Yang Tertinggal di Kedai

Selamat malam, E

Semoga kau baik-baik saja pasca minggu berat, akhir bulan, pekerjaan menumpuk, serta hal tidak penting yang—ternyata—dapat menghilangkan kewarasanmu selama beberapa hari. Semoga gelembung di bawah matamu kian meredup hari ke hari. Semoga tidak ada yang sadar pula bahwa kau membawa seribu (atau mungkin sejuta?) harap yang kau taruh pada gelembung tersebut, hingga akhirnya pecah begitu saja tanpa sisa. tapi, kutahu, bibirmu yang mampu merekah lebar bagai lahan sawit di Kalimantan itu dapat membuat orang turut berbahagia atas kehadiranmu.

Tiba-tiba saja, aku menepi di sebuah restoran yang pernah kujanjikan tak akan kudatangi. Tentu kau tahu, aku kesulitan memilih makanan asing tanpa didampingi orang yang bisa membantuku memilih menu. Barangkali dengan keahlianmu yang kerap menyebut makanan enak sebelum pernah mencobanya bisa membantuku? Awalnya kuharap memang demikian. Namun,  hari-hari semakin sibuk dengan segala tuntutan hidup yang entah muncul dari mana. Hal-hal yang sesekali membuatku ingin mengumpatkan kata-kata asal, semacam biji kuda atau nenek lu salto. Umpatan-umpatan yang dapat membuat bahuku kebiruan ketika berbicara di sampingmu. Aku masih hafal pada momen apa kau bisa bebas memukulku tanpaku marah.

E yang baik, cuaca yang anomali ini ternyata semakin memperburuk keadaan saja. Terkadang memang aku saja sih yang mengaitkannya. Kwitang sudah sebulan ini suhu udaranya lebih tinggi daripada nada khotib jumatan. Jika kamu berjalan sebentar seputaran Kramat Raya, aku bisa jamin, baru lima menit kau akan gatal-gatal sekujur tubuh, laku yang dapat kau lakukan hanyalah mencari tempat berteduh untuk menggarukkan kepalamu yang meski tanpa kutu atau ketombe namun gatal. Dampaknya, beberapa waktu belakangan, aku mudah sekali terserang flu. Iya, penyakit yang hanya satu obatnya katamu satu waktu, “flukanku”. Kalau dipikir-pikir, sih, betul juga. Obat generik atau herbal sekalipun hanya sementara.

Kau tahu tidak mengapa banyak hal yang tiba-tiba datang, tiba-tiba juga menghentikan? Semoga kau tidak menjawab kematian. Ada yang lain. Lebih sederhana dan menyebalkan, seperti ketika kau sedang berbincang di teras, obrolanmu bisa tiba-tiba berhenti karena suara knalpot bobok yang tetiba meninggi atau karena kompresor cat duco yang tiba-tiba menyala. Keduanya membuyarkan obrolan. Barangkali begitu juga dalam hidup. Semakin tak heran mengapa Pram sempat bertanya, “mengapa manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang?” aku membaca kecemasan Pram di situ. Kecemasan ternyata membikin spaneng manusia 100x ketimbang antre suntik difteri. Tapi, kecemasan juga dapat membuatku berpikir hal-hal ringan, membuatku mereorientasi lagi cara berpikir, mungkin ketika dalam keadaan stabil bisa saja aku sebut sebagai kegiatan tolol yang melelahkan.

Sejenak aku memandangi orang yang melintas di depan kedai, mengamati perbincangan pengunjung kedai, persis teringat sore yang gerimis ketika Gie mengungkapkan cintanya pada Kartini di Toko Roti Tegal, Matraman. Di depan roti nanas, Gie mesam-mesam. Mungkin sesekali ia meremas kain bajunya. Cinta yang platonik. Sebelum Semeru lebih memilih Gie. E, mengapa mudah sekali

E yang menggemaskan, nyatanya kita tidak bisa terus menerus menyusun-mengubah taktik sementara kita beberapa kali pertahanan kita diserang. Kita mungkin bisa belajar dari AC Milan bahwasanya pembelian pemain, berpindahnya pemilik saham, hingga gonta-ganti pelatih tidak cukup membawa klub itu menyentuh posisi lima. Posisi yang memalukan bagi klub yang pernah menjuarai Liga Champion sebanyak 7 kali. Lebih parah ketimbang Persikad Depok. Begitu kira-kira. kita (aku—red) mungkin perlu sadar bahwa sesekali umpan terobosan lebih manjur ketimbang umpan pendek yang tak membuahkan gol. Jika memang semudah itu, tentu aku akan melihat tahun ini AC Milan juara liga.

E, aku ingin kita dapat kembali berbincang. Kau pasti tahu, di sebuah kedai dengan lampunya yang temaram, pendar cahayanya tak membuat pengunjung pusing, dan suara manusia berbincang lebih dominan daripada suara musik. Lumpia udang, makaroni panggang, dan teh poci tentu akan siap di meja sebelum kamu tiba. Mungkin itu lebih menyenangkan ketimbang roti nanas ala Gie dan Kartini. Kudapan yang membuat kita berlama-lama duduk berbincang sambil menunggu kereta paling malam. Barangkali di sana kita akan kembali pada kewarasan kita. Barangkali di sana kita bisa kembali meletakkan rasa sentimentil pada tempatnya.

Semoga kamu tidak keberatan.

Senen, 5 April 2018

One thought on “Yang Tertinggal di Kedai

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s