Masihkah Kita di Jalan Yang Sama?

Mendengarkan kembali lagu – lagu lawas membuat saya memanggil ulang memori – memori pada momen – momen terdahulu. Saya kerap kali melakukan asosiasi – asosiasi tiap mendengarkan sebuah lagu, semisal ketika mendengar Pance Pondaag, Meriam Bellina, Dian Piesesha, dan beberapa musisi sejawat lainnya saya teringat perjalanan mudik ke kampung halaman dengan kijang doyok yang suka mogok. Ketika saya mendengarnya kembali, semacam ada kehangatan menyelimuti telinga dan hal – hal kecil menyenangkan yang sulit disampaikan.

Ketika saya sedang menuliskan ini, lagu “Buka” dari Pure Saturday mendapat gilirannya. “hei, kawan. masihkah kita ada, di jalan yang sama?” lantas menghantarkan saya pada pertemuan dengan teman – teman dari lingkaran terdekat saya saat SMA. Lagu itu seolah memanggil saya. Menggali lagi tentang kehidupan SMA, tentang kekhawatiran kami akan masa depan, tentang bahasan politik khas remaja, tentang berjudi pada hubungan orang, dan lain – lain.

Saya, Sahid, Dhany, Dika, Rendi, dan Adit didekatkan oleh toilet. Sebagai paguyuban siswa yang beseran, kami seringkali bertemu di sana.  Gaya bercandaan dan tipe perempuan yang tak jauh berbeda, mendekatkan kami berenam. Kesamaan nasib juga membuat kami makin akrab. Puncaknya pada remedial mata pelajaran eksakta. Kami sempat “melarikan diri,” pulang telat ke rumah, sambil meratapi nilai yang tak sampai standard, dan menyusun langkah jika nasib tidak berpihak pada kami ketika kenaikan kelas. Hujan saat itu seolah mendukung kami untuk semakin cirambay.

Kami berenam seringkali berbincang mengenai masa depan. Obrolan yang kemungkinan besar setiap manusia pada jenjang SMA akan membicarakannya. Ke mana kami melangkah kelak, apakah kita akan mencapai tujuan yang kami masing – masing citakan, siapa yang akan menikah lebih dulu, dan obrolan – obrolan haram yang tidak bisa saya tulis di sini.

Selepas SMA, pertemuan kami hampir pasti tidak pernah lengkap. Dua orang dari kami yang sudah menikah paling sulit diajak bertemu. Ditambah satu orang lagi masih mendalami ilmu di kampungnya Del Piero. Pada pertemuan malam itu, hanya saya, Dhany, Rendi, dan Sahid. Pancingan satu topik membawa kita ke mana saja. Bertemu dengan teman lama, memanggil memori – memori kecil saya dalam alam bawah sadar yang tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Kami masih menertawakan guru yang sama: guru yang suka ngambil kesempatan godain perempuan, sampai guru yang kami percaya memiliki kemampuan lebih mengetahui muridnya menyontek dari kaki yang menyentuh lantai. Bahagia betul rasanya mengulas kembali kekhawatiran – kekhawatiran masa silam dengan menertawakannya.

“Ren, bagaimana hidup setelah menikah?” tanya saya. Rendi dengan gaya khasnya, menjawab dengan bijak, “yah, gitu aja, Van. Jalani aja.” Kami pun tertawa. Saya, Sahid, dan Dhany kemudian memborbardir Rendi dengan pertanyaan – pertanyaan nyentil seputar kehidupan pascanikah dan memiliki anak. Kedai kopi malam itu laksana ruang kelas kami saja dengan obrolan – obrolan liar khas siswa SMA yang baru bisa berhenti ketika guru tiba. Dari Rendi, kami—paling tidak saya—mengetahui sedikit tentang berkeluarga, arisan, hidup dengan mertua, pembagian tugas dengan istri, juga tentang pembelian susu formula. Saya senyum kecil mendengar Rendi berbagi kisah sambil membatin tak menyangka, kami sudah mencapai tahapan “ini.”

Di tengah perbincangan, saya mengingat – ingat hal apa saja yang kami bicarakan saat SMA. Kini obrolan telah bergeser, hal yang pernah kami anggap sebagai topik “berat” selain politik kini hadir di depan meja. Sesuatu yang dulu hanya sempalan dari obrolan nakal kami, bahkan sempat kami kutuk karena akan “merenggut” kebebasan. Boleh jadi kami khawatir sebegitunya dengan hal yang belum pernah kita hadapi atau bahkan tak mampu kita bayangkan, tapi mengetahui bahwa obrolan kami sudah bergeser ke arah “sana” menandakan bahwa kami telah tiba. Malam itu dari obrolan, justru kami yang mengunjungi apa yang kami khawatirkan dulu.

Obrolan kami cenderung berorientasi pada masa lampau. Padahal, dari kisah Rendi menunjukkan bahwa kami bergerak, dari dulu ke hari ini. Kekhawatiran itu usai ketika semua sudah terjadi. Malam itu saya seperti singgah saja di depan etalase masa sekolah kami. Rendi dengan petuah bijaknya, Dhany dengan candaan tidak jelasnya, dan Sahid yang masih suka memotong obrolan lawan bicara, memastikan bahwa pada malam itu kami masih ada di jalan yang sama setelah sekian lama.

Seketika pesan masuk ke ponsel Rendi, “kapan pulang?” kami mafhum. Memang betul Chairil, nasib adalah kesunyian masing – masing. Kami memutuskan untuk mengakhiri pertemuan. Entah kapan kami bisa bertemu kembali.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s