Saya ingat betul saya dimarahi ibu ketika belajar saya diam – diam menyalakan televisi untuk menonton aksi Rob Bredl  di acara Killer Instinct atau acara “Animal Planet” yang serupa dipandu Steve Irwin yang “menaklukan” binatang – binatang. Acara tersebut lebih menarik perhatian saya ketimbang sinetron/telenovela yang sedang tenar saat itu. saya bisa berhenti di depan tv lama – lama demi menikmati Rob dan Steve. Mereka memperlakukan binatang selayaknya mereka sedang mengontrol emosi diri. Meski ada persiapan dan latihan yang matang dalam menaklukan binatang, namun saya mafhum bahwa buaya bisa kapan saja mengunyah organ tubuh kita atau macan tutul yang sekonyong – konyong menghancurkan niat baik kita satu detik sebelum kita berupaya dekat dengan kehidupan mereka (binatang).

Kebiasaan itu masih saya lakukan sampai sekarang. Pada seperempat abad umur, saya masih senang melihat kehidupan binatang. Bedanya, kini saya tidak perlu mengumpat dari ibu. Saya masih sering menyaksikan proses kura – kura kawin, koala beranak, telur burung yang menetas, hingga unta yang kesulitan mengeluarkan anak dari perutnya. Buat saya, sama saja belajar mengenal sesama makhluk hidup—selayaknya mengenal manusia. bahwa di dunia binatang, ada makhluk hidup yang memiliki kehidupan tak jauh berbeda dengan manusia, sejak lahir, saat remaja, hingga menjelang ajal. Bahkan dalam berkelakuan, binatang dan manusia, hampir sama pada titik tertentu. ya, kan?

**

Beberapa waktu lalu, saya menjadi salah satu fasilitator di kegiatan jejaring kantor yang diadakan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat. Saya bertemu banyak orang baru dengan masing – masing latar belakang kegiatan sehari – harinya. Dari sekian banyak, yang paling berkesan adalah mengenal Benediktus. Pemuda seumuran saya yang berasal dari Ruteng. dengan organisasinya, JPIC-OFM (Justice, Peace, and Integration of Creation-Ordo Fratrum Minorum), harus menempuh kurang lebih empat jam perjalanan ke lokasi kegiatan. Dua jam lebih lama dari saya yang berangkat dari Jakarta. Bersama 3 rekannya, mereka kompak mengenakan pakaian yang sama selama acara.

“perkenalkan, nama saya benediktus” bukanya kepada peserta. “biasa dipanggil, Tus. Maksudnya, ‘Tetap Untung Seratus’” kurang ajar dalam hati saya. Saya selalu takjub dengan orang – orang yang baru mengenal dengan orang lain lalu bisa bercanda selempeng itu. buat saya itu muskil.

Di Ruteng, Tus tergabung dalam komunitas yang mana ia didaulat jadi ketua kelompoknya, yaitu P3K (Pemuda Penjaga Penyelamat Kampung). P3K memiliki kegiatan penanaman kayu di Ruteng guna menjaga dan mengelola sumber mata air secara berkelanjutan. Pasalnya, Ruteng (juga NTT) adalah daerah dengan suhu cukup tinggi, sehingga daerahnya terlihat kering dan kurang air. Tus mengajak rekan – rekan sejawatnya untuk menanam pohon, ia membuat program satu rumah satu pohon yang pada Oktober 2017 beres dilaksanakan.

“sa (saya) percaya saja kalau penanaman pohon di masa sekarang, yang menikmatinya anak cucu kita nanti” katanya pada saya. Pernyataannya cukup retoris. Tapi, tidak ada yang lebih baik dari itu. ia melakukannya dengan segala gunjingan yang ia dapatkan dari rekan – rekannya.  Sesaat, saya seperti Andy F. Noya yang sedang mewawancari narasumber penyelamat kampung dengan rutinitasnya. “teman – teman saya selalu ngomong, ‘untuk apalah kau ini nanam – nanam segala. Ke Jakarta sudah.’ Di daerah saya banyak tanah yang kosong karena ditinggal penghuninya merantau. Saya tetap mau di sini, untuk anak cucu saya nanti, toh” tukasnya membuat saya kaget.

Setelah lulus, Tus langsung giat dengan kegiatannya di wilayahnya. Lestarikan lingkungan, lingkungan, lingkungan. “tiap minggu, kami sosialisasi ke jemaat gereja utk menjaga hutan. Belum lama, kami menanam kayu babel, meni’i, beringin.” Serunya saat ia presentasi kegiatannya. Saya mencoba untuk mengosongkan pikiran saya mendengar cerita Tus. Saya sadar, saat itu saya menciptakan jarak dengan Tus. Jarak yang muncul karena saya hampir tidak percaya dengan pernyataan klise.

Sebagai pekerja komuter, saya mendengar jargon – jargon menjaga lingkungan hanyalah basa basi iseng yang dilakukan remaja sambil menyeruput kopi di kedai. Secara terus menerus saya menganggapnya sebagai sebuah pola yang klise. Saya merasa hampir mustahil membicarakan kelestarian alam di kota (Jakarta). Kita tidak mungkin berteriak save earth kepada daerah lain sementara polusi paling tinggi terjadi di ibukota.

Tapi, dari Tus, saya melihat antitesis saya di Jakarta. Kegiatan Tus mustahil saya lakukan di ibukota, selain tak ada lahan terbuka, Jakarta selalu membuat niat baik saya hilang, bahkan sejak dalam pikiran. Pada Tus saya melihat kegigihan pada tiap ucapannya. Ia bergerak dalam sunyi, dari dalam, untuk masa depan.

**

Yuval Noah Harari menuliskan kalau sapiens adalah makhluk hidup yang gagal menyesuaikan diri. Sapiens baikan diktator negara boneka. Sapiens dianggap sebagai perusak rantai makanan karena lompatan spektakuler dari tengah ke puncak melewati hiu dan singa yang perlu jutaan tahun hingga mencapai posisi atas. Tapi, manusia ujug – ujug hadir dengan ketakutan dan kecemasan mengenai posisinya lantas menjadikan kita (ya, mungkin saya termasuk) dua kali lipat lebih kejam dan berbahaya. Malapetaka dalam sejarah, dari perang yang mematikan sampai bencana ekologis terjadi karena manusia.

Rob, Steve, dan Tus membantah antitesis Yuval. Mereka menjadikan manusia bukanlah kaum elite yang sinis. Mereka tidak termasuk dalam sapiens yang dimaksudkan Yuval. Binatang dan lingkungan dipahami sebagai elemen substansif dari semesta. Mereka yang tidak terjebak pada mitos konsumerisme romantik a la saya—yang menghidupkan jarak mendengar kisah Tus. Pada mereka, saya belajar senyata – nyatanya manusia adalah bagian dari alam. terpisah buntung, tersatukan untung.

Tus membereskan kertas catatannya, “sekian pemaparan dari saya, ada masukan atau pemasukan?” tutupnya nyengir.

 

 

 

 

 

 

 

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s