#1

Aku akan mulai menuliskan sesuatu sebagai bentuk apologi atau sekadar menghidupkan imaji atas peristiwa – peristiwa yang menurutku sentimentil. Entah akan berapa lama aku sanggup menuliskannya. kalimatnya mungkin tidak terlalu rapi. yang tersusun pun tidak bisa disanggah oleh orang lain, sekalipun kalimat tanya. Sebab semua kebetulan hanya milik saya seorang.

Bagaimana caranya menghapus sesuatu yang tak pernah tertuliskan sebelumnya. Bisakah kita (aku—red) berpura – pura sebentar menjadi gila menganggap kita bersama selama beberapa waktu saja. Kita menjalani kehidupan seperti biasanya, hanya saja kita berbincang lebih intens, bercanda lebih sering, dan tentunya bersama lebih sering. Tapi, hanya ada dua hal yang akan kita lakukan kelak: berwisata dan bermalasan.

Kita akan bepergian ke manapun, tidak mesti yang sedang tren atau tidak mesti pula yang belum dijamah banyak orang. Kita akan berkendara dengan playlist usang yang kita buat semasa sekolah. mungkin kita akan coba bepergian tanpa ponsel. Kita akan buat orang lain bingung mencari kita. Tapi, tidak apa. Aku rasa sudah lama pula kita menikmati sesuatu tanpa harus memilah apa yang hendak kita berikan ke orang. Lagipula, orang tak melulu perlu tahu apa yang kita lakukan, bukan. Kita bisa saja berwisata seharian dari satu toko es krim ke toko es krim lainnya, dari Woody’s sampai Cold Stone. kita akan berbincang tentang mimpi bersama: mengunjungi pasar malam, melihat aksi tong setan yang suaranya memekakkan telinga, memelihara anak beruang, bercocok tanam di halaman depan rumah. kita juga akan berdebat tentang apakah perlu mencampur nasi ke dalam semangkuk soto atau tidak, apakah jempol tukang ketoprak mempengaruhi rasa makanan, apakah mandi sekali sehari bukan hal yang terlalu penting dibahas, apakah penting menanyakan kegiatan pasangan tiap saat. Tak lupa, kita akan menutupnya dengan menertawakan kebodohan orang lain, atau membicarakan tingkah laku bos yang tidak keruan, atau menyumpahi rekan kerja yang besar bicara. kita pulang dengan mukaku kusam, rambutku sudah tak berbentuk, alismu tak lagi tebal, bibirmu kering hingga keesokan pagi kita terbangun dengan suara serak, sulit menelan, dan mengulang hal yang kita lakukan kemarin.

Di hari lain, kita hanya akan bermalasan. Pagar rumah adalah batas teritori kita saat itu. mungkin lebih sempit lagi, pintu rumah atau pintu kamar atau bahkan kasur. Pokoknya kita akan lebih sering berselonjor daripada berdiri. Kita saling menyuruh siapa yang hendak memasak air untuk membuat teh. Kita akan saling menunjuk siapa yang akan membukakan pintu jika ada tamu. Kita akan buat kesepakatan, siapa yang lebih dulu keluar batas, dialah yang akan melakukan kegiatan lainnya. Kita akan sama – sama bertanya, kenapa masih ada perang selagi manusia masih bisa bermalas – malasan? Tapi, kita sepakat, hari itu memang hari kita tak melakukan apa – apa. kita akan sama – sama belajar dan menyadari bahwa kita sama – sama telah berubah, mungkin menggemuk, mengerut, atau mungkin juga lebih kelelahan, tapi kita tahu bahwa ada banyak hal yang mengubah hidup kita belakangan.

Lantas, kejadian besar terjadi. kita bertengkar hebat. kemudian tidak ada yang saling mengalah. Kamu meminta mengakhiri. “begitu lebih baik” katamu terakhir.

Aku terhenti.

Menyadari.

Memang semuanya tak pernah terjadi.  

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s