Nella Kharisma, setidaknya, tumbuh di tengah situasi dangdut yang tengah berkecamuk. Ia adalah oposisi biner yang muncul tatkala perdebatan Ayu Ting-Ting dan Via Vallen yang pada akhir tahun 2017 sedang panas akibat MUA (Make Up Artist) Ayu Ting-Ting menuduh Via Vallen sebagai gundik. Perdebatan dilanjutkan oleh serdadu kedua penyanyi tersebut di kolom komentar Instagram. Sementara, Nella Kharisma ibarat poacher dalam sepakbola yang membuka ruang untuk dirinya sendiri, penuh kecepatan, pergerakan tanpa bola, dan memiliki kemampuan menggiring yang bagus membawanya menjadi penyanyi yang paling banyak ditelusuri di mesin pencarian, Google.

Melalui lagu bertemakan sihir tradisional, Jaran Goyang, Nella Kharisma meneluh pengguna internet untuk melongok video klipnya di kanal Youtube yang pada Februari 2018 telah ditonton 140 juta kali. Dengan memadukan genre dangdut, reggae, dan hip hop, ia menghapus stigma dangdut candoleng-doleng yang sering dikaitkan dengan pornoaksi karena menunjukkan lekuk tubuh tak senonoh dan goyangan beragam rupa. Jaran Goyang menyentuh sisi kehidupan sehari-hari masyarakat. Meski bukan single pertama Nella dalam debutnya di ranah dangdut, lagu tersebut menjadi sentilan bagi kaum pria—yang sebetulnya—gagal meraih hati wanita.

Lirik dalam lagu Jaran Goyang pun menggunakan bahasa yang akrab, mudah dicerna. Maknanya seolah mewakili suara masyarakat tentang kisah cinta yang cengeng, mimpi lelaki yang mau memperbaiki nasib dengan segala cara.

Jurus yang sangat ampuh, teruji terpercaya/
tanpa anjuran dokter, tanpa harus muter-muter/
cukup siji solusinya, pergi ke mbah dukun saja/
Langsung sambat, “Mbah, saya putus cinta”/

Istilah-istilah yang muncul dalam lirik lagu Jaran Goyang sangat kental dengan nuansa santet di Jawa Timur. Berdasarkan sejarahnya, santet terdapat empat kategori ilmu sihir yang dilambangkan dengan empat warna, yaitu: hitam, kuning, merah, dan putih. ilmu hitam digunakan untuk keperluan kejahatan berat yang seringkali menimbulkan kematian, seperti Bantal Nyawa, Bantal Kancing, Cekak. ilmu kuning berhubungan dengan Si Gandrung Mangu, Sabuk Mangir, dan Semar Mesem. Ilmu merah hampir mirip dengan ilmu kuning namun efeknya lebih berat. Secara umum, ilmu kuning dan ilmu merah digolongkan sebagai ilmu santet.[1] Sedangkan ilmu putih sebagai penetral dari ilmu-ilmu santet yang dikirim.

Jaran Goyang terdiri dari kata “jaran” (kuda) dan “goyang” (bergerak, goyang). Jaran Goyang termasuk ke dalam sebuah ilmu santet dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi sebagai seni tari. Tari Jaran Goyang ialah satu seni tradisional yang proses kelahirannya diilhami oleh tari Seblang dan Gandrung.[2] Beberapa literatur yang menuliskan tentang Jaran Goyang menyebutkan bahwa tarian tersebut mengandung kekuatan gaib sebab menggambarkan hubungan asmara remaja. Jaran Goyang dimaksudkan untuk mendapatkan cinta seorang gadis—yang membuat ingatannya menjadi tidak stabil—dari aji-ajian yang dikirimkan oleh jejaka. Nella Kharisma juga menyitir tentang jurus ampuh lainnya jika Jaran Goyang gagal, yaitu Semar Mesem.

Kalau tidak berhasil, pakai jurus yang kedua/
Semar mesem namanya, jaran goyang jodohnya/
Cen rodok ndagel syarate, penting di lakoni wae/
Ndang di cubo, mesthi kasil terbukti kasiate, genjrot/

Dibalik ketipung kendang, suara suling yang mendayu, serta rap yang memukau dari Nella, Jaran Goyang sebetulnya mengingatkan kita pada satu kejadian kekerasan yang terjadi 20 tahun silam. Di daerah asalnya, Banyuwangi, santet menjadi catatan kelam dalam sejarah kekerasan kolektif yang pernah terjadi di negara ini. Bagi penduduk di sebagian desa di Banyuwangi, dukun santet dipercaya merupakan ancaman yang kronis dan dekat dengan diri mereka. Santet disebut sering digunakan untuk mempengaruhi seseorang untuk mewujudkan keinginannya, bahkan melakukan pembunuhan.

Peristiwa tersebut dimulai dari keresahan masyarakat karena stigma yang terbentuk pada individu-individu, Sehingga menimbulkan perilaku yang membuat individu lain mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkan pada subjektivitas tersebut. Dari stigma-stigma yang bermunculan tersebut, akibatnya 115 warga tewas, mayoritas korban yang tewas bukan merupakan dukun santet. Kekerasan kolektif yang terjadi pasca reformasi tersebut menunjukkan potret negara yang buruk dengan kualitas penegakan hukum yang lemah dan lamban.

“era dukun santet” menunjukkan suatu upaya membentuk satu konstruksi berpikir yang mendorong masyarakat berbuat sewenang-wenang dengan memanfaatkan perasaan kecewa, terancam, terhadap dukun santet sehingga “terpanggil” untuk melakukan tindakan kekerasan. Belakangan, kita diingatkan kembali oleh Nella Kharisma perihal santet melalui lagunya. Berkaitan dengan kekerasan kolektif, temuan KontraS pada 2017 menunjukkan bahwa terdapat 75 kasus pelanggaran terhadap hak KBB (kebebasan beragama dan berkeyakinan) pada tahun lalu. isu KBB mencuat ketika penyelenggaraan Pilkada DKI Jakarta 2017. Munculnya aksi bela islam jilid I-III menunjukkan bagaimana polarisasi politik berdampak pada perpecahan di masyarakat secara signifikan. Pihak oposisi Pemerintah melihat agama ditambah dengan rasa populisme adalah senjata politik yang baru untuk dapat memberikan pesan politik yang signifikan. Tak heran, agama menjadi bahan bakar penting untuk meraup suara massa dalam pemilu, juga tidak sedikit yang menggunakannya sebagai upaya untuk membungkam suara yang liyan.

Kekerasan yang terjadi sampai hari ini masih mewarnai kehidupan sebuah komunitas, bahkan dalam kebudayaan bangsa Indonesia seakan telah tertanam budaya kekerasan. Hal yang berkaitan dengan isu KBB juga terjadi belakangan ini. Kekerasan terhadap tokoh- tokoh agama terjadi sejak awal tahun 2018 cukup menjadi perhatian publik mengingat kejadiannya berdekatan dengan event politik, yaitu penyelenggaraan Pilkada Serentak 2018. Setidaknya, sejak Januari hingga Maret 2018, terjadi sejumlah peristiwa “penyerangan” yang berkaitan dengan sarana ibadah maupun tokoh agama.

Hal-hal yang terjadi belakangan seolah menyinggung peristiwa di masa lampau.  Peristiwa penyerangan sarana ibadah maupun tokoh agama yang terjadi berdekatan tersebut menjadi penting untuk ditemukan pemahamannya atas realita sosial yang terjadi, dengan pertimbangan: Pertama, terdapat sejumlah kasus penyerangan dan teror yang berkaitan dengan lembaga keagamaan. Kedua, peristiwa-peristiwa tersebut terjadi hanya berselang beberapa hari. Ketiga, pelaku yang ditangkap diindikasikan terkena gangguan jiwa.

Pola-pola kekerasan yang terjadi adalah sebuah konstruksi awal yang akan berlipat ganda dan mempermudah kepentingan kelompok tertentu untuk menggunakannya sebagai alat memobilisasi massa. Perasaan takut, kecewa, dan merasa terancam akan menimbulkan konstruksi sosial mencari sasaran kelompok untuk dijadikan target massa, sehingga secara tidak sadar kelompok-kelompok yang merasa terancam akan ikut dalam ajakan untuk menghabisi suatu kelompok lainnya. kembali kepada “era dukun santet” bahwa peristiwa penyerangan kelompok masyarakat terhadap orang yang dituduh dukun santet karena ada perasaan kecewa, mengeluh, dan terancam karena isu dukun santet, sontak dapat dimobilisir untuk melakukan kekerasan. Pada akhirnya, kelompok yang merasa terancam tersebut digunakan untuk membunuh orang-orang yang diduga dukun santet.

Semestinya negara patut berterima kasih pada Nella Kharisma, ia menjadi pengingat bahwa ada sejarah kelam yang menunjukkan ketidaksiapan negara dalam menangani kekerasan. Dari Banyuwangi hingga Jakarta, kita diperingatkan bahwa bukan tidak mungkin tradisi kekerasan kolektif akan semakin melebar dan menjadi tindakan yang dipilih untuk mengakhiri permasalahan atau menyuarakan kepentingan. Barangkali negara memang perlu belajar dari Nella Kharisma sebagai oposisi biner, menjadi poacher yang mendobrak pakem-pakem yang menghambat penegakan hukum terhadap kasus kekerasan kolektif yang terjadi hingga hari ini. Namun, dengan catatan, tanpa bantuan dukun.

Hak e! Hok ya! Hok ya!

[1] Sukidin. 2005. Pembunuhan Dukun Santet di Banyuwangi. Surabaya: Universitas Airlangga

[2] Sudibyo, Aris. 1982. Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

7 thoughts on “Nella Kharisma dan Sejarah Kekerasan Kolektif

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s