Perihal Harapan Kecil

Kelak ketika kau bangun dari tidurmu, kau akan gembira begitu saja. Mungkin rasanya seperti mengetahui ada namamu di spanduk kelulusan yang dipasang di pagar sekolah. sebuah perasaan yang bisa jadi kembali hadir setelah sepuluh tahun lebih pernah mampir padamu. Tidak ada beban menggelayut bagai tuyul yang menggenapkan mitos anak SD. Maka, bisa kupastikan sisa hari yang kau jalani akan ringan, kau akan lebih sering berjanji, dan menyenangkan banyak orang.

Setelah kau cuci muka, kau akan kembali ke kasur, menjatuhkan badanmu seperti pemain baseball, menendangkan kakimu ke segala arah sampai sepraimu jatuh ke bawah. Kau lantas terhenti dan tersenyum mengingat muasal kegembiraanmu. Kau terawang mulai dari minggu lalu, kau berjalan di pasar menemukan bahan masakan dengan harga murah dari supermarket, hari berikutnya kau berkendara sambil melihat penjual tanaman di pinggir jalan yang warna rumput tekinya menggugah seleramu, kau juga mengingat bahwa ayam geprek kesukaanmu ternyata menjadi penyebab diaremu selama beberapa hari belakang. Kau mulai tertawa kecil.

Aku juga begitu. Aku sudah tidak ingat kapan terakhir kali terbangun dalam sukaria. Malah begitu muncul, aku lebih merasa heran. Kok bisa? Aku mengingat menu makan semalam. Rasanya biasa saja, kerang hijau, kepiting rebus, dan teh tawar hangat untuk netralisir kolesterol. Hari sebelumnya pun tidak ada yang istimewa. Hanya saja aku lebih beruntung karena dapat duduk di bis kota yang biasanya ramai bukan kepalang. Atau mungkin tiga hari lalu, aku lupa bayar sepiring nasi goreng. Tidak juga, itu hal yang hampir sering terjadi.

Namun, pelan-pelan kita menyadari bahwa yang menghidupkan hari ini ialah harapan-harapan kecil. Ia mungkin tidak tersusun dalam resolusi awal tahun, tapi terjaga rapi dalam tiap langkah yang kita jejaki sehari-hari. Harapan-harapan kecil dapat mewujud dalam bentuk perasaan yang kita pendam bertahun-tahun atau tentang kejujuran yang kau sia-siakan.

Harapan-harapan kecil itulah yang memberi kita nyawa seiring beban hidup yang kerap kita sembunyikan. Seketika terwujud, maka akan ada pesta kembang api di pagi hari. Di sekelilingnya ada pedagang bakso, soto betawi, atau kwetiaw rebus yang kehadirannya seolah tahu bahwa kita akan menghabiskan sisa uang kita di situ. Kita kelahi sebentar perihal siapa yang lebih dulu membayar, aku tidak punya cash, kau ada tapi kau ingin membeli kebutuhan lainnya. Sementara, kita semakin lapar.

Pada hari-hari itu, kita menjadi seolah menjadi pendekar yang dengan mudahnya mengalahkan begundal. Meski kita tidak punya pedang atau senjata lainnya, kita hanya percaya pada hari-hari yang kita jalani akan membawa kita pada kemenangan kecil atas kesalahan-kesalahan di masa silam. Kita sama-sama menunggu pada sebuah waktu yang tepat kita bersitatap dan berbincang banyak hal. Tentang musim semi yang hanya berisi angin, tentang musim panas yang lebih sering turun hujan. “climate change!” katamu. “tidak. yang benar climate crisis.” Sahutku tak mau kalah. “krisis iklim itu lebih luas lagi. Global warming, perubahan iklim, dan dampak yang ditimbulkannya.”

Ya, kita juga tetap saling berbincang tentang rupa-rupa kehidupan, seperti tukang ojek yang kaget mendengar klakson tronton, menyeka gincumu yang kelewat dari bibir, lalu kau memukul tanganku. “biar aku saja. ini cukup dengan bibir.” Di hari itu, kau lebih banyak bicara, sedikit maaf, dan lepas. Kau sering berkelakar bahwa pertemuan kita memang semestinya tidak digunakan untuk mengingat masa silam, melainkan menjadi bahan tertawaan yang kita anggap sebagai kebodohan yang sempat kita lewati. Bahwa setiap ingatan yang menetap, hanya akan membawa pada penyesalan yang menghabiskan banyak waktu. Sudah benar jika kita alihkan menjadi wadah kelakar untuk memapas kekecewaan, kemarahan, kebencian, keegoisan, dan kekhilafan masa silam.

Kutaruh kembali kisah ini di dalam guling. Jika kau terlalu angkuh untuk merindu, sesekali kau boleh memeluknya sebelum tidur atau memukulnya jika kau kesal rindumu makin pekat sementara kau tahu bahwa waktu yang kau miliki sangatlah singkat. Sebab, kau adalah keteledoran yang maha kukuh. Aku mungkin beberapa kali terselip. Jika demikian, aku ingin kau mencintaiku lagi.

Kisah kita mungkin tidak sempurna. Barangkali ini kutukan atau sumpah serapah orang-orang. Tapi, bukan soal. Kita masih bisa mengupayakan hari-hari esok kembali seperti melihat pengumuman di pagar sekolah. kita masih bisa menghadirkan kebahagiaan dengan sejumlah perbincangan serius hingga remeh temeh yang  membuat kita menikmati kehidupan selayaknya kawan lama.

 

anotasi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s