Berakhir Awalan

Awalan

Pada mulanya, saya tidak pernah percaya bahwa tahun tertentu bisa membawa petaka bagi tiap orang. “Kesialan adalah keniscayaan” yakin saya pada satu waktu. Ia tak peduli tahun anjing, ayam, babi, atau perkutut sekalipun. Kesialan atau kebahagiaan adalah bagian dari alur hidup manusia di kolong langit. Namun, sebagaimana keyakinan, ia dapat diperbarui setelah kita menemukan hal yang dapat mengubah pandangan kita. Tahun ini adalah tahun yang amat sial sudah sejak awal ia dimulai. Setidaknya inilah keyakinan saya di penghujung tahun 2019.

Kuartal Pertama

Setiap kali saya berhubungan dengan orang lain, saya berupaya untuk menjadi yang terbaik dari diri saya. Bukan untuk disikapi sebaliknya, melainkan keharusan atas materi yang saya dapat semasa sekolah dan selama saya bernafas. Saya pikir dengan berlaku sewajarnya, saya bisa menjadi manusia merdeka. Ternyata tidak juga. Merdeka belum tentu merasa damai. Mungkin saya terlalu berambisi menjadi manusia merdeka, namun luput ada variabel kedamaian di sana. Kedamaian inilah yang kelak melengkapi kemerdekaan manusia.

Ada kalanya kita bisa begitu percaya dan yakin dengan kondisi yang membuat kita nyaman, tenteram, hingga membuat kita mukhlis atas apapun yang kita lakukan. Cobaan dianggap tantangan, rutinitas menjadi keseharian yang menyenangkan, kerjaan menjadi barang yang tidak bisa ditinggalkan. Semua itu dapat senantiasa kita lakukan atas dasar kenyamanan sampai kita menemukan ada kata yang turut bergerak di dalam dan sewaktu-waktu merusak, yakni pengkhianatan.

Ada manusia yang—barangkali sejak dalam proses pembuatannya—diciptakan untuk menjadi degil, bangor, picik, atau cupet untuk orang lain selayaknya lalat yang kerap berak-beranak pinak di atas makanan. Sejak lahir keberadaannya terbuang, begitu hidup hanya menyengsarakan banyak orang. Pada kuartal pertama, karena lalat manusia semacam itulah saya menelan kegetiran.

Bagi mereka yang kedegilannya sudah built in tentu tidak perlu melihat timbangannya dalam bertindak. Bagai pengendara RX King yang menarik gas kencang tanpa perlu berpikir bunyi knalpotnya mengganggu yang lain. Sedangkan bagi saya yang baru mengetahui ada perangai semacam ini jelas terperanjat. Pada titik inilah, saya menyadari bahwa khianat hanya mustahil bagi nabi, tapi tidak pada manusia.

Kegetiran saya muncul karena saya kaget mendapati ada orang-orang semacam itu di lingkaran terdekat saya. Saya memang tidak terlalu ambil pusing. Dalam perkara yang menyangkut pribadi, saya lebih sering bersikap acuh tak acuh dan “cukup tau” bahwa orang-orang model begitu memang ada di dunia. mungkin dari pengalaman-pengalaman seperti itulah ide tentang Power Ranger atau Avenger muncul. Tapi, saya bukan Thor atau Iron Man. Tidak ada beban di pundak untuk menjawab persoalan seperti pengkhianatan agar diselesaikan dengan segera. Saya cukup membawa petuah dari Pak Sobary. Ia mengatakan perlawanan terbaik bukanlah menyerang balik, melainkan menahan diri, tidak melawan, supaya tidak menjadi sentimental. Dari situ kita akan terlatih memahami bahwa pengkhianatan itu bagian hidup yang harus dihadapi, tapi bukan dengan hati.

Menahan diri bukan berarti tidak bersikap. Menarik diri dari sumber konflik, menjauhi orang yang berpotensi membawa keruwetan, apalagi terhadap orang-orang yang terbukti dan berulang menimbulkan keruwetan dalam hidup tanpa menyadarinya. Kalau sudah ngalah masih juga diusik, kita harus ngalih, menjauh, menarik diri, jangan di situ-situ lagi, jangan dekati orang yang suka bikin ribut tadi agar kita tak merangsang selera kezalimannya lebih lanjut.

Kuartal Kedua

Pernahkah kau yakin pada sesuatu yang kau cintai sampai kau tidak punya waktu untuk berpikir bahwa yang paling kau cintai adalah yang paling bisa menyakiti? Semacam menikmati hujan turun namun lupa bahwa hujan juga menjadi penyebab 18 orang meninggal dunia, 40 ribu orang mengungsi dan 1.000-an rumah rusak, belum terhitung infrastuktur lain.

Kalau dipikir lamat-lamat juga siapa yang hendak repot-repot dalam bahagianya harus menyiapkan pula sengsaranya secara berbarengan? Kebahagiaan bagi sebagian orang—termasuk saya—bagai nyawa tambahan yang membuat orang bisa lebih lama lagi bertahan hidup. Syahdan, kasmaran lebih sering membuat kita lupa akan sebuah konsekuensi, yakni kehilangan dan perpisahan.

Kehilangan sudah barang tentu melelahkan. Ia mak deg sekaligus mak tratap yang membuat kita bisa keringat dingin dan mimpi buruk acapkali serupa ditabrak truk yang melintas. Kukira kita sepakat bahwa tidak perlu adu benar dalam perpisahan. Kita akui saja bahwa kita terlalu mangkel dengan situasi yang menghimpit keberadaan. Selama ini sebetulnya kita hanya berdebat dalam mencari kemungkinan, padahal tiap kemungkinan adalah ketidakpastian. Pada akhirnya, kita hanya bisa menyematkan ucapan selamat tinggal sambil merapalkan kalimat mutakhir bahwa waktu yang menyembuhkan.

Barangkali kelak kita akan terbiasa dengan kehilangan. Kita tidak perlu lagi membangun sekat antara realita dan ekspektasi karena kita mafhum bahwa konsekuensi mencintai adalalah saling membenci. mengasihi bukan karena kita saling mencintai, melainkan karena kita khawatir dengan kehilangan. Kita akan melakukan apa saja, tanpa cela, supaya terus bersama, saling memiliki, sampai saling menghabisi. Nyatanya, kita memang sepasang lelucon peradaban yang menempel pada roda sepeda tua yang perlahan rapuh juga, namun masih juga kita minta bertahan. Pada karat roda tua, saya memahami kehilangan.

Kuartal Ketiga

Ada banyak sudut yang jika saya lihat seperti sedang melihat saya yang kemarin. Berada di suatu tempat dengan seseorang, tertawa terkekeh-kekeh sampai lupa waktu, menyusun rencana diam-diam, dan meributkan hal yang remeh, seperti potongan rawit dalam mie rebus. Saya menganggapnya sebagai perusak rasa, sedangkan kamu keras kepala bahwa keberadaannya semakin menambah nikmat. Katamu mie tidak bisa dicampur dengan nasi. Selain tidak elok juga membikin gendut. Peduli setan kataku. Orang bisa melakukan apa saja karena kelaparan, melakukan pembegalan misalnya. “bagaimana nasib kuli proyek yang belum makan sedari pagi, tapi mengetahui warung langganannya tutup? Ia mungkin mencampur mie dengan nasi untuk menahan kenyang sampai larut” tegasku.

Ketegasanku berlebihan. Percakapan itu tidak ada. Kita hanya berhenti sampai perdebatan rawit dalam mie rebus, selebihnya hanya bualan belaka. Itu hanya pembenaranku bahwa aku pernah berada di sana. Di tempat yang kita sematkan menjadi tempat keramat. Tidak boleh ada yang mengetahui selain kita, tuhan dan hantu yang ada di sekitar situ. Tapi, itu dulu kini sudah tidak lagi. Kini hanya ada sebongkah besi yang biasa kita duduki, masih basah karena hujan, dan saya yang melihatnya dari kejauhan.

Semestinya bagian ini saya tulis dengan penuh senda gurau, bukan melulu kemuraman. Kesendirian bukanlah barang kodian yang harus dijejalkan ke sana kemari. Ia sudah semestinya dihadapi biasa saja karena imbas perpisahan adalah kesendirian. Saya meyakini kalau kita telah menertawai atas kesialan yang pernah kita hadapi menjadi tanda kalau kita sudah berhasil melewatinya. Tapi, jika tidak mungkin saya belum berhasil atau seburuk-buruknya suka meromantisir keadaan—yang jelas tidak ada gunanya. Barangkali saya memang diciptakan untuk sengaja menerima penderitaan, menginternalisasi penderitaan sampai penderitaan itu menjadi biasa saja. mungkin.

Kuartal Keempat

Konsekuensi logis atas yang terjadi pada tiga kuartal sebelumnya adalah kecemasan. Ia tumbuh bagai tanaman rambat yang menjalar dari dalam, ke dinding rumah, bahkan sampai mengganggu rumah tetangga. Kecemasan menggerogoti isi hati dan kepala karena selama tiga kuartal tidak belajar, menyadari, mengulangi, menyesali kesalahan. Saya merasa lebih bodoh dari keledai yang sebetulnya tidak benar-benar bodoh. Kegelisahan kerap menyelimuti yang rasanya seperti memukul diri sendiri. Kadang saya berpikir ini tulah atau bahkan santet. Saya tak pernah menyangka, saya dipertemukan dengan orang yang lebih banyak membuat cela. Meski ada segelintir orang yang kehadirannya seolah sebagai jawaban atas kegetiran selama tiga kuartal. Tapi, rasa-rasanya belum cukup.

Saya seperti pejalan yang menunduk, memunguti residu kegetiran sepanjang tahun, mengutuki tiap kelakuan orang dalam hati. Terkadang saya coba mengalihkan energinya ke arah positif. Saya membayangkan seperti anak panah yang sedang ditarik ke belakang untuk kemudian melaju cepat setelah lepas. Namun, selalu ada perkara yang masuk dari celah-celah itu semisal jika memang saya anak panah, ia bisa saja berbelok karena angin yang terlalu besar atau menusuk orang yang ada di depan. Barangkali ini nasib terbaik dari kegetiran yang saya pelihara sepanjang tahun.

Akhiran

Dengan segala kekecewaannya, 2019 segera berakhir. Kendati demikian, bagai mengelap abu rokok yang menempel di lantai, ia akan tetap membekas di sela-sela keramik, mengering, menjadi debu, membuat batuk pada suatu waktu. Saya akan dihadapkan pada pilihan-pilihan, mengganti keramik, pindah kamar, atau membersihkan kamar saya secara rutin.

Roda akan terus berputar. Tahun demi tahun saya mungkin akan bertemu lagi dengan lalat atau karat dalam roda sepeda, orang baik yang mengutamakan kedengkian, atau orang yang seolah hidupnya hanya untuk kecewa dan marah. Sementara, saya—mengutip Pak Sobary—berusaha untuk tidak merontokkan bunga-bunga, sebab merusaknya sama saja merusak kehidupan.

Barangkali saya harus memposisikan seperti musafir yang menunduk, mengingat apa yang membuat saya sadar bahwa di Jakarta yang sumpek dan ruwet secara fisik dan rohaniah, bisa berlangsung tanpa ketulusan. Mungkin yang telah terjadi di depan mata belum terlihat semuanya sebab banyak yang belum—terlalu—jelas dalam hidup (saya). fin.

 

 

post-scriptum:

saya tidak akan mengucapkan terima kasih pada tahun 2019.

2019 ini tahun yang bikin dada saya tipis karena kebanyakan dielus.
Bangsat betul.

Setidaknya ini keyakinan saya di penghujung tahun ini.

 

Ditulis bersamaan dengan mendengarkan:
Nocturne in C-sharp minor, Op. posth. – Chopin

 

One thought on “Berakhir Awalan

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s