Pengalaman Berwisata

Di sela – sela libur panjang pascapemilu, saya diajak untuk mencicipi moda transportasi baru di Jakarta, MRT (Mass Rapid Transportation). Sebetulnya, wacana untuk nyobain MRT ini saya tahan – tahan sampai setidaknya satu tahun beroperasi. Alasannya cukup teknis: belum “terdeteksinya” kesalahan – kesalahan dan masih ramai orang yang “nyoba.” Dalam setahun, saya rasa dua pertimbangan itu akan terjawab sehingga saya tidak begitu repot memikirkan risiko—meskipun ia bisa datang kapan saja.

Dengan hawa ayam pop Surya masih tercium, saya dituntun Eka menuruni tangga stasiun Bendungan Hilir selayaknya orang yang kaget dengan sesuatu yang baru. Terdapat restoran cepat saji, mini market, dan etalase – etalase yang belum jadi. Saya langsung mengantre di barisan pembelian tiket, seorang ibu membalikkan badannya, “anaknya mana, mas?” saya tersenyum mendengarnya, “mumpung liburan, mas, ajak anak – anak ke sini” lanjutnya tidak puas

Sampai di peron, makin dipenuhi dengan orang – orang. Umumnya keluarga, teman sebaya, dan sedikit sepasang kekasih. Anak – anak heboh mendengar bunyi gemuruh tanda kereta datang, sementara ayah dan ibunya merekam tingkah laku anaknya dan mengirimnya ke grup whatsapp keluarga. Sekelompok remaja dengan rekan sebayanya sibuk berswafoto, dan sepasang kekasih nampak malu – malu mengekspresikan pengalamannya. Libur panjang adalah waktu yang tepat menggunakan transportasi ini dari pangkal hingga ujung stasiun.

Saya melihat mereka—demikian juga saya—menggunakan moda transportasi MRT sebagai pengalaman berwisata karena jika dilihat rutinitas kesehariannya mungkin mereka (paling tidak, saya) tak menggunakan moda transportasi ini.

Kereta datang.

***

Pemilu 2019 memang sudah berlalu, tapi obrolannya terus singgah dalam obrolan warung kopi atau resto – resto dengan beragam argumentasinya. Pemilu sejatinya hanyalah sekrup dari demokrasi yang bisa kita nikmati dalam kaitannya dengan hak – hak kita sebagai warga negara. Di luar pemilu, ada banyak hal yang semestinya bisa kita bicarakan tanpa harus repot – repot memikirkan siapa penguasa negeri ini. Kebebasan dalam berekspresi, kebebasan dalam berkeyakinan adalah beberapa dari sekian banyak elemen yang menjadi tolok ukur kita dalam menjalani kehidupan berdemokrasi. Namun, apa daya, konstruksi “menang dan kalah” pemilu menjadikan peristiwa lima tahunan ini menjadi hitam dan putih saja.

Pemilu melahirkan ahli politik dadakan yang analisisnya melebihi dari pengamat politik di jagat raya. Kita bisa temukan polarisasi warga negara karena pilihan presiden hanya (dibuat) dua calon. Sudah begitu, sejatinya keduanya hanya bertarung dalam pemilu namun berkoalisi pada ranah lainnya. Tak heran jika usainya pemilu melahirkan pertentangan antar keyakinan dari masing – masing pendukung. Mereka saling menjunjung tinggi junjungannya yang dianggap seperti Mesiah yang mampu menyelesaikan banyak persoalan di kolong langit. Barangkali ini yang menyebabkan, selepas junjungannya terpilih, maka selesailah urusan.

Karena pemilu, saya belajar diam. Tidak sedikit dari teman – teman saya di media sosial yang kerap mengunggah informasi untuk meyakinkan pilihannya, juga orang lain untuk memilih calon yang diusungnya. Tidak sedikit pula dari teman – teman saya yang menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya. Saya pun seringkali “gatal” ingin mengomentari unggahannya, namun enggan demi menjaga hubungan kami yang jauh dari konflik. Meskipun di sisi lain, saya salah juga mendiamkannya larut dalam kesalahan.

Bagaimana kita bisa begitu taklid terhadap ketetapan yang sengaja dibuat, padahal setelahnya kita akan menjadi biasa saja.

***

Pengalaman menggunakan MRT berbeda dengan commuterline atau pun transjakarta, sepanjang jalan saya hanya bisa melihat tembok berwarna abu – abu. Namun, bagi keluarga yang bertempat tinggal jauh dari moda transportasi ini menganggap kecepatan dan ketepatan waktu adalah eksotisme tersendiri. Mereka mungkin tidak menyangka moda transportasi wong londo ini hadir di ibukota yang tidak pernah selesai dengan urusan jalanan dan birokrasi.

Riuh rendah anak – anak dalam MRT adalah pengalaman berwisata saya. anak – anak bisa begitu mudah menyatu dengan anak lainnya yang baru mereka temui. Memiliki pengalaman berwisata yang sama mungkin menjadi alasan yang menyatukan mereka. Sedangkan, melihat mereka adalah kehangatan yang bisa saya kembali saya dapat setelah teman – teman sebaya saya ribut sendiri soal junjungannya. Dari situ saya bertanya, kenapa kita tidak berpikir pemilu sebagai pengalaman berwisata?

Selayaknya pengalaman berwisata, ia hanya singgah sekejap dalam ruang imaji kita yang membuat kita bergairah sejenak untuk menikmatinya. Sampai pada titik tertentu kita selesai dengan hasrat itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Begitu juga pada perdebatan mengenai pemilu, jika memang para pendukung salah satu paslon percaya bahwa siapa pun pemimpinnya mereka akan berjuang untuk kebaikan negara, mengapa mereka lebih memilih untuk bermusuhan ketimbang bergandengan.

Bukankah kita pernah melewati masa anak – anak yang saya lihat di dalam MRT? Bertegur sapa, bermain, dan menikmati eksotisme bersama tanpa harus ribut mana yang lebih baik antara commuterline, MRT, atau transjakarta?

Pada anak – anak yang—tak saling kenal—berlarian di dalam MRT, saya berpikir mungkin saat ini yang kita butuhkan adalah percakapan kecil yang mendekatkan, bukan pandangan tentang sesuatu yang besar namun menjauhkan. Atau jangan – jangan memang Tuhan menitipkan pesan pada anak – anak, sebab mereka tahu lebih tahu cara bertindak sementara orang dewasa hanya bisa membentak.

Kereta tiba di tujuan akhir.

post-scriptum:

ditulis di sebuah kedai kopi sambil mendengarkan Berwisata – The Adams

 

 

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s