Berbicara Kelebihan

Saya selalu takjub ketika berbincang dengan seseorang yang bisa menceritakan perjalanan diri menyusun cita-citanya. Terlebih jika penjelasannya runut, dari sini, ingin ke situ, dari A, B, C, dan seterusnya. Saya membayangkan mudahnya rencana tersebut berjalan seolah tak ada hambatan selama ia merencanakan dan mewujudkannya. Ini bukan bentuk kedengkian, tapi memang saya selalu berpikir bagaimana caranya bisa menyusun garis hidup serunut dan seyakin itu? ketakjuban saya berangkat dari diri saya sendiri yang kerap kali gagal menyusun cita-cita atau bahkan mungkin bingung tentang yang saya cita-citakan.

Beberapa kali saya sering terpelatuk ketika mendengar ocehan bahwa tiap orang harus memiliki cita-cita. Cita-cita—yang mereka maksud—tidak jauh dari upaya memaksimalkan kelebihan yang dimiliki. Kelebihan yang bisa jadi berasal dari bakat atau latihan yang keras. Dari kelebihan tersebut, banyak orang menyusun harapan dan langkah untuk sampai pada satu titik yang tiap orang cita-citakan. Ini mungkin sesederhana pertanyaan masa kecil, seperti “kalau besar mau jadi apa?” jawabannya pun beragam, dokter, insinyur, dan profesi yang dikembangkan media lainnya. Jika memang demikian, kelebihan saya adalah berhasil gagal sejak kecil.

Seingat saya, pertanyaan klasik masa kecil itu tidak pernah saya jawab secara konkret. Ada kalanya saya jawab insinyur, ada kalanya saya jawab orang baik. Untuk yang pertama saya sudah merasa tidak akan terwujud sejak sekolah. Saya melihat fisika dan matematika kok seperti batu besar yang mengganjal harapan. Betul, ketika saya paksakan (kuliah teknik) alhasil saya sendiri yang mundur. Daripada begitu lulus saya hanya menjadi tukang gunting pita atas peresmian jembatan, mending lebih baik saya cari jalan lain.

Jalan lain pun tidak sepenuhnya mulus (menjadi orang baik—red). Entahlah saya dapat dari mana pilihan ini. Padahal dengan profesi apapun, setiap orang diwajibkan menjadi baik. “orang baik” mungkin hanya menjadi tujuan buat orang-orang seperti saya yang sejak awal tidak punya tujuan. Beberapa kali bertanya dengan orang, diminta untuk mencari kelebihan yang ada dalam diri. Saya ubek-ubek melalui kontemplasi ataupun meditasi pun tidak juga menemukan satu tujuan yang murni. Ndilalah, saya menemukannya ketika saya buang air. Saat itu saya menyadari bahwa kelebihan saya adalah kelebihan berpikir alias overthinking.

Bagi saya ini sebuah anugerah, tidak semua orang pandai atau bahkan mau melakukannya. Overthinking membawa saya ke banyak hal: kebahagiaan, kecemasan, dan ketakutan. Banyak kejadian yang sudah terjadi lebih dulu di kepala saya sebelum benar-benar terjadi. Kadang membuat lelah, kadang menikmatinya. Saya betul-betul menikmatinya jika yang ada dalam bayangan saya, terjadi di dunia nyata. Rasa puas tetiba hinggap sekalipun yang terjadi mungkin tidak baik bagi saya.

Tulisan ini mungkin salah satu jalan menumpahkan pikiran saya yang kelebihan ini. Belakangan, saya merasa tidak berdaya, tidak terlalu penting keberadaannya, dan malas berbicara dengan orang lain. Mungkin disebabkan beberapa hal seperti mengetahui hal yang kita anggap baik namun nyatanya busuk. Menyadari bahwa hal-hal di sekitar yang terjadi di luar bayangan yang ternyata cukup menyakitkan.

Kelebihan berpikir mungkin tidak bisa menghasilkan uang, tapi buat saya mawas diri. Saya lebih peka dengan sekitar. Saya menyadari bahwa yang kita anggap dekat, mungkin tidak sebaliknya dengan mereka. Mungkin yang kita sayangi, ternyata mudah melukai. Mungkin yang dicita-citakan tak pernah terjadi karena berhenti di pikiran. Mungkin yang semestinya kembali, tidak akan terwujud karena berhenti dalam doa saat sujud. Mungkin yang sejatinya diharapkan tak tercapai karena berakhir pada rapalan-rapalan. Mungkin ini berlebihan, mungkin juga tidak. Mungkin saya harus menghilangkan kebiasaan ini, mungkin juga tidak. tapi, jika kelebihan ini saya hilangkan, lantas apa lagi yang bisa saya lakukan untuk menggapai cita-cita saya?

 

Jakarta, 3 September 2019

 

 

 

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s