Platonik

Kalau saja aku diizinkan untuk mengikuti sebuah pelatihan, aku ingin ikut kursus bersitatap. Nampaknya, ini menjadi problem terbesarku yang baru kupahami sejak kita bertemu. Pada tiap pertemuan, banyak hal yang ingin kusampaikan, berbincang sampai mulut berbusa, sampai kedai tempat biasa kita bertemu memutar ulang lagu-lagu yang sudah kita dengar dari sejak kita datang, namun begitu kamu berada di depanku, semuanya tiba-tiba berantakan. Aku kesulitan menyusun kalimat. Bahkan, lebih sering tertunduk melihat handphone ketimbang menatapmu. Seolah ada aib yang menunggangi kepalaku. Tapi, kurasa tidak ada salahnya berlaku sungkan di depan orang yang kita cintai, bukan?

Kurasa bertemu denganmu adalah cara yang paling jujur untuk mengenal diriku lebih dalam daripada harus mendaki gunung sambil orang-orang menilaiku selama perjalanan. Di depanmu aku tidak pernah absen untuk merasa canggung. Sebetulnya, aku bisa saja berpura-pura menganggapmu tidak ada agar aku bisa bersikap biasa saja, tapi tiap kali aku memulainya, perasaanku langsung mengakhirinya. Beberapa kali aku menyesali. Perasaan yang tidak perlu dan tidak penting. Tapi, apa boleh bikin. Ia seperti jerawat yang semakin ditekan justru semakin membesar. Mungkin ini nampak platonik. Tapi, demikianlah caraku menghargai keberadaanmu.

Aku tidak bisa menyampaikan sesuatu secara runut. Kadang ketika kita sedang membicarakan tentang makna-makna film yang baru kita tonton, tetiba aku bisa saja berbicara tentang budidaya timun suri di musim kemarau. Kamu pun sempat protes, sebal, sampai membenciku. Tapi, demikianlah siasatku untuk menjadi bahan obrolan di depan teman-temanmu.

Aku selalu menikmati perasaan sentimentil yang kerap muncul tiap kita bertemu. Perihal topik yang kita bicarakan mungkin tidak begitu penting, toh kita tidak sedang menyusun legal opini atau kronologi sebuah kasus. Begitu menyenangkan saat kita saling berbagi tips tentang bagaimana kita bisa tetap bertahan di suatu tempat padahal ia merusak kita perlahan, tentang kebiasaan kita sebelum tidur, tentang kebodohan teman-teman, tentang penilaian yang orang-orang sematkan pada kita, tentang bagaimana kita menertawakan hal itu semua. Obrolan-obrolan itulah yang membuat kita menang di tengah kekalahan kita dalam mengelabui nasib.

Aku menyadari bahwa aku adalah lumut di perigi kering yang tak begitu berguna malah cenderung membahayakan. Tapi, perasaanku padamu, aku kira tulus. Buatmu aku bisa saja menjadi buah kecapi yang empuk sehingga kamu tidak perlu membantingnya untuk membuka atau aku bisa menjadi jambu kelutuk untuk sekadar meledek bocah-bocah nakal pencuri buah lantas aku buat mereka mual karena sebagian buahnya telah dimakan codot. Tapi, belakangan aku tahu kamu tidak menyukainya. Kamu selalu memintaku untuk jadi diri sendiri. Permintaan yang terlampau sulit buatku.

“Apakah menjadi sesuatu yang menyenangkan bagimu bukanlah bagian dari menjadi diri sendiri?” tanyaku polos “entahlah” jawabmu singkat menggantung.

Aku berusaha untuk kembali percaya pada harapan. Meski ia telah menjatuhkanku berulang-ulang dan membuat tidurku tidak pernah tenang setiap harap yang kurapalkan. Harapan membuatku pusing memikirkan yang ada di depan, sampai lupa bahwa aku menjejaki hari ini. “tak perlu takut, harapan membuatmu hidup” pesanmu saat itu.

Aku menyadari barangkali aku terlalu congkak untuk merasa bahwa hanya aku yang bisa mencintaimu: memahami caramu membenci sesuatu, memaklumimu makan pecel lele dengan sendok, atau membuatmu tertawa sampai matamu tertutup. Aku terlalu naif bahwa memilikimu berarti semua telah selesai dan tak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Sudah semestinya aku sadar bahwa memiliki berarti bersiap untuk kehilangan. Bisa jadi di luar sana, banyak yang lebih memahamimu jauh lebih baik. Seseorang yang kuat menatapmu lama-lama, seseorang yang tidak rela kamu pergi sendirian, seseorang yang bisa mengantar jemputmu kapanpun, seseorang yang tidak berlagak memahami persoalanmu seutuhnya, seseorang yang bisa menjadi dirinya sendiri. Mungkin aku harus belajar untuk berhenti berandai-andai. Mencintaimu ternyata sedemikian melelahkan.

Aku membenci ketika tulisan sudah mau mencapai ujungnya. Kalimat-kalimat yang menurutku menggelikan terpaksa harus keluar. “tidak perlu memberi diksi baru, kalau tidak mengubah perilakumu.” katamu tiap kita kelahi. Tapi, kini lain. Kamu perlu tahu bahwa kejujuran selalu muncul di tiap kesilapan. Bisa jadi dalam bentuk metafor, analogi, atau pesan tersurat. Aku tidak akan memintamu untuk mengakui kehadiranku. Pada akhirnya, aku tahu memang menjadi diri sendiri ialah sesuatu yang muskil. Ia menjadi kegagalan terbesarku adalah tidak menjadi diri sendiri, seperti menjadi munafik, berlagak baik merelakan kepergianmu. Tapi ini mungkin paling prinsipil. Perpisahan bisa jadi cara kita untuk tidak membiakkan kebencian dan upaya paling mujarab untuk saling merawat bahagia bersama. Terima kasih.

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s