Kita Pernah Sama-Sama

Kita pernah sama-sama tidak bicara selama beberapa waktu. Kita percaya bahwa diam adalah cara terbaik meredam amarah. Meskipun sebelum benar-benar redam, kita harus melewati fase kelam: murung dan muram. Kita tahu itu sulit. Paling tidak dengan diam, kesempatan melakukan kesalahan hilang dan pertengkaran akan usai dengan sendirinya—meski tidak usai-usai amat. Lalu kita kembali pada situasi yang biasa saja, tertawa dan mempertanyakan mengapa kelahi menjadi seperti hobi.

Kita sama-sama sadar kalau tidak ada yang baru bagi segala peristiwa yang terjadi di kolong langit. Laku bajik maupun degil hanyalah keberulangan. Kita berulang kali merasakan keberhasilan dan kegagalan yang sama dengan sedikit modifikasi lalu menjadi biasa kembali. Begitu seterusnya sampai Banda Neira kembali rujuk. Lama-lama kita memilih menyederhanakan sesuatu, daripada evaluasi. “ah, sudahlah nanti reda sendiri” katamu suatu waktu. “iya, paling tidak lama” jawabku mengamini.

Kita sama-sama merasa hubungan kembali sumbang. Ada yang janggal padahal semua sudah kita siapkan. “kalau tanda-tanda begini, berarti kita harus begitu.” Katamu siaga. “betul” tugasku lagi-lagi hanya mengamini saja. Kita sama-sama mencoba biasa saja sebisa mungkin. Kita nampak baik, namum membusuk dari dalam.

Kita sama-sama menganggap bahwa mengecoh nasib adalah upaya menyelamatkan hubungan. Tapi kita juga sama-sama tahu upaya mengelabui nasib adalah perbuatan paling mubazir. Kita menganggap nasib adalah kejadian tunggal yang menemui jalan buntu. Tapi, ia muncul di tiap pengkolan jalan. Ia bisa muncul dalam bentuk jalan berlubang, kemacetan, atau polisi tidur, ialah nasib kita.

Kita pun akhirnya sama-sama ingat bahwa dalam sebuah hubungan ada perasaan manusia yang kerap sulit dikendalikan. Freud mungkin mengatakannya sebagai superego, tapi persetan dengan Freud, kita lebih memilih kata “menang sendiri” atau “tidak peka.” Kita saling menatap, menahan kedipan mata, kembali berlomba meninggikan suara. Kita mengemas kebencian dengan demikian rupa. Mencoba biasa saja, tapi tidak bisa. Kita bagai kutipan novel teenlit yang sering menuliskan kalimat klise “kita pernah sedekat nadi, kini sejauh matahari.”

Kita sama-sama saling mempercayai informasi yang membenarkan apa yang hendak kita percayai, cenderung menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai, dan kerap menolak data yang menentang sesuatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran. Kita sama-sama luput bahwa bias konfirmasi adalah seteru paling keji dalam komunikasi. Kita saling mengutuk. Saling melempar kata terbaiknya. Kita seperti berlomba yang lebih dulu menangis, maka dialah yang meminta maaf. Meski kita sudah sama-sama rusak, maaf hanya menjadi urusan gengsi semata.  Barangkali memang benar bahwa mereka yang kita sayangi yang paling mampu melukai.

Kita mungkin perlu mawas diri. Kita perlu mengambil jarak, melihat apa yang telah kita lakukan, lalu menyadari bahwa kita salah melakukannya. Metakognisi barangkali akan membawa kita pada lakon yang baru. Mungkin kita tidak kembali bersama, tapi paling tidak kita sudah sama-sama berusaha.

 

3 thoughts on “Kita Pernah Sama-Sama

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s