Tidak Ada Bianglala di Cikini

Saya berjalan dari Kantor Pos Cikini sampai Taman Ismail Marzuki. Pendar lampu listrik berbaur dengan cahaya – cahaya bulan. Di bagian yang tak berlampu, cahaya bulan melapisi malam, menjadikannya kekuningan. Cahaya yang terpantul dari kaca – kaca kedai mengesankan kesunyian. Saya melangkahkan kaki pada tiap cahaya yang jatuh ke jalanan. Saat itu saya merasa hidup sedang berhenti di trotoar.

Belakangan saya sadari kalau salah satu upaya melepas penat adalah dengan berjalan. Dalam limbur kesunyian, telinga saya dapat dengan cermat menangkap suara – suara malam. Adzan bersautan, klakson kendaraan balap – balapan, malam itu kepenatan menjelma menjadi ratapan – ratapan, membenamkan kegembiraan. Di kejauhan, saya mendengar bocah yang berteriak pada pria yang berjaket gelap di seberangnya, “pak, aku mau naik bianglala dong” katanya sambil melompat pada papan engklek yang tergambar di jalanan.

Sambil menatap layar ponselnya, sang bapak menjawab dengan santai “mana ada di sini.” Si bocah pun tak melanjutkan keinginannya. Saya melewati keduanya sambil menerawang daerah mana yang sedang disinggahi pasar malam. Langkah demi langkah saya isi dengan

mengulas kembali sudut – sudut di Cikini. Mencari tanah – tanah lapang yang kemungkinan bisa digunakan untuk membuat pasar malam. Tiga tahun lebih berkelindan di sekitaran Cikini, saya tak pernah mencari bianglala. Tapi, pertanyaan sang anak pada bapak membuat saya semakin penasaran, “apa benar tidak ada bianglala di Cikini?”

***

Saya suka sekali ketika orang lain bertanya pada saya tentang buku apa yang sedang saya baca. Pertanyaan yang sederhana tapi menenangkan ketimbang pertanyaan usang semacam, “kapan kawin?” “sudah lulus?” “kok gendutan?” dan pertanyaan tengik lain yang mengganggu hati. Menanyakan buku yang dibaca jauh dari persoalan personal dan menurut saya adalah satu hal subtil yang bisa membuat saya berpikir kembali kapan terakhir saya membaca, dan apa yang bisa saya ambil dari apa yang telah saya baca.

Buku – buku, sekalipun fiksi, ia menghidupkan imaji tentang segala sesuatu yang bahkan belum pernah saya datangi atau bayangkan sebelumnya. Terlebih lagi, saya bisa mendapatkan makna atau membuat saya mengucap “oh iya, ya.” Salah duanya ialah buku yang bercerita tentang perbukitan. Tanpa harus mengeluarkan keringat, buku tentang bukit cukup membuat saya kelelahan karena alur cerita yang seperti menonjok pikiran – pikiran saya.

Dari Kaki Bukit Cibalak, Ahmad Tohari menjelaskan kisah Pambudi yang sedang dikucilkan oleh sesama warga Tanggir. Semua bermula dari perbedaan pendapat antara pak lurah dengan anaknya. Dari perbedaan pendapat tersebut, Pambudi harus menerima konsekuensi, terasing dan terpinggirkan. Pergolakan batin ayah pambudi agar tak dibenci oleh pak lurah adalah dengan meminta anaknya. Menganut paham Jawa, wani ngalah luhur wekasane—berani mengalah menjadikan kita luhur pada akhirnya,” Pambudi pergi dari desanya untuk melanjutkan kuliah.

Di kaki bukit Cibalak, saya terbelalak mendengar kisah intrik dan guna – guna, serta sekelumit kisah yang menghampiri Pambudi, membuat saya berpikir bahwa hidup di pedesaan tak lantas menjamin bahwa keteduhan atau ketenangan akan melemburi kita.

Sementara, dari atas bukit, Kuntowijoyo memberikan khotbah tentang kisah Barman yang berlibur ke gunung bersama seorang gadis muda. Dengan menumpang pada kuda putihnya, sepanjang perjalanan Barman menemukan makna perjalanan, terlebih semenjak bertemu Humam. Kepada Barman, Humam memberikan siasat pada Barman agar menjadi diri yang tak terbelenggu dengan cara melepaskan diri dari segala bentuk kepemilikan karena semua di dunia ini sejatinya bukan milik kita.

Di atas bukit, saya belajar menghargai setiap ciptaan, bahwa dalam tiap kekurangan pun sesungguhnya saya menemukan keberlimpahan. Ketika saya mengkhawatirkan segala yang kita miliki, maka saya akan sulit menikmati hidup yang sejati.

***

Seraya saya mengingat daerah mana yang sekiranya terdapat bianglala, saya sadar bahwa sang anak tidak lagi menagih bapaknya mencarikan bianglala, melainkan ia terus bermain engklek, menikmatinya sampai kakinya tak kuat lagi melompat.

Mendekati tujuan akhir perjalanan, saya hentikan bayang – bayang saya tentang bianglala. Membenamkan keinginan menemukan bianglala sekitar Cikini yang sebetulnya tak saya perlukan. Entah kenapa saya juga harus repot – repot mencarinya padahal tak saya butuhkan dan anak pun belum tentu membutuhkan informasi yang saya miliki tentang bianglala.

Hal lain yang saya khawatirkan di kemudian hari ialah saya tidak bisa bertingkah baik yang berasal dari buku – buku yang telah saya baca, terlebih saya telah tuliskan. Saya khawatir jika saya gagal memaknai apa yang dituliskan Ahmad Tohari dan Kuntowijoyo. kepemilikan selayaknya naik bukit yang bertujuan. Ia adalah sebuah kesalahan sebab kepemilikan adalah awal dari belenggu diri. Konsep wani ngalah luhur wekasane membuka jalan untuk meyakini bahwa hidup seperti air yang mengalir dari suatu tempat sebelum akhirnya beralih rupa menjadi wujud lain.

Melepaskan tentang apa yang saya pikirkan atas posisi bianglala adalah upaya saya untuk menyederhanakan keinginan, mengelola ekspektasi. Meskipun hal itu dapat membuat saya tenang sesaat

Sesampai di rumah, saya masih terpikir kenapa saya harus memikirkan bianglala. Padahal, anak dan bapak mungkin tidak membutuhkannya. Saya telentang, ibu saya menggariskan koin kuning ke punggung saya, sambil mengerok, beliau bilang “mbok ojo ngoyo. Ngalir wae.” Barangkali dengan begitu hidup saya dapat lebih sederhana dengan meringkas harapan. Mungkin.

Menjelang terlelap, saya mengamini bahwa tidak ada bianglala di Cikini.

 

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s