Pada Sebuah Perjumpaan

Kelak di kemudian hari kita akan bertemu dalam situasi kikuk dan penuh rasa bersalah. Kita akan sama-sama gelagapan tentang sebuah perjumpaan. Kita akan bingung memulai pembicaraan dari mana, apakah aku yang memulai dengan pertanyaan konyol dengan kata tanya, “bagaimana?” atau langsung berceracau dengan kata tanya, “mengapa?” kita sama-sama ingin memulainya dengan baik-baik namun diselimuti kegamangan yang tinggi.

Mungkin kita bisa saja memulainya dengan menerka irisan lingkaran pertemanan kita, membahas tentang kehidupan masa silam, ketakutan masa depan, tentang pekerjaan dan hal-hal sentimentil yang menunjukkan seolah kita sudah kenal sejak lama, dan berujung pada sesal mengapa kita baru saja dipertemukan. Pertemuan itu kelak akan diisi dengan pengakuan kelakuan pandir yang kita tertawakan bersama.

Aku berharap kisah itu menjadi pembuka untuk kita lebih mudah berbagi kisah tentang kemampuan kita bertahan hidup daripada hanya hanya sekadar bersitatap dan bertukar senyum semata. Aku berharap kita tidak sungkan untuk menceritakan semua yang telah terjadi. Barangkali kita perlu sedikit memodifikasi ruang seolah segala hal yang akan terjadi dalam perjumpaan itu sebuah upaya menebus kesalahan yang sebetulnya tidak pernah kita lakukan.

Kita akan membangun ruang imajiner yang bisa saja berbentuk sebuah kota yang hanya berisi taman atau sebuah desa yang sesak, tanpa polisi, militer, atau satpol PP yang sama-sama kita benci. Ruang itu tidak akan pernah bisa dimasuki oleh orang lain karena ia adalah wujud dari kealpaan kita selama sekian tahun. Ia bisa saja berada di bangku taman, di bawah selimut, bercampur dengan kuah seblak, dalam dinginnya es buah, di trotoar, di perkampungan, di kafe sudut kota, atau sebagaimana Eva Cassidy sebut, “somewhere, over the rainbow.”

Perjumpaan kita akan diisi dengan hal yang tak pernah kita duga. Selayaknya sebuah pertemuan dengan teman lama, ia semestinya berisi tentang kebahagiaan, cerita tentang kesuksesan, dan menertawakan hal-hal bodoh yang baru saja lewat. Namun, perjumpaan kita juga akan diisi kelahi. Pada satu momen tertentu, kita akan saling menyalahkan dan berlomba berebut posisi terdepan atas yang kita lakukan di masa silam. Bodoh rasanya. Kita akan saling mendaku siapa yang paling benar seperti berebut anak dan ibunya yang berebut channel televisi di rumah. Perjumpaan singkat kita semai dengan perkelahian tidak bermutu bak sepasang kekasih berselisih di kursi taman yang biasa kita tertawakan.

Aku sadar perjumpaan itu tidak akan membawa kita ke suatu masa, suatu tempat, atau suatu hal yang—barangkali—kita harapkan bersama namun tidak pernah kita ungkapkan. Kita sama-sama paham bahwa ada batas yang nyatanya kita telah bangun sejak sebelum perjumpaan itu hadir. Kita bisa saja terus berandai-andai, namun kita tahu sepandai-pandainya kita berandai-andai hal itu memang tidak akan pernah terjadi. Andai-andai kerap jadi barang mujarab manusia ketika mereka tidak kuasa memilikinya.

Kelak kita akan sama-sama berdoa agar perjumpaan itu tidak selesai begitu saja, tapi kita tahu doa saja tidak akan membawa kita ke mana-mana. Ia serupa penenang bahwa ada harap yang kita sematkan pada awan putih agar tidak menurunkan hujan. Perjumpaan itu selayaknya ujian: sejauh mana kita jujur dengan perasaan sendiri. Barangkali kita akan sama-sama paham bahwa dalam hubungan ada lebih dari satu perasaan manusia yang sulit dikendalikan. Ia bisa sewaktu-waktu membosankan, bisa pula penuh kasih sayang.

Kelak tidak akan ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita tertegun dan mafhum bahwa tiap perjumpaan pasti berakhir dengan perpisahan. Pada titik itu, mau tidak mau, kita mafhum bahwa kita hanya menunggu waktu itu tiba. Menyebalkan. tapi kadang kita tidak bisa memaksakan apa yang kita mau. Meski kita pikir itu sesuatu yang baik.

Pada kesempatan yang lain, kita berjalan pada koridor masing-masing, dan pada sebuah momen, aku berharap kita bisa bertemu lagi. Entah sebagai karib, entah sebagai partner dalam hal lainnya. entah kapan waktu itu tiba.

 tapi, terima kasih telah singgah.

 

 

Ditulis sambil mendengarkan Janis Joplin

Maybe/ Whoa, if I could ever hold your little hand/ Ooh you might understand/ Maybe, maybe, maybe, maybe, yeah…

 

2 thoughts on “Pada Sebuah Perjumpaan

  1. Baru saja beberapa waktu lalu saya pun menulis, sedikit, tentang perjumpaan. Saya pikir, ‘pathetic‘ sekali, saya bisa mentransformasi pertemuan yang mungkin tidak berarti apa-apa untuk mereka menjadi hal sentimentil, tertulis hitam di atas putih pula. Membaca tulisan ini, entah kenapa saya ingin tanpa rasa bersalah atau malu menyampaikan bahwa beruntung sekali yang menjadi inspirasi tulisan ini. Saya harap suatu hari saya bisa seberuntung dia.

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s