Ode Untuk Seorang Teman

Kalimatmu tidak teratur, tergagap di sela-sela pembicaraan, terkadang ada jeda cukup lama untuk mengambil nafas seolah hal yang terjadi teramat memukul hidupmu. Boleh jadi begitu sebab kau tak pernah terbesit sedikit pun membayangkannya, sekalipun sedang buang air. “itu hil yang mustahal” sesalmu kemudian. Tapi sayang kita bicara di dunia yang lebih sering bikin kepala kita pusing. Apakah kau pernah terbayang Banda Neira atau Payung Teduh bubar ketika albumnya baru saja keluar? Mungkin tak sempat. Tapi tetap terjadi.

Matamu nampak lelah, menggelap disekililingnya seperti sisa lumpur di pinggir selokan pasca hujan. Satu per satu kisah mulai kau ceritakan, seringkali berujung pada pembenaran sesaat dan diakhiri dengan mengukutuki keadaan. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengiayakan ucapanmu. Pada pojok-pojok kuliner, pada tempat yang tak sengaja kau singgahi untuk berteduh, pada semua detail lokasi kau bersumpah bahwa kau akan kembali kunjungi. Bukan soal menghidupkan memori, melainkan pembangkangan kecil yang bisa kau lakukan untuk menyatakan bahwa kau baik-baik saja. “lihat saja.” Ucapmu asal.

Kau mengenang tentang kelakar ketika macet. Tentang pengendara asal-asalan yang membuatmu berhenti mendadak, tentang klakson yang tidak pernah berhenti berbunyi, tentang dirinya yang terkadang mengeluhkan tapi tak pernah diutarakan. Kala itu kau sadar kau harus memenuhi kemauannya, namun yang kau ceritakan tak lebih dari tetek bengek sisa berpikirmu saat itu.

Puluhan kilometer telah kau ditempuh dengan risiko terkena fleks atau penyakit paru bukanlah soal selama itu dilakukan untuk memperjuangkan keabadiaan. Meski kau tahu bahwa hidup tidak sebaik puisi Sapardi atau semenarik bait-bait Chairil. Kau sadar bunyi lokomotif yang bising seperti memanggil memori-memori kecil. Menganggu di tiap sudut kepalamu. Kamu terus saja berusaha menguatkan, bukan hatimu, tetapi orang lain yang sempat kamu kira mencintaimu. Meski kau mafhum bahwa itu akan memenjaraimu. Tapi, pada tiap kisah benci ataupun cinta, pendengar tidak bisa berbicara apapun selain kata “iya. Pun dengan itu kamu bisa belajar satu hal bahwa ketakutan yang paling hina bukan bertemu setan mata satu, tetapi memberikan kepercayaan pada orang yang dicintai. Ia bisa menjadi pegangan, atau barangkali menjadi hulu parang yang kapanpun siap menikam.

Kau mulai menyadari bahwa yang kau benci justru menghinggapi dirimu berkali-kali. Keadaan yang membuat kau mengakui bahwa kau masih dalam bayang-bayang masa lalu. Sedikit muncul dalam benakmu keinginan berjumpa, sementara kau tahu itu kemustahilan. Pertama, kau perlu tahu bahwa kau tak perlu melalukannya. Kedua, kau tak perlu berpikir hal lain yang menggerakkanmu ke arah sana.

Kau masih tetap berharap bahwa kelak mungkin kau dengannya akan kembali berjumpa. Kau yakin pada keadaan itu, kau dan dia akan bertemu dalam kikuk, ketololan, dan saling menyalahkan. Tapi, kau tahu itu bukanlah marah yang sesungguhnya. Ia hanya residu yang mesti kau keluarkan seperti masturbasi yang kau lakukan tiap akhir pekan.

Orang-orang perlahan mulai berempati, “tai!” katamu menanggapi. “telat dan tak perlu” susulmu sedikit marah. Kau mungkin sudah lelah dengan motivasi-motivasi semu yang kau tahu itu menjenuhkan jika berulang-ulang. Kisahmu adalah kegetiran yang memaksa. Pertemuan kita dimulai dengan bijak, sementara kita harus berpisah dengan cara yang tengik.

Namun, kau tak paham bahwa peristiwa di kolong langit ini tidak bisa didesain seenak kening. Dalam keadaan benci atau cinta, kau mudah gila. Kau tak mencari kewarasan, kau hanya menemui hal-hal yang mempertemukanmu dengan pembenaran. Tapi, siapapun berhak untuk membela atas apa yang tak disangka terjadi.

Kau lantas bilang bahwa harapan itu tak kenal batas ruang dan waktu, ia rela menembus sela-sela terkecil dalam dunia dan mencuat pada langit-langit hanya sekadar memenuhi perintah. Tetapi, matamu sudah lelah berharap. Kamu belum juga sadar bahwa pengkhianatan telah menusuk dinding-dinding sensitif dalam tubuhmu. Memori menjadi karib yang paling setia setelah harapan, meski menyakitkan. Ia membuatmu terus berharap, bahkan kadang sedikit gila. Tapi kau paham ini, tanpa luka, harapan tak akan terlukis indah. Kita mengerti akan harapan. Kita bebas berharap sampai denyut nadi terakhir.

Kini kuharap kau benar-benar takluk, bukan untuk kalah, melainkan menerima bahwa mengenalnya ternyata butuh waktu. Meski sedikit kau masih berharap dapat kembali mengenalnya lebih dalam, bercanda dengan orang tuanya, menceritakan sedikit kisah lucu sambil menyisipkan pesan tersembunyi, merekam kejadian-kejadian yang kau lewati, tapi tidak sekarang. Mungkin nanti. Ketika kalian mafhum bahwa yang terbaik ialah menjadi teman.

Kau bisa simpan kisah itu di laci meja kerjamu, kau bisa tengok sesekali untuk mengecek sambil sedikit berharap ia memberi kabar dan menyesali perbuatannya, sekalipun dalam mimpi.

Pagi itu kau mungkin terbangunkan oleh sesuatu yang mendenyut-denyut di kelopak matamu. Ia yang menyadarkanmu bahwa maaf yang kauperlukan–mungkin sedikit cium dan peluk–di sana kau hanya bisa meninggalkan pesan, “terima kasih, pernah ada”. setelah itu kau kembali merasa sepi. Tak perlu takut, sebab setiap sepi akan mendewasakanmu.

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s