Di Barisan Belakang

Beberapa waktu lalu, ibu mengirim pesan ke saya, mengajak saya pulang bareng naik kereta. Hal yang amat jarang dilakukannya. Biasanya ia menggunakan bis dinas yang mengantarnya berangkat dan pulang kerja. Di dalam kereta ia cerita bahwa baru saja selesai kumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu.  “tadi ibu ndak mau ikut. Tapi, dipaksa. Kata temannya ‘mumpung aku lagi di Jakarta’” tungkasnya pada saya. “mana teman satu lagi datangnya malam lagi. Jadi harus nunggu deh” sambungnya lagi. Sepanjang perjalanan saya cekikikan mendengar ibu cerita tentang reuni kecilnya itu.

Ibu saya tipikal pekerja tenggo. Jika ada pekerjaan yang belum dituntaskan, ia memilih pulang dan melanjutkannya di rumah, kecuali jika ada hal-hal mendesak yang membuatnya bertahan di kantor lebih lama. Ia hampir tidak pernah sama sekali kumpul dengan kerabat kerjanya setelah pulang kerja, apalagi singgah di tempat tertentu untuk ngopi-ngopi lucu sambil duduk cantik. Beban-beban ala kelas menengah seputar stres karena pekerjaan, tidak pernah ia tuangkan ke dalam aktivitas lain. Yang ia pegang selama ini, anak-anaknya menunggu di rumah. Sesekali ia bawa makanan rapat dari kantornya untuk anak-anaknya, termasuk saya. Tapi, mendengar ibu bercerita tentang reuni kecilnya, saya syok sebab beliau keluar dari rutinitasnya.

Kereta sedang di Lenteng Agung saat itu, Ibu bercerita tentang salah satu teman SMP-nya adalah salah satu anggota DPRD dari Kebumen. Ceritanya tipikal khas ibu-ibu yang suka gosip di depan tukang sayur, “ibu gak nyangka lho dia bisa jadi anggota DPRD. Pinter yo ora” Blas, saya betul-betul geli mendengar cerita ibu. Di tengah obrolan giliran saya ditanya, “kok tumben kamu pulang cepat?” ibu entah bertanya entah menyindir, tapi saat itu saya sedang mengurus pekerjaan di luar kantor sehingga bisa pulang lebih awal. Memikirkan pertanyaan ibu, lamat-lamat saya berpikir bahwa yang terjadi dengan ibu dan saya adalah berkebalikan. Saya kaget dengan ibu yang pulang kerja lebih lama, ibu kaget dengan saya yang pulang lebih cepat.

Di lain cerita, beberapa waktu lalu, pasangan saya mengajak nonton konser sepulang kerja. Kami datang lima menit sebelum konser dimulai. Sudah jelas rambut-rambut penonton lebih terlihat daripada yang ada di atas panggung. Kami berdiri di depan Front of House. Sepanjang konser bergoyang dengan sisa tenaga yang ada, kadang bernyanyi kecil, kadang membalas pesan dari atasan.

Kami tidak segairah sebagaimana tiga tahun lalu. ketika konser adalah sebuah tujuan. Kami rela datang satu jam lebih awal sebelum acara dimulai. Bahkan untuk konser yang di luar kota pun kami berangkat. Tak peduli desak-desakkan, bagaimanapun caranya kami harus berdiri di depan. Berteriak kencang, bersiap mendokumentasikan acara, berjingkrakan, dan selesai dengan suara serak.

Pasca konser, saya merasa baru saja melihat orang-orang yang mengerubung di fly over, lalu saya coba masuk dan setelah dilihat ternyata mereka hanya berdiam memandangi genteng-genteng komplek. Selewat. Setidaknya begitu. Untuk hiburan semata setelah mengendarai motor puluhan kilometer. Malam itu kami datang hanya sekadar singgah. Sebuah jeda untuk melupakan tumpukan dokumen yang ada di meja. Setelah itu, kami tetap menjadi pion-pion dibalik kubikel yang menunduk ketika atasan lewat atau menyiapkan banyak tab jika ada sidak.

Belakangan saya merasa dalam fase “we’ve been there.” Barangkali ini menjijikan, sok, atau klise, tapi melakukan hal yang sudah pernah dilalui sekarang lebih dianggap sebagai sebuah jeda. Ia bukan sebuah tujuan. Ini bukan fenomena antara mainstream dan antimainstream. Saya juga tidak naif kalau saya masih mendatangi konser-konser musik. Mungkin sekarang lebih selektif dan penuh pertimbangan. Entah mungkin saya yang tak siap dengan kenyataan bahwa setelah itu saya akan kembali ke kubikel, entah saya mulai memasuki apa yang dilakukan oleh ibu dengan reuni kecilnya.

Meski tiba di rumah telat, tapi saya yakin ibu cukup menikmati kumpul dengan beberapa teman sekolahnya. Reuni kecil ibu membuka ruang antusiasme kembali. Ruang yang mendobrak rutinitas kesehariannya sebagai pekerja tenggo. Ia yang lama melewati fase “been there” kembali lagi, bukan dalam bentuk tujuan, melainkan sebuah jeda. Selayaknya mengisi teka-teki silang di akhir pekan. Pun saya dan konser, di ruang yang lain, adalah kontradiksinya.

Mungkin dari belakang saya hanya bisa mengingat momen menelusup masuk di antara barisan penonton untuk berdiri di depan, berteriak sekencang-kencangnya seolah tumpah semua masalah, atau berjingkrakkan seperti tak kenal hari esok. Di barisan belakang, saya teringat bait lagu Sore, “dan kita coba kenangi semua/ walau telah tiada/ bagai etalase jendela,” sambil berharap ada reuni kecil yang akan saya hadiri ke depannya.

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s