Saya percaya tiap tulisan selalu merepresentasi persoalan hidup yang dialami sang penulis. Sekalipun itu kisah fiksi. Mungkin tidak semua, paling tidak sebagian. Ada keriuhan-keriuhan kecil yang coba disisipkan penulis dalam tiap tulisannya. Entah perasaan yang degil, entah kebencian mendasar pada sesuatu. Begitu halnya ketika saya membaca kisah Eka Kurniawan pada salah satu cerpennya, Surau.

Meski saya baca sewaktu sedang buang air, rasa-rasanya saya tetap dapat menangkap isi tulisan Eka. Dalam Surau, Eka menceritakan seseorang (entah dirinya, entah orang lain) sedang singgah di sebuah Surau yang jaraknya hanya selemparan tombak dari rumah. ia terjebak hujan. Terpaksa harus berteduh di Surau dengan mantan guru ngajinya yang matanya telah rabun dan sedang mendirikan Asar. Ia kikuk pada situasi tersebut sebab bertanya-tanya dalam hati apakah ia hendak melepas sepatunya dan mendirikan solat yang hanya lima menit. Hujan tidak juga berhenti, sementara mantan guru ngajinya hampir selesai solat. Ia menyiapkan dalih jawaban jika ditanya kenapa tidak juga mengambil wudhu. Sang mantan guru ngaji pun selesai solat, tersebab matanya yang rabun, ia tak melihat seorang yang berdiri di surau. Ia meninggalkan surau. Sementara tokoh tersebut masuk ke dalam surau dan ketika hendak mendirikannya, ia lupa bacaan solat.

Cerita selesai sampai di sana, saya membaca keresahan Eka. Ada kegamangan yang timbul pada situasi tersebut yang berakibat pada kikuk serta perasaan tidak enak terhadap sesuatu yang sering dilakukan di masa lampau, namun tak lagi menjadi kebiasaan. Saya rasa setiap orang merasakan yang sama, Eka mungkin bercerita mengenai ibadahnya, tapi tentu ada hal lain yang sama besar rasa gelisahnya jika ditinggalkan. Semua orang. Termasuk saya sendiri.

Di lebaran tahun ini, hal yang patut saya mohonkan maaf pertama kali adalah diri saya sendiri. Setidaknya selama lima-enam bulan belakangan dengan dua kegiatan yang saya lakukan dalam sehari. Saya merasa saya kurang menghargai diri, saya lebih sering menuruti hasrat diri yang terkadang tak penting, bahkan mempertimbangkan kemauan orang lain yang setelah saya sadari amat melelahkan. Ibarat makan malam, saya kenyang karena dessert, padahal menu utama belum saya sentuh.

Berharap saya dapat membuat diri saya berpikir terus menerus ternyata cukup melelahkan dan lupa diri. Bersyukur saya masih mengenal batas. Tidak, tidak, tidak ada hal yang saya lakukan merugikan orang lain. Kegamangan memang bisa terjadi kapan saja saya rasa. Ia bisa ujug-ujug timbal melibatkan perasaan yang sedemikian subtil dan sentimentil. Ia tak peduli apakah kau baru saja tertawa terbahak-bahak atau ada teman yang mengoreksi perilakumu. Tapi, ia timbul karena kesadaran pada titik tertentu yang muncul dari dalam diri tanpa perlu diingatkan siapapun.

Pada tingkat tertentu memang saya terlihat seperti balas dendam atas kegiatan yang saya lakukan sehingga saya terjebak pada industri budaya ketika kebahagiaan yang begitu personal dikendalikan oleh kekuasaan. Pada bagian ini saya mengingat pesan Kuntowijoyo, “tinggalkan segala milikmu. Apa saja yang menjadi milikmu, sebenarnya memilikimu”.

Bahagia menjadi kata yang mahal dan klise belakangan. Sampai saya bertemu dengna hal-hal yang membuat saya menelan ludah dan berpikir kembali tentang arti kata tersebut. Saya bersyukur bisa bertemu dengan anak-anak yang tumbuh dan besar di Kimaam, Pulau Yos Sudarso, Papua, beberapa waktu lalu. Lokasi terjauh yang saya pernah datangi selama saya bepergian. Saya menginjakkan kaki persis ketika mereka sedang bermain bola di halaman rumah yang luasnya hanya sebesar kos-kosan bedeng pinggir kampus. Jelas sempit dengan sepuluh orang pemain. Tentu saya pernah merasakan hal yang sama, di masa silam, berkawan dengan lumpur dan menangkap ikan di sungai yang berisi kotoran manusia. Saya teringat masa itu ketika bola yang ditendangnya jatuh tepat mengenai muka saya. Saya lantas berpikir bahwa mereka tak membuat standar kebahagiaan selayaknya kita (saya hari ini—red) yang mana kemudahan mengakses terhadap apapun nyatanya tidak semenyanangkan yang dibayangkan. Kemudahan ternyata adiktif, mengikat, mengurung, dan menjauhkan saya pada hal-hal sederhana seperti bercengkerama dengan kerabat atau boleh jadi malah mengikis empati.

Kendati demikian, selama di sana saya tetap saja mencari sinyal yang muncul jarang-jarang dan resah jika sudah memasuki waktu listrik padam. Tidak apa-apa. mungkin saya harus terus belajar dari keterbatasan yang bisa jadi meningkatkan kemampuan saya berkomunikasi dan bersosialiasi dengan orang lain—meski saya tahu ini berat—sebagai sesuatu yang harus dilakoni. Pada titik ini, sebelum saya memohonkan maaf saya pada orang lain, tepat sudah saya memohon maaf pada diri sendiri terlebih dahulu yang selalu muncul tiap saya berjalan, tiap berjumpa dengan orang, namun luput saya lakukan. Pada akhirnya saya selalu belajar.

 

 

Post-sciptum: pada siapapun yang membaca blog saya, mengingat belum terlalu jauh dari hari lebaran, saya memohon maaf atas tulisan-tulisan saya jika kurang berkenaan di hati. semoga saya selalu termaafkan. 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s