Yang Berbincang di Whatsapp Grup

Ada dua grup whatsapp yang belakangan kejar-kejaran menduduki posisi teratas di ponsel saya, pertama dari keluarga ibu saya, kedua dari keluarga bapak saya. Nama tiap grup keluarga tersebut diambil dari nama kakek saya. Isinya sekitar 10-20 orang. Masing-masing berisikan anak, menantu, dan cucu dari kakek-nenek saya. Dalam sehari ada puluhan pesan dari grup keluarga tersebut—kadang ratusan kalau mereka sedang khilaf—yang tidak saya buka. Macam-macam yang dibicarakan, info banjir, berita hoax, hingga lelucon khas grup keluarga yang lebih bikin kesal ketimbang lucu. Haibatnya, dari puluhan orang tersebut, hanya 1-4 orang yang sebetulnya aktif mengirim pesan ataupun gambar.

Di grup dari keluarga ibu, secara obrolan sangat polos. Hal-hal yang diperbincangkan seputar kehidupan sehari-hari, rencana ke kampung, dan hasil panen. Dalam grup ini, pemain utamanya adalah pakde saya dan ibu saya sendiri. keduanya terhitung baru dalam dunia per-whatsapp-an. Tempo hari pernah saya tulis perkembangan ibu menggunakan ponsel pintarnya. Mungkin dulu saya yang dimarahi ketika ketahuan tiduran sambil asik dengan ponsel. Tapi, sekarang keadaan berbalik. Kini ia yang lebih sering cekikikan depan layar ponselnya ketimbang saya. Bulan lalu, ujug-ujug, beliau meminta saya menemani untuk beli ponsel baru,

“Van, cariin ibu hape sing kapasitas’e akeh”

“emang buat apa?”

“nyimpen foto dari whatsapp”

Lain hal dengan pakde saya. Saya ingat betul, lebaran tahun lalu ia dibelikan ponsel pintar sama bapak saya untuk mengganti ponsel lamanya yang sudah uzur sekaligus memudahkan sebaran informasi dan komunikasi dari kampung. Pakde yang sehari-hari bertani dan mengurusi sapinya—waktu itu—sedang hamil, ponsel pintar jelas asing baginya. Ponsel lamanya sudah dililit karet gelang untuk menahan casing-nya agar tak keluar isinya. Setelah ponsel barunya dipegang, benar saja, ia bingung menggunakannya. Melihat pakde utak-atik ponsel pintarnya, saya senyum-senyum sendiri. tangan kiri menggenggam ponselnya, jari telunjuk kanannya menyentuh layar ke sana kemari, matanya dipicingkan,

“buka gembok’e piye iki, Van?”

saya kemudian mengajarinya bagaimana membuka menu dan menyimpan-melihat-mengirim foto ke orang lain.

 hasilnya pun terlihat, pakde mengirimkan foto sapinya yang baru lahiran.

Di grup keluarga bapak, pemain utamanya adalah bude-bude saya. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, keluarga dari bapak saya punya kesempatan lebih besar mengakses teknologi dan informasi karena mayoritas tinggal di kota-kota besar. Orang-orangnya pun tidak ada yang bekerja di sektor informal, lain dengan grup dari keluarga ibu saya. Dari perbedaan itu, ada yang menarik. Dari grup ini saya hanya melihat sebaran-sebaran doa dan kadang lebih sering berita hoax. Isu yang biasa diperbincangkan adalah isu agama dan isu terhangat nasional. semisal soal kriminalisasi terhadap Ahok, rasanya pesan-pesan yang bertebaran di Whatsapp grup dari keluarga bapak adalah paripurna.  Juga belakangan tentang kematian Yon Koeswoyo. Semua berduka, mengingat masa tanggungnya yang diiringi lagu-lagu dari Koes Plus.

Berada di antara kedua grup tersebut saya seperti masuk ke dalam cerita Para Priyayi. Grup-grup tersebut adalah generasi selayaknya pada cerita Pak Kayam. Generasi pertama, Pak Kayam bercerita tentang munculnya banyak organisasi, generasi kedua bergeser pada masa penjajahan Jepang, generasi ketiga diceritakan dari latar peristiwa September 1965. Boleh jadi, bahasan dalam tiap grup adalah bahasan generasi. Pradigital era membuat mereka sangat dekat, lalu rehat panjang sampai teknologi kembali memudahkan mereka berinteraksi. Maka wajar jika kedua grup saling berkompetisi menduduki urutan teratas dalam aplikasi Whatsapp saya.

Sementara, cucu-cucu ini, termasuk saya, adalah generasi yang lahir ketika masa pertengahan digital. Kami yang mungkin tak terlalu gugup menerima teknologi, lebih memilih diam karena kemudahan ternyata membuat komunikasi menjadi biasa saja. Kendati demikian, saya seperti Lantip yang ikut ke sana kemari grup itu berbincang. Kedua grup tersebut memang memiliki perbedaan perbincangan yang mencolok selayaknya Haagen Dasz dan Es Tung-Tung. Tapi saya bersyukur. Saya banyak belajar. Posisi ini mengingatkan saya pada Lantip. Dengan menghabiskan banyak waktu dengan keluarga Sastrodarsono, ia paham kehidupan priyayi Jawa. Dalam versi saya, saya memahami posisi saya berada di kedua grup tersebut. Suka tidak suka, saya akan menjadi generasi itu. entah generasi yang berbincang soal keseharian, entah yang lainnya.

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s