Yang Tak Pernah Terbalas

Wajahku masih berminyak saat pesanmu tiba, “bagaimana jika pada akhirnya kita tersadar bahwa kita berbeda?” tulismu. Tanganku gemetar, pipiku kebas, kududuki ujung dipan sambil menatap layar ponsel. Mencintaimu selayaknya terlibat dalam judi pinggiran bersama supir – supir angkot. Nampak seru, namun kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bentakan, sindiran, sampai digrebek polisi bisa membuat tekad mencari uang hilang di bawah kartu gaple. Aku mungkin terlalu naif menerawang masa depan, menentukan ke mana kita melangkah, namun pada akhirnya kita tak bisa mengelabui nasib.

Kukira kamu paham bahwa aku bukanlah orang yang ideal, bukan pula orang yang bisa mengajarkan hal yang sekiranya bertentangan dengan norma banyak orang. Aku hanyalah perigi kering yang berada di pojokan desa dengan katrol yang berkarat dan karet yang hampir putus. Hampir tidak berguna. Namun, aku tetap berharap musim penghujan atau ludah warga sekitar akan membuat ember kembali mengambang dan peternakan nyamuk diam – diam muncul ketimbang menjadi tempat keramat untuk menakuti anak – anak.

Lima menit berlalu, aku sibuk menerawang langit – langit, mengingat – ingat perilaku yang kuperbuat. “kok?” jawabku heran. Tak juga beranjak dari dipan, sementara minyak di wajah sudah menyerupai keringat kuli fiber optik. “ya, bagaimana jika?” balasmu cepat menegaskan.

Mengapa kita seringkali dihadapkan pada bayangan – bayangan yang memberatkan pikiran? Aku tahu kalau kehendak manusia ialah berpikir, namun jika itu tak turut membuat kita bahagia, lantas untuk apa kita berlelah – lelah menembusnya? Tidak bisakah kita hidup santai seperti kegiatan pria di usia senja, dengan sarung dan kaos kutang menemani rutinitas keseharian: pagi minum kopi, siang tidur, sore dorong cucu di lapangan bulutangkis yang catnya sudah pudar.

Kita sudah sama – sama lelah dengan drama perkantoran yang tak pernah usai, sikut – sikutan, mulut – mulut yang tak bisa dibungkam untuk perundungan, berebut muka, kecemberuan kelas menengah ngehek yang memuakkan. Maka sudah semestinya kita tak perlu cemas dengan andai – andai yang tak bernilai. Sebab, kita tidak akan ada bedanya dengan tetangga yang rungsing dengan pertanyaan – pertanyaan klise semacam, “kok masih sendiri?” “sudah lulus belum?” “kapan nikah?” “kapan punya anak?” “gak mau tambah anak?” “berapa petak sawahmu?” pertanyaan – pertanyaan demikian jika dijawab tidak akan pernah memuaskan yang bertanya, malah amat menjemukkan bagi yang menjawab.

Aku mafhum bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Ia adalah rahmat. Sekalipun perbedaan itu muncul karena selera musik, waktu berangkat kerja, minum pakai sedotan atau dikokop, cara makan soto dengan nasi dipisah atau dicampur, atau perbedaan kita memaknai pasangan. “Aku rasa perbedaan adalah hal yang tak bisa kita hindari. Tapi, kenapa kamu masih bertanya?” kuhapus lagi pesanku.

Aku ingin. Aku ingin dicintai seperti ibu yang diam – diam memasukkan kornet ke dalam adonan perkedel yang membuat gurih dan mengenyangkan. Aku ingin dicintai selayaknya supir angkot yang senantiasa menunggu kendaraannya penuh. Aku ingin dicintai seperti kamu menikmati seruputan pertamamu pada teh tawar hangat setelah pulang kerja. Aku ingin dicintai seperti pandanganmu terhadap asap mie rebus dengan potongan cabai hijau di meja. Mata yang berbinar, yang terlihat seperti baru saja menemukan kelapa muda hijau ketika sedang mendaki.

Aku bangun dari dipan, aku menyeka muka. Pagi menjelang aku sadar tidak akan ada akhir itu, sebab kita tak pernah memulai.

Kendati demikian, jika hari itu tiba, aku berharap ada celah bagi kita untuk benar-benar bicara tanpa jadi kikuk atau cemas akan sesuatu yang tak—pernah—ada.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s