Yang Sempat Tersimpan dan Terlewatkan

Kita mungkin tidak bisa memilih untuk tidak menangis karena hal yang membuat kita telah jauh. Kita mungkin saja sudah cukup dewasa bahwa memang ada hal-hal yang tidak bisa kita hindari untuk membuat kita berubah merespons sesuatu. Meskipun, kelak kita sadar, kita sama-sama melakukan salah. Perasaan kadang sedemikian merepotkan seperti anak kucing yang kerap mengeong minta main, tapi kita tahu bahwa ia rentan terhadap penyakit. Begitupun perasaan yang kadang seperti bencana.

Pada waktu yang telah berlalu, kita menyadari bahwa perasaan memang tak bisa dibendung. Perasaan bukanlah virus yang pada masanya akan sembuh atau hilang dengan sendirinya. Ia lebih tepat seperti kotoran dalam perut yang kau keluarkan setelah berjam-jam kau tahan, lalu esok harinya kau akan merasakan hal yang sama, berulang sampai kau mati. Tak peduli sedewasa dan setua apa dirimu, perasaan akan datang tiba-tiba seperti bencana yang membuahkan sesal.

Perasaan serupa nasib yang kau perjuangkan dengan nekad. Sementara, kau lebih mudah menyerah atas perintah yang sebetulnya membuatmu rendah dan hilang arah, seperti tuna yang dipancing telur lalu tertipu kail, seperti sekumpulan domba yang menyerahkan lehernya dijagal.

“aku banyak kehilangan.” katamu

Aku terlalu sedih untuk kembali mengingat tentang jarak yang kita bangun sendiri. Membuat hari-hari kita menjadi penuh kepura-puraan belaka. Membuat tawa yang kita buat seolah menandakan baik-baik saja. Padahal, sebetulnya kita hampa. Sementara, jauh dalam perasaan kita ingin kembali seperti sedia kala.

Namun, aku terlalu lega untuk mengetahui bahwa kita hanya perlu saling mengakui ketimbang menyalahi atas apa yang telah kita lewati. Kendati banyak kesempatan yang terbuang, namun aku rasa kita telah dewasa untuk sama-sama mengetahui bahwa kesalahan tak semestinya saling menyalahkan. Kita hanya perlu diam dan sama-sama mengalihkan perasaan itu menjadi kebahagiaan yang kita bangun sendiri.

Rasa-rasanya, saya ingin banyak berterima kasih pada pihak yang telah memasukkan kata “semestinya” dalam glosarium bahasa Indonesia. “Semestinya” menjadi juru selamat setelah kita menjalani hari-hari lalu dengan diam, keangkuhan, dan kebencian. Ia memang berlaku setelah segala peristiwa di kolong langit terjadi. namun, jika diucapkan, setengah penasaran kita akan terjawab kendati tidak mengubah yang pernah berlalu. Setengahnya lagi, kata itu membukakan jalan atas kemungkinan-kemungkinan yang dapat kita lakukan, semisal saling memaafkan dan memperbaiki hubungan kita ke depan.

Mari kita buka kemungkinan itu satu per satu. Pernahkah kau mencintai seseorang tapi tidak pernah kau ungkapkan? Lantas, kau akan banyak salah tingkah karena perasaan yang kau pendam dalam-dalam. Kau sadar itu adalah hal yang mungkin bagimu kau lakukan, namun kau kadung bertekad bahwa segalanya tidak bisa kau ungkapkan. Alhasil, kau tidak pernah selesai oleh dirimu sendiri. Hingga kelak tiba waktunya, perasaan itu mewujud menjadi nyata yang membuat kepalamu makin pening.

Tapi, satu sisi kau pun sadar saat ia menjadi nyata kau bertaruh oleh ruang dan waktu yang kian menyempit. Kau berdalih kau hanya menebus utang yang belum kau tunaikan. Padahal, sejatinya ia bukanlah utang. Ia memang kewajiban yang sudah barang tentu kau harus selesaikan. Kau akan bersumpah bahwa semestinya kau tidak begini dan begitu di masa lalu. Kau bagai periuk kosong yang berisi sesal, rasa bersalah, perasaan bersalah dan matang dengan tangis yang selalu muncul dari sudut matamu. Kau, juga aku, menjadi tolol atas nama perasaan. Dalam ruang dan waktu yang sempit, kau pun akan berdebat dengan dirimu sendiri. Apakah perasaan itu jujur atau hanya rasa iba atas kesalahan yang pernah kau buat? ah, sudah. Itu menjadi urusanmu.

Urusanku adalah memastikan bahwa aku tidak ingin membebanimu dengan perasaan-perasaanku. Aku juga tidak menuntutmu untuk mengakui keberadaanku, atau bahkan mungkin tidak perlu mempedulikan perasaanku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa bicara itu membebaskan dan mengungkapkan perasaan itu melegakan.

 

 

3 thoughts on “Yang Sempat Tersimpan dan Terlewatkan

Leave a Reply to tidak perlu tahu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s