Semenjak kembali bekerja pascalebaran, saya menggunakan transjakarta sebagai moda transportasi menuju kantor. Alasannya klise, saya mau merasakan suasana baru. Ternyata ketagihan sampai sekarang. Meski tiba di kantor bisa lebih lama, saya tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang dan mendengar ocehan paguyuban pria tanggung Commuter Line. Hampir semua hal yang saya rasakan di kereta berkebalikan dengan yang saya rasa ketika naik transjakarta. Di kereta, saya bisa mandi keringat, tidak dapat duduk, napas tersengol-sengol. Sementara di Transjakarta, dengkul saya lebih sehat, napas lega, malah bisa masuk angin karena AC-nya cukup dingin.  Namun, ada konsekuensi lain yang harus saya tanggung, saya mesti merasakan degilnya kemacetan ibukota di beberapa ruas jalan.

Barangkali kemacetan menjadi salah satu alasan sebagian teman kuliah bersumpah serapah tidak ke Jakarta untuk bekerja. Kemacetan sudah menjadi karib bagi ibukota, namun momok bagi teman saya—juga saya sendiri. Mungkin ada sekian banyak penelitian tentang Jakarta dan kemacetannya yang malah hanya berakhir di rak buku. Toh, puluhan regulasi dibuat, kendaraan (pribadi) selalu memenuhi isi jalan. Syahdan, hanya momen lebaran yang mampu mengurangi kemacetan.

Waktu macet ini sering saya gunakan untuk mengamati keadaan sekitar—tentu lebih sering saya mengkhayal sesuatu yang tak mungkin terjadi. Seperti kebiasaan saya di kereta, mengamati penumpang dari transportasi publik menjadi bagian dari rutinitas pagi saya. Transjakarta membuat saya lebih leluasa untuk mengamati manusia. kondisi penumpang bis yang lengang dan bersebelahan langsung dengan kendaraan pribadi, membuat saya mudah sekali menganalisis mereka yang “setiap hari” di jalan.

***

Ada mobil peugeot berisi dua orang, satu lelaki yang menyetir mobil dan perempuan yang duduk di bangku sebelahnya, berhenti di samping transjakarta yang saya tumpangi. Mungkin sepasang suami istri, mungkin  juga yang lain. Karena postur transjakarta lebih tinggi, saya bisa melihat mereka dengan mudah—sempat saya berpikir macam-macam soal ini. Sudah tiga puluh menit, saya dan mobil peugeot itu terhenti di jalan depan UKI karena bottleneck. Saya mulai jengkel. Bayang-bayang gaji yang dipotong memutar dalam kepala. Saya melirik ke arah mobil peugeot lalu melihat perempuan itu berdandan dan terlihat ceria sekali sambil berbincang dengan pria di sampingnya. Mungkin si perempuan sedang bercerita tentang kawan kantornya yang memiliki nasib naas perihal percintaannya atau si pria yang berkelakar mengenai hal yang tidak pernah terjadi untuk mencairkan suasana.

Pria tua di samping saya tiba-tiba menyeletuk, “macet kok kayak seneng banget” ucapnya sambil mengarah ke arah mobil. Saya tersenyum mendengarnya. “kita pusing, dia kayak bahagia banget macet, bisa ketawa-ketiwi, kayak wajar aja gitu.” lanjutnya. Diam-diam saya mengamini ucapannya. Ketika saya rungsing, mereka malah nampak bahagia seolah kemacetan adalah bagian dari kehidupan yang mesti dijalani. Memang ada banyak kemungkinan, mungkin mereka masuk kantor lebih siang dari saya, mungkin mereka adalah bos di tempat kerjanya, atau mungkin juga mereka sudah kalkulasikan kemacetannya. Tapi, tetap saja, jalanan mengubah kutukan menjadi kewajaran.

Saya sudahi pandangan saya ke mobil itu, kemudian beralih pada manusia dalam transjakarta. Bagai jukstaposisi antara apartemen dan kontrakan di Cikini, saya melihat wajah lesu kurang darah dan zat asam yang sepanjang perjalanan diisi dengan tidur dan menatap ponselnya. Penumpang ini nampak kurang tidur dan kurang makanan bergizi. Tak ada wajah seceria perempuan dan pria yang saya lihat di mobil itu. boro-boro berdandan, mereka harus mengubah  tas punggungnya menjadi tas perut kalau mau aman dari copet. Setelah dikembalikan, pakaian langsung lecek seperti baru diambil dari jemuran. Pada tangan-tangan yang bergelantungan, pada punggung yang memaksakan bersender itu mereka seperti berteriak “sudah bekerja keras bagai bajing, tapi bergerak di situ-situ saja.”

Dalam tiap fase saya mengamati tingkah manusia di transportasi publik, saya ingin membatin mengapa engkau nampak gelisah? Apakah karena engkau ingin yang lebih dari yang kau bisa dapatkan?” tapi, kerapkali saya urungkan sebab saya adalah bagian dari mereka. Saya satu dari banyak orang di transjakarta yang dengan tangan bergelantung, bersender, dan menaruh tas punggung di perut, dengan sedikit khayalan babu di pikiran sambil menikmati kemacetan.

Sambil merasakan macet, dari dalam Transjakarta, saya merasa jalanan serupa pacar yang sedang mutung. Saya merasa kesal, tapi diam-diam juga saya perhatikan. Saya mengutuki kondisi jalan yang macet dan berharap dapat menyiram kuah batagor pada kendaraan yang masuk ke dalam jalur bis, tapi tetap saja saya berada pada jalan itu. Barangkali memang ada sesuatu hal yang diberikan kota ini, selain bau bacin keringat penumpang kereta atau kentut yang sesekali saya sesap di transjakarta, bisa jadi ketabahan. Perihal tersebut seringkali saya abaikan sebab terkadang saya seperti dipaksa menjadi mur-mur peradaban yang membuat saya menjadi robot, menjadi mesin penetas karir, yang kehabisan baterai di malam hari, sementara di akhir pekan saya bisa mendadak berubah menjadi juru penghibur diri. Pada titik ini, saya khawatir ketika kalkulasi telah saya jadikan ukuran, sementara kebahagiaan saya jadikan obsesi.

Boleh jadi selama ini saya mengamati orang lain berangkat dari mencari kesamaan nasib. Semacam kedengkian yang sedang mencari sahabat karib. Lalu, methakil melihat orang lain yang tak setara. Dari transjakarta saya belajar melihat, bisa jadi kesusahan itu muncul karena pikiran sendiri. siapa sangka, perempuan dan pria dalam mobil itu bukan berangkat kerja, melainkan menjenguk saudaranya yang sedang sakit lalu menghibur diri dengan tertawa untuk meringankan pikiran di jalan. Dengan demikian, saya bisa pelan-pelan membahagiakan diri dengan kebahagiaan orang lain.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s