Kita Hanyalah Sepasang Lelucon Peradaban

Hal yang paling menyebalkan dari menunggu adalah mengetahui ketika waktunya akan atau telah tiba. Kita bisa keki, sebal, gundah, mengutuk berbagai hal, menanyakan hal yang tidak ada jawabnya: “kenapa yang begini selalu begitu?” Kita resah. Kita tahu bahwa pertanyaan itu tidak akan membawa kita kembali. Ia hanya sebagai katarsis yang tugasnya hanya membuang residu-residu emosi yang kita rasakan. Ia layaknya rasa lapar yang dijawab dengan makan bakwan. Setelah itu, kita kembali bingung dan serba salah.

Mungkin benar sudah semestinya masa depan tidak perlu kita lamat-lamat bayangkan. Alih-alih bersiap menghadapi yang akan datang, malah kita akan terjebak pada kepura-puraan– melakukan sesuatu demi tiba di sana sampai kita luput bahwa yang di depan adalah yang kita harapkan, bukan kita butuhkan. Lantas, kita akan sama-sama memaksakan hal yang semestinya tidak kita lakukan. Kita akan menjadi bodoh atas nama perasaan.

Barangkali tidak mencari tahu tentang sesuatu adalah cara terbaik untuk menjauhi gundah. Membiarkan semuanya berjalan begitu saja, tanpa ekspektasi, tanpa andai-andai, dan menganggap semua biasa saja. Mengakui apapun yang kita hadapi adalah jawaban atas rasa salah yang kita lakukan atau sebagai ujian untuk menghadapi masa depan. Atau mungkin kita bisa belajar memaklumi bahwa yang begini, (hampir) pasti begitu. Bukan menyerah. Kita hanya membuka ruang-ruang itu kelak jika suatu hari tidak sesuai dengan kenyataan. Semacam menyiapkan kegagalan supaya kita tidak terlalu tenggelam dalam kepedihan.

Masa depan memang menjadi teka teki menarik untuk kita cari tahu. Ia bisa membuat kita begitu khawatir; apakah masa depan memang jawaban dari yang kita kerjakan hari ini, atau ia berujung menjadi sebuah kesia-siaan? Ketakutan itu yang menimbulkan hasrat yang mendorong keingintahuan kita, kita menunggu, kita mencari tahu, lantas kita mengetahuinya.

Selepas itu, mungkin masa depan akan menjadi sedemikian membosankan. Ia bagai hari ini, kemarin, masa silam yang kita rasa penuh dengan cobaan dan penyesalan. Kita tidak bisa lagi berimajinasi membangun bayang-bayang bersama—meski kita tahu itu tidak akan menjadi nyata. Tapi, kurasa itu lebih baik ketimbang dalam masa tunggu kita hanya seperti sapi ternak yang menunggu waktu perah tiba atau babi yang tinggal menunggu giliran diasapi. Tidak ada lagi imaji, tidak ada lagi daftar harapan, yang tersisa hanya tenaga untuk sekadar saling sapa, bersitatap seadanya, diselingi makan dan berak.

Dalam memanfaatkan masa depan, mungkin kita perlu belajar dari dukun santet atau cenayang, ia menjadikannya komoditas. Dengan sedikit ramu-ramuan, ruangan yang redup, dan mantra yang entah munculnya dari mana, mereka dapat menebak persoalan umat manusia di masa depan. Para cenayang atau dukun santet boleh jadi membual, tapi ia sadar bahwa hidup sebetulnya begitu-begitu saja—senang, sedih, kalut, duka, remuk redam, apes, sial, rugi, untung—yang perlu mereka lakukan ialah menafsirkannya ulang. Umumnya dalam bentuk wejangan kehati-hatian. “dalam sekian tahun, Anda akan merasa sedih sekaligus senang…” memang manusia macam apa yang dalam satu tahun isinya senang saja? jika memang ada, kemungkinan ia adalah Komeng atau Adul. Tapi, kita bukanlah dia. kita adalah lelucon peradaban yang jenakanya telah lekang oleh zaman.

Jangan-jangan yang kita butuhkan ternyata bukan mengetahui masa depan, melainkan ada momen yang mengingatkan. Mungkin bukan dukun santet atau cenayang, mungkin ia mewujud dalam bentuk perasaan. Kita harus mengenali kapan kita perlu mengambil jeda untuk berhenti kasmaran, berhenti memaksakan sesuatu karena menyadari bahwa kebahagiaan bukan hanya ditafsirkan dari jalan beriringan, melainkan dalam bentuk diam namun saling mendoakan. Kita sadar doa tidak tidak akan membawa kita ke mana-mana. Ia bagai pertanyaan-pertanyaan yang kita rapalkan karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Tapi, agaknya demikian kita berdamai dengan perpisahan, ketimbang kebersamaan yang dipaksakan malah berujung merepotkan.

Menunggu sesuatu yang pasti nyatanya lebih menyebalkan ketimbang ketidakpastian. Ia membuat kikuk atas perasaan manusia yang sulit dikendalikan. Pada akhirnya, semua yang kita lakukan layaknya mencari poin-poin agar tetap hidup, namun ketika tiba waktunya ia hanya akan menjadi catatan yang lama kelamaan menguning, memudar, dan terlupakan.

fin.

ditulis sambil mendengarkan Besok Mungkin Kita Sampai – Hindia

 

One thought on “Kita Hanyalah Sepasang Lelucon Peradaban

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s