, formalitas, seperti bapak-bapak yang membiarkan televisinya menyala ketika ia hendak tidur. Namun, bukan berarti aku tidak mengerjakan apa-apa. Beberapa pekerjaanku selesai sebelum waktunya, meski beberapa sengaja kutunda. Pembelaanku sementara ini hanyalah kemalasan musiman. Mungkin bisa jadi salah, bisa jadi benar. Tapi tidak ada salahnya bukan membela diri ketika kita merasa tertekan? Iya, iya, asal tidak berlebihan aku selalu ingat petuahmu.

Puan, barangkali kita perlu berjumpa lagi barang tiga puluh menit saja. Perkara aku akan habiskan dengan menatapmu saja atau kita berbincang sampai mulut berbusa itu urusan nanti. Kita bisa buka perjumpaan itu dengan saling meledek tubuhmu yang membesar atau kulitku yang takkunjung memutih. Tiga puluh menit memang tidaklah cukup, tapi kurasa waktu yang baik untuk memulai. Bagaimana? kau setuju?

Kemudian, kita bisa saling mengeluhkan sesuatu, mengutuki apa yang tak bisa kita dapat, lantas membicarakan orang seolah kita adalah orang paling benar sejagad. Kita akan kembali menjadi manusia yang tiap kesalahannya dilindungi oleh kewajaran atas sifat-sifat manusiawinya. Kita akan tertawa lepas hari itu tanpa perlu khawatir apa yang akan terjadi besok. Tentu kamu tahu aku benci hal itu bukan? Manusia suka sekali mengkonjungsikan sesuatu dengan hal yang belum terjadi. Mengapa kita lebih menanti hari esok daripada menghargai hari ini?

Kamu tentu paham puan, tiap hal-hal yang terjadi di kolong langit ini bisa dilihat dari dua hal tergantung pada hasil akhirnya. Semisal kita menang, kita menganggap itu hasil kerja keras kita dan kemenangan tersebut adalah bonus. Lain hal jika kita kalah, ujug-ujug kita bisa menyalahkan takdir yang tak jelas juntrungannya. Ditambah, pada kekalahan kita lebih mudah untuk menjadi jumawa kemudian merendahkan? Apakah kita tidak diciptakan untuk legawa, puan?

Barangkali aku memang perlu menyadari ucapanmu waktu itu bahwa manusia tidak ada bedanya dengan kentut. Dalam keramaian, kita berharap angin yang keluar tidak menimbulkan bau yang membuat orang mual, sementara ketika sendiri kentut-kentut bisa jadi sebuah parade yang mengalahkan marching band yang sedang main dalam festival. “kita adalah sesuatu yang kita tutupi” katamu saat itu.

Puan, jika kamu merasa merindukan ibukota, carilah alasan untuk membencinya. Bukan apa-apa, kadang kerinduan lebih membutakan ketimbang kebencian. Dalam harapan, kau hanya akan melihat bahwa gemerlap Jakarta adalah keberkahan. Meski yang sebenarnya terjadi, sebagaimana kata Sukab, kegemerlapan Jakarta adalah cermin kepahitan yang gagal diredamnya. Tak perlu diperdebatkan, puan. Kau juga tak perlu telan bulat-bulat, kau mungkin bisa mempertimbangkannya.

Aku kadang ingin tertawa setiap memikirkan sesuatu yang telah membuatku bergantung pada ibukota. Ada beberapa kisah yang sekiranya bisa membuatmu merasa menang ketika hidup jauh dari hiruk pikuk politik nasional yang terpusat ini. Aku biasa solat jumat di musala belakang kantor. letaknya ada di lantai tiga bekas gedung tua yang tak terpakai. Jamaahnya kadang tidak mencapai 40 orang. Kadang ceramah khatib hanya didengar tak lebih dari 10 pasang telinga. Sebagian besar jamaah baru berdatangan menjelang iqamah. kau bisa bayangkan perjuangan sang khotib memperkuat iman mereka yang ditekan oleh nasib. Itu belum dihitung dengan berapa orang yang tertidur atau menunduk sampai garis bokongnya terlihat.

Puan, ada sekian cerita tentang banyak hal yang bisa kukeluhkan selama mengais rejeki di ibukota. Apakah berkaitan dengan kemalasanku belakangan ini? Entahlah. Yang jelas kalau dibukukan tebalnya sama buku Teori Sosiologi Modern milik George Ritzer yang bisa kau jadikan bantal atau pengganjal pintu kamarmu yang suka menutup sendiri. Kau pasti akan mendengarkannya dengan muka datar, sampai kau kelaparan, dan meminta makan. Tenang, tenang, aku sudah menambah referensi kedai makan, ala jepang, ala korea, atau ala timur indonesia, kau tinggal pilih, kita tinggal telan.

Aku berharap kita bisa menghabiskan waktu bersama, melupakan segala ingatan buruk kita, berbincang, berjalan tanpa ada batas waktu, sampai kita pulang karena kelelahan.  Aku pasti akan belajar banyak darimu, mendengar saranmu yang dulu selalu kau bilang padaku “kau tak bisa diberitahu”, menerima segala petuahmu dengan seksama lebih dari jamaah yang berusaha mendengar ceramah khatib. Itupun jika kau mau, jika tidak, mungkin kau bisa mempertimbangkannya kembali.

 

Advertisements

leave your thought

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s