Pria itu mengepalkan kedua tangannya, kemudian mengambil ancang-ancang memukul. Di depannya, menggantung karung tinju yang digantung di rangka baja. Beberapa detik kemudian, pukulannya mendarat di bungkusan hitam tersebut. Tidak ada satu menit, dipeluknya karung tinju tersebut sambil tertawa kelelahan. Rekannya di samping menyahut, “ini pameran atau tempat latihan Chris John?” saya tertawa kecil sambil melipir ke instalasi seni lainnya.

Kejadian itu saya temui di ruang performans, Aliansyah Chaniago, salah satu seniman yang berpameran di helatan seni dua tahunan, Jakarta Biennale 2017, di Gudang Sarinah. Sekitar 50-an seniman memamerkan karyanya dalam menginterpretasi “Jiwa” yang diangkat sebagai tema pameran ini. Bersama tiga orang rekan, saya mengitari ruang pameran selama satu jam lebih untuk melihat satu per satu karya yang dipamerkan.

Sepanjang melihat karya, teman-teman saya lebih sering bertanya ke saya tentang makna dari sebuah karya. Sementara, saya sendiri lebih banyak bingung ketimbang paham. Pasalnya, setiap mengunjungi pameran, saya juga tidak berupaya untuk mencari maknanya. Di pameran, ada yang bikin menarik, yaitu mengamati pola pengunjung pameran.

Sikap pengunjung yang datang dan melihat karya sangat beragam; ada yang memandanginya lama dengan tatapan kosong, ada yang langsung dengan sekejap melihat lalu mendokumentasikannya, atau ada pula yang langsung mendiskusikan makna dibalik sebuah karya.

Saya terkadang takjub dengan laku pengunjung yang berupaya mencari makna dari sebuah karya. Berdiri lama di depannya, meneliti satu per satu sudut, penuh praduga di kepalanya, berakhir dengan wajah kikuk atau memfoto karya tersebut sebagai pembelaan karena gagal menerima maksudnya.

rangkaian foto monokrom karya Robert Zhao Renhae

Saya kemudian duduk di depan sebuah rangkaian foto monokrom tentang pohon tua besar yang tumbang. Tak lama setelah saya berupaya untuk mencari maknanya, sekelompok orang langsung mengerubung ke depan foto tersebut kemudian berpose. Sekejap, fokus saya bergeser ke arah mereka, saya menikmatinya sambil mengamini bahwa karya seni menjadi milik publik ketika ia dipamerkan sebab tiap orang bertanggung jawab dengan interpretasinya masing-masing.

Fokus dari semua itu adalah seberapa jauh kreasi-seni dianggap penting kehadirannya di tengah-tengah kita. Ia bisa jadi tujuan utama para penikmat seni sampai menjadi pilihan eskapisme masyarakat kota. Mereka yang setiap hari dikejar deadline dan menghadapi atasan yang tak pernah puas dengan kinerja karyawannya, mengunjungi pameran sebagai bentuk eskapisme.

Ini mengingatkan saya pada fenomena keberadaan diorama air terjun di rumah, selain alasan estetika, bisa jadi keberadaan diorama tersebut sebagai upaya “balas dendam” bagi sebagian orang yang waktunya habis di jalan lalu ia menciptakan kedamaian semu yang bertujuan “membayar” kepenatannya tersebut.

Vanishing Borders or Let’s Talk about the Situation in Iraq karya Ali Al-Fatlawi & Wathiq Al-Ameri

Bagi saya ini menarik, pameran biasanya menceritakan apa yang terjadi sehari-hari, sementara beberapa orang mengunjungi pameran ingin melihat sesuatu yang unik dan sesungguhnya dapat ditemui sehari-hari. Singkatnya, antara keseharian pengunjung dan makna pameran tidaklah begitu berjarak sebab kesenian tidak bisa berdiri lepas dari kondisi sosial masyarakat. Antara dua hal tersebut, menurut saya, hanya dibatasi oleh interpretasi.

Kami yang mengunjungi pameran sebagai bentuk eskapisme dapat menemui “makna-makna” seni di tengah keseharian kita; dari deretan pekerja yang baru selesai kerja, dari disparitas bangunan yang ada di ibukota, atau dari sesuatu yang setiap hari kita rasakan tanpa harus berupaya mengilhami secara rumit karya-karya yang ada di pameran.

Saya jadi ingat apa yang dituliskan Umar Kayam di buku Seni, Tradisi, Masyarakat, Ia mengatakan dalam bukunya bahwa sastra adalah penafsir kehidupan yang jitu. Sastra yang baik bukan sekadar upaya merekam “peristiwa”, melainkan juga sebagai panggung yang menciptakan serba kemungkinan. Dalam hal ini, karya-karya yang terdapat dalam Jakarta Biennale seperti sastra yang dimaksud oleh Pak Kayam. Ia menembus batas refleksi dari sesuatu yang terjadi sehari-hari dan menyajikannya kembali kepada pengunjung dengan perhitungan akan banyak mengenal kembali pengalaman-pengalaman hingga kami terhibur karenanya.

Di antara pengunjung pameran yang berwajah kikuk, berpose, memberi pertanyaan serius, atau celetukan yang muncul di depan sebuah karya adalah upaya “balas dendam” mereka yang gagal memahami “kemungkinan-kemungkinan” yang dirasakannya tiap hari. Mengunjungi Jakarta Biennale bisa jadi kami mencari kemungkinan-kemungkinan di pameran—meski secara sadar ataupun tidak—nyatanya kita adalah pameran itu sendiri.

 

2 thoughts on “Di Antara Pengunjung Pameran

  1. Seni yg bagus adalah seni yg instagramable. Kalau pake definisi Pak Kayam, saya pikir bukan pameran dan karya-karya pajangannya yg sastra, justru emang pengunjungnya yg pameran sebenarnya.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s